Antara Gus Dur dan KH Hammad al-Karawi (1)

Oleh: Moh. Rais Yusuf*

Gus dur-KH HammadBismillahirrahmanirrohim

Sungguh tidak  mudah tulisan ini untuk disuratkan. Perlu waktu lama, berhari–hari, bahkan berbulan–bulan untuk berfikir antara menulis atau tidak. Karena penulis yakin, publikasi tulisan ini adalah salah satu yang kurang berkenan bagi beliau, khusunya Allahummaghfirlahu KH. Hammad. Bahkan penulis juga merasa hal ini menjadi salah satu kekurang etisan (cangkolang– bahasa Madura ) penulis kepada beliau.

Namun besarnya rasa rindu hati penulis kepada beliau, dengan keterbatasan ilmu penulis memutuskan untuk menulis dan dipublikasikan. Harapan dengan menulis, mungkin rasa rindu hati penulis kepada beliau berdua sedikit bisa terobati. Beliau berdua telah tiada, berpulang ke Rahmatullah. Mungkin itu menjadi pilihan beliau berdua dengan penuh ridho untuk cepat bertemu dengan Sang Kekasihnya, sebagaimana terjadi pada wali–waliNya terdahulu.

KH Hammad Al Karawi

Sebenarnya nama Al Karawi dibelakang nama KH Hammad hanya sebagai penegasan penulis kalau beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren yang ada di Desa Ketawang Karay, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep.    Al Karawi bukan sebuah gelar dan bukan pula sebuah marga. Bahkan beliaupun tidak pernah memasang istilah Al Karawi itu dibelakang nama beliau.

Dari sisi nasab antara penulis dan KH. Hammad mempunyai hubungan darah lebih–lebih dari jalur istri beliau. Namun penulis lebih menghormat beliau sebagai seorang guru dari pada seorang kerabat sebagaimana penulis berikrar walau penulis tidak pernah nyantri langsung kepada beliau.

Menurut penulis, sebagai manusia biasa sisi nasab kurang memberikan nilai plus kepada pertalian nasab. Tetapi pada sisi antara guru dan murid, antara santri dan sang kiai akan memberikan nilai lebih yang sangat besar dan berharga. Tentu hal ini akan ada pada murid dan santri yang “sami’na wa atho’na“  kepada guru dan kiai-nya.

Melihat sosok KH Hammad, orang pasti akan menilai kalau beliau orang yang berwibawa, penuh rasa sopan santun dan belas asih serta penuh karomah. Beliau begitu hormat kepada siapapun lebih–lebih kepada orang yang belum/baru beliau kenal.

Bukti satu diantara banyak kekaromahan beliau kasat mata membuktikan, dimana tidak kurang 50 orang setiap harinya datang untuk  “nyabis” (sillaturrohim). Mereka yang nyabis berasal dari berbagai lapisan. Ada dari kalangan alumni, wali santri, masyarakat sekitar dan luar kota, tokoh, bahkan pejabat.

Diantara sekian tamu yang datang, ada yang “matur” (mengatakan – bahasa Inodonesia) sekedar kangen, ada yang minta petunjuk / solusi bahkan ada yang terang–terangan berharap do’a dari beliau.

Kepada tamu yang datang, menjadi kebiasaan beliau menghimbau untuk selalu istiqomah membaca Sholawat kepada Muhammad Rasulillah beserta seluruh nasab Rasulillah serta menghimbau membaca Fatiha kepada orang tua dan leluhur serta kepada guru, khususnya guru ngaji. Guru Alif  istilah beliau. Selain himbauan agar selalu bangun tengah malam “mellek wengi” istilahnya MH. Ainun  Najib si Kiai Belling untuk ber “tafakkur “ (merenungi akan kekuasaan Allah Azza wa Jall).

Salah satu catatan penting, walau tidak sedikit pejabat/ penguasa yang datang  kepada beliau tetapi beliau tetap hormat namun menjadi salah satu pantangan buat beliau dan seluruh keluarga besar pesantren beliau untuk dekat dalam tanda petik dengan penguasa. Ini salah satu wasiat leluhur beliau sebagai amanah untuk dipegang teguh.

Di zaman ini, pada sebagian pesantren dalam pengembangannya tidak jarang meminta bantuan kepada pihak lain lebih–lebih kepada pemerintah melalui proposal. Hal ini sangat kontradiktif dengan pesantren yang diasuh beliau dengan menjadikan pantangan yang pernah beliau sampaikan kepada penulis sebagaimana wasiat leluhur beliau lainnya. Jangankan meminta, andaipun diberi kalau diaqad untuk pesantren, beliau tidak pernah berharap. Kalau boleh dalam bahasa kasarnya, beliau akan menolak bantuan itu dengan beberapa alasan yang tidak perlu dijelaskan dalam tulisan ini.

Pada keseharian beliau, kasat mata beliau hidup mewah atau diatas rata-rata orang kampung karena manakala beliau bepergian mobil Panther pribadi sebagai sarana. Bahkan dalam berbusana beliau nampak mengenakan busana yang ber “ merk ” seperti kaos Crocodille, Umbrella serta sarung Lamiri, BHS atau setidaknya Donggala.

Tapi kehidupan dalam rumah tangga sungguh kesederhanaan yang beliau jalankan. Satu keyakinan bahwa beliau beserta keluarga bisa dibilang selama hidupnya tidak pernah merasakan empuknya kasur dalam tidur yang merupakan salah satu kenikmatan dunia.

