Menu

1 Menit itu, Menampar Kebodohanku (3)

  Dibaca : 712 kali
1 Menit itu, Menampar Kebodohanku (3)
Nyai Hj Makkiyah As'ad Syamsul Arifin (depan) bersama alm. Hj Motiah. (Foto/Dok. Keluarga)
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi*

Keakraban ibu dengan Nyai Makkiyah As’ad selalu disampaikan ke para alumni ketika diundang para wali santri ke Sapudi. Di luar jadwal kunjungan yang dibuat panitia, Nyai Makkiyah minta antar ke asistennya untuk menemui ibu. Karuan saja, jadwal yang sudah tertata rapi berantakan karena kunjungan Nyai Makkiyah di luar protokol.

Kedekatan ibu dengan dua putri KH As’ad Syamsul Arifin, diakui banyak santri putri. Saking dekatnya, ibu jadi saksi sejarah proses Nyai Makkiyah yang akan kawin dengan KH  Mudhar, Pamekasan.

Saat mondok, ibu sempat didaulat sebagai ustadzah. Para santriwati asal Kangean jika ketemu orang yang kenal sama ibu, pasti nitip salam dengan sebutan Ustadzah Motiah.

Selain akrab dengan dua putri KH As’ad, ibu juga akrab dengan Nyai Zainab, isteri kedua alm KH As’ad Syamsul Arifin. Ummi KH Kolil As’ad ini akrab dengan ibu sewaktu mondok. Nyai Zainab menjadi ketua kamar ibu. Keakaraban dengan ummi KH Kholil ditampakkan ketika ada tamu asal Sapudi yang sowan ke dhalem Nyai Zainab. Beliau nitip salam ke ibu. Salam tersebut selalu disampaikan ke ibu. Sebagian penerima pesan itu, heran dan bertanya. Ada hubungan apa hingga ummi KH Kholil As’ad bisa nitip salam ke ibu Motiah.

Memang, secara dzahir ibu bukan siapa-siapa. Tak punya santri. Juga bukan tokoh perempuan yang selalu tampil di setiap pengajian di tengah masyarakat Sapudi. Jika pertanyaan itu muncul, ibu hanya bilang; yang ngerti Allah bukan manusia.

BACA JUGA: Kabar Duka: Ibunda Pemred Mata Madura Berpulang ke Rahmatullah

Kedekatan ibu ke putri KH As’ad, mengantarkan ibu lebih punya banyak waktu mengasuh KH Fawaid As’ad. Ibu mengaku senang jika diberi kesempatan menggendong KH Fawaid yang masih anak-anak.

Saking dekatnya ibu ke Nyai Makkiyah dan Nyai Issa’, para santri banyak yang nyebut ketiganya satu paket.

Kehidupan ibu di pesantren berakhir. Ibu suruh pulang. Beberapa hari berikutnya, kakek Muallim wafat usai wudlu’ yang hendak shalat dzuhur.

Beberapa hari berikutnya, ibu kawin dengan ayah. Jadi ibu rumah tangga sambil bantu nenek Musamma jaga toko sembako yang dirintis kakek Muallim.

Ayah seorang guru di bawah naungan Kemenag. Ayah dan ibu tidak buka lembaga pendidikan. Waktu  tahun 1975-anak ngerti ngaji al-Quran dan baca tulis bahasa Indonesia-sudah tergolong anak pintar.

BACA JUGA: 1 Menit itu, Menampar Kebodohanku (1)  | 1 Menit itu, Menampar Kebodohanku (2)

Sementara, kakak ibu sudah lebih dulu dirikan langgar tempat anak-anak belajar ngaji al-Quran. Mushalla itu peninggalan paman nenek. Sedangkan saudara kakek Mualllim memilih ke perkumpulan tarekat. Sepupu kakek Muallim-ayah KH Murtadla, tokoh agama di Sapudi, seorang mursyid salah satu tarekat. Jelang wafat, para santrinya dikumpulkan untuk membaca sesuatu yang diajarkan. Belum selesai bacaan itu, sang mursyid wafat di tengah-tengah santri.

KH Hasyim Asy’ari, kakek dari jalur ayah, juga lama mendirikan langgar tempat anak-anak belajar ngaji al-Quran. Beberapa tahun berikutnya, berdiri lembaga diniyah.

Sewaktu remaja, saya selalu diajak kakek Hasyim Asy’ari ke keluarga besarnya di Dusun Brambang, Kalianget. Di tempat itu, banyak orang memanggil kakek dengan sebutan paman. Ada yang manggil dengan panggilan kakak. Sepulang dari Brambang, kakek nyodorkan silsilah keluarga yang bertaut langsung ke Nyai Mariatul Qibtiyah, ke Kiai Daud, ke Nyai Tenggina, putra Kiai Ali Brambang. “Ah…silsilah itu hanya dokumen keluarga,” gumam dalam hati.

Bagi saya, keturunan  seorang mursyid dan waliyullah tak menjamin semua keturunannya jadi orang baik. Saya teringat Kan’an, putra Nabi Nuh dan Wa’ilah,isteri Nabi Luth yang ingkar lalu masuk neraka. Sementara, Asiyah, isteri Fira’un, seorang raja yang ngaku Tuhan-dijamin masuk surga.

Kisah ini memberi pelajaran bahwa hidayah atau petunjuk Allah SWT tidak ada perlakuan khusus. Semua hamba Allah punya kesempatan yang sama. Hanya saja, hidayah Allah itu masih domain-Nya. Kita sebagai hamba-Nya tak punya hak untuk memilih.

Bersambung…

* Jurnalis asal Sapudi, putra Ibu Hj. Motiah, tinggal di Sumenep daratan.

Link Banner
Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional