Menu

Antara Gus Dur dan KH Hammad al-Karawi (2)

  Dibaca : 570 kali
Antara Gus Dur dan KH Hammad al-Karawi (2)
Link Banner

Oleh: Moh. Rais Yusuf*

Gus dur-KH Hammad

KH Hammad & Mereka yang Ta’dim

Sebelum lebih dekat mengenal KH Hammad dengan kepribadian beliau yang penulis ketahui, ada baiknya penulis memaparkan keberadaan Pondok Pesantren Karay yang beliau pimpin beserta para kiai lainnya sebagai pengasuh.

Pondok Pesantren Karay diasuh oleh beberapa kiai yaitu KH Makmum, KH Ahmad, KH As’ad, KH Muhammad dan KH Hammad, yang kesemuanya merupakan putra dari KH Muhammad Dahlan Bin KH Imam.

Beliau-beliau ini tinggal dalam satu lingkungan Pondok Pesantren Karay yang belakangan lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Al–Karawi. Nama Al–Karawi bukanlah nama resmi pondok, tetapi sekedar penegasan karena Pondok Pesantren itu berada di Desa Ketawang Karay Kecamatan Ganding.

Pondok Pesantren Karay merupakan salah satu Pondok Pesantren dengan predikat salaf yang ada di Bumi Sumekar yang Super Mantab ini. Sebuah Pondok Pesantren yang dalam perkembangannya belum pernah meminta bantuan kepada pihak manapun bahkan andai diberipun jika di aqad untuk pesantren, para kiai sebagai pengasuh akan menolaknya dengan berbagai alasan yang tidak bisa penulis jelaskan dalam tulisan ini.

Predikat salaf diberikan, karena Pondok Pesantren Karay ini dalam keseharian baik sang kiai maupun santri dalam penerapan ilmu dan proses mengaji  bahkan dalam berbusanapun menerapkan ala Pondok Pesantren dan kiai-kiai kuno. Semua serba klasik, yang terasa lebih dekat dengan masyarakat golongan bawah.

Pondok Pesantren Karay diibaratkan oleh penulis keberadaannya seperti zaman kerajaan dahulu. Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan dengan kekuasaan tertinggi diantara kerajaan Kahuripan, Jenggala, Kediri dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.

Hal ini dikarenakan ada kebiasaan  yang tidak tertulis tetapi menjadi dasar bahwa Kiai yang menempati “ dhalem bebenah Sabuh “ – Kiai yang menempati kediaman yang ada di bawah pohon Sawo tepatnya di sebelah Utara Masjid – beliaulah Raja Majapahit yang bertindak selaku pengambil keputusan dan kebijakan bagi kelangsungan Pondok Pesantren diantara kiai – kiai lainnya sebagai pengasuh yang diibaratkan oleh penulis sebagai kerajaan kecil.

Secara berurutan kiai yang menempati “ dhalem bebenah Sabuh “ yang pertama selaku kiai sepuh pendiri Pondok Pesantren Karay adalah KH Imam kemudian yang kedua KH Muhammad Dahlan putra KH Imam sedangkan KH Hammad putra KH Muhammad Dahlan adalah yang ketiga kemudian saat ini dilanjutkan oleh KH Bahij putra mantu sekaligus keponakan dari KH Hammad. (KH Bahij putra dari KH Ahmad saudara kandung KH. Hammad).

Kembali ke sosok KH Hammad, beliau adalah sosok yang mempunyai kharisma tinggi dimata penulis dan orang-orang yang ta’ dzim kepada beliau.

Beliau beserta kiai-kiai lainnya di Pondok Pesantren Karay, sangat menjaga jarak dengan dunia luar apalagi dengan ranah politik. Hal ini beliau dan lainnya bukan golput atau tidak berpolitik. Beliau berpolitik akan tetapi beliau tidak pernah mengajak sekaligus tidak pernah melarang orang lain pada satu partai.