Lebih dari itu, ada keistiqomahan beliau dalam hitungan sejak puluhan tahun yang lalu, yaitu memberi makan semut dengan tangan beliau sendiri pada suatu tempat tertentu disekitar “dhalem” – tempat tinggal. Sementara untuk yang di luar pekarangan tempat tinggal, beliau meminta bantuan santri untuk memberi makan semut –semut lain. Prilaku yang bisa dibilang nyeleneh ini sebagaimana prilaku orang–orang wali dan sufi terdahulu.  Sedang hakikat prilaku ini  sempat beliau jelaskan sekaligus beliau anjurkan kepada penulis untuk melakukannya pula.

Sungguh banyak hal dan prilaku nyeleneh beliau lainnya yang kadangkala orang awam tak mampu memaknai, yang tidak bisa dituang dalam tulisan ini karena keterbatasan–keterbatasan. Prilaku nyeleneh itu kalau bernilai tambah sebenarnya semua kiai bahkan semua orang bisa melakukannya tapi tak semudah mengatakan bisa.

Antara Gus Dur ~ KH. Hammad

Masih melekat dalam ingatan penulis sejak satu tahun sebelum KH Hammad wafat, kepada penulis selaku Ketua Ranting Nahdlatul Ulama Desa Aenganyar, Kecamatan Giligenting, beserta anggota yang kebetulan saat itu nyabis, serta dalam kesempatan–kesempatan lain, seringkali juga kepada semua tamu, beliau menghimbau untuk banyak membaca Fatiha kepada Gus Dur. Walaupun tanpa penjelasan detail mengapa beliau menghimbau melakukan itu, jadinya kita hanya mampu melaksanakan dengan penuh tanda tanya serta ada keyakinan kalau Gus Dur juga orang yang memiliki kelebihan ilmu. Sebab yang kita tahu Gus Dur adalah mantan Presiden yang harus jatuh karena tidak sekedar politik tetapi lebih pada pendholiman. Gus Dur adalah pendiri Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Politik berbasis Islam terbesar di negeri ini. Beliau juga berprilaku nyeleneh serta mengundang kontroversi putra KH Wahid Hasyim dan cucu KH Hasyim Asy’ari sang pendiri Nahdlatul Ulama.

Sekitar satu tahun setelah KH Hammad wafat, Al Khaliq pun berkenan memanggil Gus Dur keharibaan-Nya. Setelah Gus Dur wafat, saat itu pulalah penulis bahkan orang lainpun tahu betapa seorang Gus Dur mempunyai begitu besar karomah.

Dengan mata kepala sendiri, penulis beserta anggota Nahdlatul Ulama Ranting Aenganyar Giligenting, melihat  betapa karomahnya Gus Dur dalam wafatnya. Beribu bahkan  berjuta ummat datang berta’ziyah dengan sangat merasa kehilangan.

Masyarakat duniapun mengakui kalau beliau merupakan guru bangsa dan bapak Pluralisme dengan segudang bintang jasa baik yang bertaraf nasional maupun internasional. Kiloan meter sepanjang jalan menuju tempat pemakaman muncul pedagang kaki lima yang mengais rejeki mulai hari pertama beliau wafat sampai hari ke empat puluh. Ribuan orang mengumandangkan tahlil. Entah berapa kilo gram bunga yang menggunung ditabur orang di pusaranya. Begitulah yang mata penulis lihat. Jadi sangat masuk akal bila KH Hammad semasa hidupnya menghimbau tamu–tamu beliau agar banyak membaca Fatiha kepada Gus Dur.

Kasat mata pula orang tahu kalau antara Gus Dur dan KH Hammad tak ada jalinan apa–apa. Sebab kasat mata, orang belum pernah melihat dan tahu antara Gus Dur dan KH Hammad ,keduanya berhubungan. Tapi beberapa waktu sebelum KH Hammad wafat, beliau pernah ber “dawuh” – berkata : Gus Dur rawuh (datang)  bersillaturrohim kepadaku lima belas malam berturut-turut. Diantaranya dua kali beliau rawuh bersama istrinya. Mulai malam pertama sampai malam ke empat belas Gus Dur “rawuh”, aku belum merasakan apa – apa . Tetapi setelah malam ke lima belas aku merasa kalah kepada Gus Dur (makna kalah yang beliau maksud tidak ada penjelasan). Beliau rawuh biasanya tengah malam tanpa ada orang lain tahu. Kalau beliau rawuh dengan jalan kaki beliau lewat sebelah Selatan Masjid. Tetapi kalau beliau rawuh dengan mengendarai sepeda ontel lewat sebelah Timur Masjid. Ketika aku tanya mengapa tidak lewat Selatan Masjid manakala mengendarai sepeda ontel, beliau menjawab : “Saya takut sama yang ada dibawah pohon Selatan Masjid”. Sebagai catatan dibawah pohon Selatan Masjid merupakan area asta–asta leluhur KH Hammad. Mungkin Gus Dur merasa kurang sopan (cangkolang – Madura) manakala mengendarai sepeda ontelnya.

Sebagai tambahan, dalam sebuah kesempatan dari sebuah cerita yang bisa dipertanggungjawabkan, Gus Dur pernah mengirim salam kepada KH Hammad dengan julukan ulama “ Al-Hikmah “. Padahal yang penulis tahu dan orang lain secara kasat mata antara keduanya tidak pernah ada hubungan.

Inilah jalinan manusia pilihan Allah Azza wa Jall, sebagai penerus Nabi – Nabi antara Gus Dur dan KH Hammad dalam dunia lain beliau berdua. Semoga karomah beliau berdua tetap menjadi perantara bagi murid, santri dan orang–orang yang ta’dhim kepada beliau berdua untuk mencapai keridhoan Allah Yang Maha Kuasa. Amin ya Robbal Alamin.

bersambung….

*Moh. Rais Yusuf adalah PNS dan Ketua Ranting NU Aenganyar Giligenting

Tinggalkan Balasan