5 Keunggulan Khofifah Menuju Jatim Satu

Oleh : Surokim As *
Oleh: Surokim As*

Peluang Khofifah Indar Parawansa untuk memenangkan Pilkada Jawa Timur 2018 masih tetap terbuka lebar. Kendati butuh kerja ekstra keras mengingat lawan yang dihadapi adalah pasangan patahana yang juga kuat, Namun dibanding pasangan lawan Khofifah memiliki beberapa kelebihan, yaitu:

Pertama, Khofifah memiliki modal dukungan suara yang relatif permanen yaitu dari Fatayat-Muslimat NU yang jumlahnya bisa setara dengan jumlah pemilih Muhammadiyah di Jawa Timur (7-8%). Suara ini relatif sulit untuk direbut lawan karena ada faktor fanatisme dan sejarah kontestasi masa lalu.

Kedua, dari wilayah budaya Jawa Timur, Khofifah memiliki basis pemilih yang fanatik di wilayah pantura yang jika tracking melalui berbagai survey, angka elektabilitas Khofifah relatif stabil dan leading jika dibanding calon lain.

Ketiga, Khofifah juga memiliki modal kultural yang juga kuat yaitu ikatan batin dengan para kiai kampung yang tersebar di Jawa Timur, baik di wilayah pandalungan maupun arek, yang telah dua kali dijaga dan dipelihara dalam mengikuti konstelasi Pilkada Jatim.

Keempat, Khofifah memiliki daya saing pada isu perubahan dan akselerasi mengingat selama ini ia dikenal sebagai menteri yang berhasil dengan kinerja baik di tingkat nasional.

Terakhir, Khofifah juga punya keuntungan dekat dan sebagai pembantu Presiden Jokowi, yang jika itu bisa dimaksimalkan akan bisa menambah vote elektoralnya di Pilgub Jawa Timur, khususnya di daerah mataraman dan arek.

Sekarang tinggal bagaimana dukungan mesin partai dan calon yang dipasangkan kepada Khofifah bisa menyumbang suara yang signifikan. Mesin partai koalisi jika berjalan normal dan sumbangan cawagub Khofifah bisa menyumbang suara yang signifikan, maka Khofifah akan punya peluang besar memenangkan kontes Pilkada Jatim 2018.

Patut pula diingat bahwa angka shing voters dan angka undecided voters dalam Pilkada Jatim masih relatif tinggi mencapai 67%. Artinya suara itu masih liar dan masih bisa diperebutkan hingga hari H nanti. Diperlukan usaha yang ekstra keras mengingat jumlah pemilih rasional, khususnya dari pemilih milenial generasi y dan z jumlahnya cukup besar (48%) dan mayoritas yang bisa menjadi penentu hasil Pilkada Jatim. Kandidat yang bisa mengenal, mengidentifikasi kebutuhan dan perlakuan politik generasi milenial ini, akan punya peluang besar memenangkan kontes Pilkada Jatim.

Jika pasangan cawagub Khofifah bisa dengan latar nasionalis yang kuat, apalagi memiliki basis massa fanatik di wilayah mataraman dan arek, maka peluang Khofifah untuk bisa menang relatif terjaga, mengingat secara kultural politik Jatim itu ideal calon pemimpin dengan latar dari kalangan nahdliyin dan nasionalis.

*Dosen Komunikasi Politik Fisib UTM Bangkalan.

Tinggalkan Balasan