Sikap politik beliau ini tidak hanya pada orang lain, termasuk kepada keluarga beliau tidak pernah mengajak, melarang bahkan sekedar bertanyapun tentang politik, beliau tidak pernah. Berkenaan dengan politik, pernah beliau cerita kepada penulis dengan dawuh beliau :

ka binih ta’ nya’ tanya’an ben ta’ nyoro nyocco  se ma ka’ emmah, tako’ ta’ padha, se  bisah gun polanah partai pas gengan ta’ massa’ ,” – kepada istri tidak bertanya dan tidak menyuruh nyoblos yang manapun, takut tidak sama, yang bisa karena partai jadinya sayur daun kelor tidak matang “. Sungguh beliau dan keluarga beliau menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan hak azasi.

KH Hammad di mata penulis dan kebanyakan orang-orang yang ta’dim tidak begitu tampak kealimannya, sebab alim itu sendiri memang tidak perlu ditampakkan, walau bertahun-tahun beliau menuntut ilmu baik di pesantren lokal maupun di Mekah.

Tapi beliau diyakini seorang sosok kiai yang mempunyai kharisma tinggi dan mendalam. Hal ini nampak dari karomah-karomah beliau dengan perilaku yang kadangkala bisa dibilang nyeleneh, apalagi dengan keanehan serta fadilah dari suatu benda yang beliau miliki.

Beliau memberi makan semut setiap hari selama belasan tahun. Beliau juga memelihara Ayam Putih Polos yang kontradiksi dengan sebagian orang yang suka memelihara Ayam Hitam (Bulu, Paruh, Lidah, Mata bahkan darahnya Hitam dan semua serba Hitam) yang katanya mempunyai fadilah. Bahkan beliau juga memelihara Kuda Putih yang diberi nama  “Salam dan Salim “ .

Beliau juga memiliki Pusaka dan Batu Permata yang bertuah serta benda antik lainnya yang menurut dawuh beliau kepada penulis :   “sesuatu apapun yang ada di dunia, bila Allah dengan KuasaNYA berkehendak, maka sesuatu itu bisa menjadi perantara “ (tentu dengan beberapa cara dan syarat).  Insya Allah topik ini akan penulis paparkan dalam kesempatan lainnya.

Setiap hari tidak kurang dari seratus orang yang datang “ nyabis “ – bertamu kepada beliau. Tamu beliau beragam asal dan tujuannya. Ada yang berasal dari daerah local dan ada juga yang berasal dari luar darerah . Ada yang hanya sekedar rindu, ada pula yang dengan niat minta petunjuk dan mengharap barokah.

Menjadi menu utama yang beliau suguhkan kepada para tamu untuk banyak membaca (mengirim) fatiha kepada kedua orang tua, leluhur, para guru khususnya guru ngaji “guru alif “ istilah beliau serta kepada Baginda Rasulullah beserta leluhur (nasab) Rasulullah.

Selain membaca fatiha, membaca sholawat kepada Baginda Rasulullah, juga menjadi menu utama yang beliau sarankan kepada setiap tamu yang datang.

Dalam membaca sholawat, sependek apapun sholawat yang dibaca, beliau menekannya agar tidak meninggalkan lafadz ( kalimat / kata) “ wa sallim, sayyidina dan ‘ali “,  sehingga bacaan sholawat terpendekpun yang beliau maksudkan terangkai dalam lafadz : “ Allahumma sholli wa sallim ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ‘ali sayyidina Muhammad “.

Langkah lain beliau dalam rangka mengistiqomahkan masyarakat membaca sholawat, beliau berkenan memanggil ketua perkumpulan “ Jidur atau Be’ gerbis “  yang keadaannya saat itu sudah mati suri.

Jidur atau Be’gerbis dimaksud adalah sebuah perkumpulan  Musik Tradisonal dengan bacaan sholawat didalamnya. Alat musiknya berupa Gendang Hadrah atau Rebana dan sebuah Jidur yaitu alat music pukul seperti Beduk.

Tujuan beliau berkenan memanggil ketua perkumpulan Jidur yaitu meminta agar  perkumpulan tersebut aktif kembali bahkan beliau juga berkenan memberikan syair – syair (lagu – lagu) sholawat, sehingga perkumpulan itu sekarang di masyarakat dikenal dengan sebutan Perkumpulan Jidur KH. Hammad.

Menu lain yang juga beliau suguhkan kepada setiap tamu adalah   “ tawassul “ melalui orang tua, guru, ulama dan para waliyullah dengan cara berziarah ke asta – asta (makam) beliau– beliau.

Adapun asta ulama dan para wali yang secara tidak resmi direkomendasikan oleh beliau seperti K. Abdullah – Batu Ampar Guluk – Guluk, Pangeran Beragung – Beragung Guluk – Guluk, Asta Tinggi – asta para Raja Sumenep, Pangeran Jokotole – Sa’asa Manding, Sayyid Yusuf – Talango, Pangeran Adi Poday ( Waliyullah Sunan Wiro Baruto – Nyamplong, Gayam Sapudi, Sunan Wirokromo – Belingih Gayam Sapudi, Gung Mahmud dan Gung Ahmad – Aeng Panas Pragaan, Buju’ Cendana ( Syiekh Zainal Abidin) – Kwanyar Bangkalan, Syeikhona Holil Bangkalan dan asta Wali Songo.

Asta ulama dan para Wali ini yang penulis ketahui sebagaimana pernah beliau rekomendasikan. Akan tetapi bagi beliau akan jauh lebih banyak lagi asta ulama dan para wali guna diharapkan do’anya serta dijadikan “ tangga “  istilah beliau untuk mencapai ridha dan rahmat Allah. Amin ya Robbal alamin.

Untuk yang terakhir apa yang penulis ketahui dari sekian banyak menu yang disarankan oleh KH Hammad kepada penulis dan para tamu beliau yang sudah pasti dilakukan pula oleh beliau secara istiqomah adalah bangun tengah malam  “ mellek wengi “ istilah si Kiai Beling Ainun Najib atau “ tafakkur “ istilah bagi kaum santri.

Dalam hal ini penulis yakin bahwa KH Hammad dengan sengaja dalam sarannya tetap dengan istilah “ bangun tengah malam “ bukan “ tafakkur “ dengan satu alasan agar bisa lebih dimengerti oleh penulis dan kebanyak tamu yang memang termasuk golongan orang– orang awam.

Mengenai hal “bangun tengah malam “ beliau pernah berdawuh bahwa waktu yang paling utama yaitu satu setengah jam mulai sebelum dan sampai nyambung ke waktu shubuh. Beliau juga berdawuh, sekiranya selama itu membaca suatu amalan tetapi kurang khusyuk, sebaiknya diam saja, memusatkan fikiran mengagungkan serta meyakini kekuasaan dan kebesaran Allah, sekaligus menyampaikan apa yang menjadi keluh kesah kita kepada Allah. Sungguh ini merupakan ibadah dan do’a tingkat tinggi.

Berkenaan dengan sikap atau perbuatan tidak tidur secara totalitas semalam suntuk, yang menjadi keistiqomaan lainnya bagi beliau, keluarga beliau bahkan bagi orang–orang pernah disarankan beliau yaitu tidak  tidur semalam suntuk setiap tanggal 12 dan 27 di setiap bulan pada tahun Hijriyah versi hitungan Pondok Pesantren Karay.

Penjelasan singkat, tidak tidur pada setiap tanggal 12 ini, guna menghormati tanggal kelahiran Rasulullah sedangkan tidak tidur pada tanggal 27 untuk menghormati tanggal ketika Rasulullah Isra’ wal Mi’raj. Wallahu a’lam bis showab.

bersambung….

*Moh. Rais Yusuf adalah PNS dan Ketua Ranting NU Aenganyar Giligenting

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional