Afifah Purizatul Jannah, Melambung Bersama Prestasi

Afifah Purizatul Jannah, mahasiswi STAIN Pameksan; Peraih Top 10 Duta Bahasa Jatim 2017. (Foto Afifah for Mata Madura)
Afifah Purizatul Jannah, mahasiswi STAIN Pameksan; Peraih Top 10 Duta Bahasa Jatim 2017.
(Foto Afifah for Mata Madura)

MataMaduraNews.comPAMEKASAN – Afifah Purizatul Jannah merupakan perempuan kelahiran Pamekasan, 17 Maret 1995. Artinya, tahun ini ia baru berumur 22 tahun. Namun siapa sangka, prestasinya seperti air mengalir menghanyutkan namanya se-Jawa Timur dengan arus yang begitu cepat. Tak ayal, mata dan telinga serasa terbuka jika tak mengenal perempuan yang biasa dipanggil Afifah tersebut.

Meski penuh prestasi, perempuan yang sedang duduk di bangku kuliah itu tidaklah lahir dan tumbuh berkembang di daerah kota yang secara akal sehat akan lebih mudah untuk mengembangkan diri. Justru, ia tinggal di pinggiran kota tepatnya Desa Pagendingan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan.

Sayang, Afifah enggan menyebutkan secara rinci prestasi-prestasi yang sudah pernah digapainya. Walaupun, capaian bunga desa itu sudah menjadi rahasia publik. Teman-teman dekat atau pun tidak, sudah mengetahuinya dan namanya kerap menjadi buah bibir.

”Duta Wisata Kacong Cebbhing Pamekasan 2011, Tour Guide, IRARI Jatim 2011, PPI Jatim,” sebutnya, 09 Agustus lalu.

Prestasi terakhirnya, Afifah dinobatkan sebagai Top 10 Duta Bahasa Jatim 2017. Selain itu, jangan heran pula jika mata seakan tidak asing melihat foto yang terpampang di beberapa banner kampus STAIN Pamekasan di sepanjang gedung-gedung kampus. Sebab, gadis 22 tahun itu menjadi mahasiswi pilihan yang dijadikan sosialisasi performa yang sesuai kode etik mahasiswa STAIN Pamekasan untuk kaum Hawa.

Kerudung besar yang selalu dipakainya dan postur tinggi seperti model adalah penanda fisik yang mudah untuk dikenali. Ia juga memiliki wajah yang tergolong lumayan bisa menarik perhatian. Tapi bukan hanya secara fisik, ia juga memiliki kepribadian yang santun dan tidak urakan.

”Saya bukan cowok,” ungkap mahasiswi semester VII Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan tersebut, saat ditanya mengapa memilih berkerudung.

Sebenarnya ada makna tersimpan dalam ungkapannya. Ia ingin menyampaikan aurat laki-laki dan perempuan berbeda. Ditambah lagi, secara tingkah laku seorang perempuan juga akan lebih lembut ketimbang laki-laki pada umumnya.

| syahid

Tinggalkan Balasan