Menu

1 Menit itu, Menampar Kebodohanku (2)

  Dibaca : 336 kali
1 Menit itu, Menampar Kebodohanku (2)
Ibu Motiah dipapah putranya, Hambali Rasidi, sat dirawat di RSUD dr Moh. Anwar Sumenep. (Foto/Dok. Keluarga)

Catatan: Hambali Rasidi*

Kondisi ibu yang lemas di ruang ICU, saya sempatkan tanya ke dokter soal hasil lab. Si dokter menjelaskan ada gejala fungsi ginjal yang menurun. Jantung juga bermasalah. Liver juga. Lalu dokter tanya obat apa yang sering dikonsumsi ibu selama mengidap penyakit diabetes.

Sepuluh tahun lalu, saban bulan ibu rajin kontrol kesehatan. dr Herlambang, Kertasada, Kalianget jadi pilihan ibu. Saat itu, dr Herlambang sempat manggil saya dan menasihati agar menjaga kesehatan ibu. Kata dr Herlambang, efek penderita diabetes akan terasa 10 tahun kemudian. Organ-organ tubuh akan ikut terdampak dari efek penyakit diabetes jika tidak bisa mencegah.

Pertanyaan dokter ICU mengingatkan pesan dr Herlambang. Lalu saya kembali dekati ibu dan mencium keningnya.

Saya keluar ICU, adik Zam yang gantikan. Lalu saya pulang ke rumah untuk tidur. Sebelum tidur, saya nangis dalam-dalam dan minta petunjuk Allah SWT apa yang akan terjadi  pada ibu. Bersyukur, dalam tidur, ibu datang dan berpesan; bha’na mon nyapot sengko’ kelto’agi ka kopeng tello kale (kamu kalau ke saya bacakan sesuatu dekat telinga sebanyak tiga kali, red.). Juga sampaikan permintaan maaf ke ayahmu.

BACA JUGA: Kabar Duka: Ibunda Pemred Mata Madura Berpulang ke Rahmatullah

Bangun tidur saya langsung sampaikan ke ayah. Dan saya coba cari terjemahan makna kelto’ ka kopeng tello kale. Tanpa disangka saya nemukan terjemahan bebas kurang lebih begini: secara tradisi orang Sumenep, orang yang akan mengembuskan napas terakhir, biasanya dituntun dengan kalimat tauhid yang didekatkan ke telinganya. Kalau itu benar, penyakit ibumu sekarang bisa yang terakhir dan akan dibawa mati.

Saya lupa cari makna tello kale. Saya baru sadar setelah merenung kebodohan saya beberapa jam pasca ibu wafat. Saya baru ngeh tiga hari sejak bermimpi, ibu mengembuskan napas terakhir.

Setelah mimpi itu, saya merasakan sesuatu dan berkesimpulan penyakit ibu lebih parah dari kali pertama sakit yang dirawat di RSU Asembagus, Situbondo. Waktu di Asembagus, ibu sempat koma. Kata dokter, itu akibat kadar hemoglobin (HB) ibu di angka 4.  Dari kacamata medis, normal HB untuk wanita sehat 12-16 gr/dl. Organ lain tidak bermasalah. Hanya kadar HB yang rendah.

Celakanya, RSU Asembagus tidak punya stok darah untuk transfusi. Perawat hanya nyarankan keluarga pasien untuk ambil sendiri kebutuhan darah untuk transfusi ke PMI Situbondo. Ayah bingung antara ambil darah ke Situbondo dan ninggalin ibu. Jarak tempuh sekitar 2 jam PP. Lain jika suruh nunggu. Bisa 3-4 jam.

BACA JUGA: 1 Menit itu, Menampar Kebodohanku (1)

Imraatul, adik saya tak mungkin disuruh ke Situbondo sendirian malam hari. Saya masih perjalanan dari Surabaya. Sekitar enam jam kemudian baru tiba di Asembagus.

Sebelumnya, Zam dari Sapudi telepon sambil nangis ngabari ibu yang sedang koma. Beruntung saya baru selesai pertemuan dengan Pak Dhimam Abror, mantan Pemred Jawa Pos di Surabaya.

Pikiran dan hati berkecamuk. Panik. Di tengah jalan, telepon terus berdering. Adik Imraatul terus tanya kapan tiba di Asembagus. Maklum, ibu sudah tak sadarkan diri. Keluarga di Sapudi tak bisa langsung ke Asembagus karena sudah malam. Tak ada jadwal kapal ke Situbondo. Keesokan hari baru ada perahu mesin ke Situbondo.

Jelang Subuh saya baru sampai. Anehnya, ibu sadar dan ulurkan tangannya. Lalu saya sungkem. Tapi, tangan saya ditarik ke pipinya. Ayah dan adik nangis. Beberapa menit kemudian adzan Subuh. Saya shalat Subuh di kamar ibu. Usai shalat, saya ‘melihat’ alm KH Fawaid As’ad jenguk ibu. Saat itu, kebodohan saya mulai dipertontonkan. Apa yang dihaturkan alm KH Fawaid tidak bisa saya pahami. Saya hanya sampaikan ke ibu bahwa alm KH Fawaid ‘datang’. Ibu menjawab, “taoan (kok bisa, red.),”.

Dua hari sebelum koma itu, ibu baru tiba di Ponpes Sukorejo, Asembagus, Situbondo. Waktu itu, dalam kondisi kurang sehat, ibu masih bersemangat datang ke acara Maulud di Ponpes Sukorejo. Ghirah untuk ke Sukorejo, ibu ingin menemui Imraatul, adik bungsu saya-kebetulan kuliah dan mondok di Sukorejo. Selain ibu juga rindu ketemu dengan Nyai Makkiyah dan Nyai Issa’, teman akrab ibu waktu mondok dulu di Sukorejo.

Bersambung…

* Jurnalis asal Sapudi, putra Ibu Hj. Motiah, tinggal di Sumenep daratan.

KOMENTAR

1 Komentar

Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional