Antara Gus Dur dan KH Hammad al-Karawi (3)

Oleh: Moh. Rais Yusuf*

Gus dur-KH Hammad

Warisan KH. Hammad

Sesuatu yang wajib disyukuri oleh penulis serta berharap do’a dari KH Hammad dimana penulis diwarisi oleh beliau sebuah Pusaka berupa Keris  “Jungjung Derajat“.

Pusaka “ Jungjung Derajat “ yang menurut pakem adalah pusaka yang pantas dimiliki / dipakai oleh seorang pemimpin.

Tak heran jika pada setiap orang pemimpin atau yang ingin menjadi pemimpin (melalui pemilihan), dengan berharap perantara pusaka itu. KH Hammad menyarankan untuk memilikinya dengan jalan mengirim fatiha kepada si pembuat dan si penjaga (haddam) dari pusaka tersebut.

Satu pesan beliau kepada penulis ketika beliau mewariskan pusaka itu:    “ Posaka nika je’ juwel je’ paenjem ko Encang ko Encung, e yangguye ko peleyan Kalebun otabe sampe’ peleyan Presiden. E ompama agi genika Rajeng se gunanah ka angguy ngale lobeng, mon badha oreng nginjemah, je’ begi. Mon ta’ kellar neser ka oreng se nginjemah, barengngah je’ begi tape pas sampeyan se ngaleyagi lobengngah“  – Pusaka ini jangan dijual jangan dipinjamkan baik kepada Encang atau Encung    ( Encang – nama saudara kandung penulis H. Moh. Syamsi), ingin dipakai Pemilihan Kepala Desa atau sampai Pemilihan Presiden. Diumpakan pusaka itu Linggis yang gunanya untuk menggali lubang, jika ada orang mau pinjam jangn diberikan. Jika kasihan kepada orang yang mau pinjam, barangnya jangan diberikan tapi sampeyan sekalian yang menggalikan lobangnya“.

Pusaka itu diwariskan KH Hammad kepada penulis setahun sebelum beliau wafat, disamping warisan ilmu-ilmu lain yang beliau wariskan.

Ahirnya semoga dengan barokah KH Hammad pusaka itu bisa menjadi perantara Allah berkehendak dari apa yang diharapkan serta ilmu-ilmu itu bisa menjadi mafaat buat penulis.  Amin Allahumma amin.

“SALIM” SI KUDA PUTIH MILIK KH HAMMAD DAN BEBERAPA WARISAN

Pada tulisan ini, penulis akan memaparkan tentang apa dan bagaimana “ Salim “ si Kuda Putih milik KH. Hammad yang pernah beliau dawuhkan dan beberapa warisan beliau kepada penulis.

Sebelumnya sekilas yang penulis ketahui bahwa KH Hammad memelihara Kuda berwarna Putih polos satu diberi nama Salim dan satu lagi diberi nama Salam.

Kasat mata nampak kuda yang dimiliki KH Hammad tidak ada perbedaan dengan Kuda–Kuda lain pada lazimnya, kecuali perbedaannya pada bola mata, dimana Kuda Putih beliau mempunyai bola mata yang pada tengahnya berwarna Merah yang lazimnya berwarna Hitam.

Bola mata yang pada tengahnya berwarna merah khususnya bagi hewan, orang Madura mengistilahkan “ Atah “ atau “ Mata Belalang “.

Akan tetapi penulis menjadi tahu banyak apa dan bagaimana tentang Kuda Putih milik beliau yang diberi nama Salim, itu bermula dari rasa cemburu, iri  dan ketidakpuasan penulis.

Sekitar tahun 2000-an, sebut saja H Mukmin, seorang yang sebelumnya tidak pernah nyantri begitu ta’dim kepada KH Hammad. Dia sekarang menjadi orang sukses yang insya Allah salah satunya perantara do’a  KH Hammad. Perjalanan dan gaya hidup serta langkah bisnisnya mengikuti arahan langsung dari  KH Hammad.

Karena ta’dimnya, H Mukmin menjadi salah satu orang luar kepercayaan KH Hammad dalam banyak hal. Sehingga ada orang berlebihan yang menjuluki    H Mukmin sebagai Putra Angkat KH Hammad.

Sikap dan perlakuan KH Hammad terhadap H Mukmin inilah yang membuat penulis cemburu, iri dan tidak puas karena penulis setidaknya ingin diperlakukan sama, sehingga penulis pernah “akarettek”   – berkata dalam hati :  “ Mengapa H Mukmin sangat dipercaya KH Hammad dalam banyak hal, mengurus ini dan itu? Mengapa H Mukmin diperlakukan lebih oleh KH Hammad dibanding orang luar lainnya, diantaranya ketika H Mukmin nyabis, dia bisa tidak melalui “protokuler “ (istilah dalam birokrasi) bahkan bisa berlama– lama dengan KH. Hammad? “H. Mukmin memang keponakan sepupu penulis dari jalur ibu penulis yang tidak ada hubungan nasab sama sekali dengan KH Hammad. Sedang penulis dari jalur ayah, penulis masih ada ikatan nasab dengan KH Hammad lebih-lebih dari jalur istri KH Hammad yang merupakan saudara sepupu penulis, walaupun demikian penulis lebih mengedepankan sikap ta’dim, sami’na wa ato’na selayaknya seorang santri kepada sang kiai.

Berselang tiga hari, penulis berniat nyabis kepada KH. Hammad sebagaimana rutinitas penulis sebelum – sebelumnya. Sejak ba’dha Maghrib sampai ba’dha Isya’ penulis sudah menunggu di sebuah “ kotakan “  – kamar dalam istilah satri, menyalanya lampu di tempat dimana KH. Hammad menemui para tamu.

Mengetahui lampu sudah menyala, maka bergegaslah penulis masuk, setelah penulis memanggil salam dan dijawab salam oleh KH Hammad, sambil lalu beliau mempersilahkan duduk.

Diawali dengan dawuh “ayo biar puas” beliau banyak bertanya keadaan ibu penulis dan keluarga serta tugas penulis yang waktu itu penulis bertugas dan bertempat tinggal di Giligenting yang kebetulan juga istri penulis asli Giligenting.

Selain penulis saat itu tidak ada tamu lain, tidak seperti biasanya dimana tidak kurang seratus tamu beliau datang silih berganti dalam sehari semalam.

Baru sekitar jam 9 malam, masuk seorang tamu yang ternyata H. Mukmin, padahal biasanya sekitar jam 9 itu beliau sudah tidak bisa menerima tamu lagi sekaligus tamu yang ada beliau mempersilahkan pulang. Tetapi saat itu penulis dan  H Mukmin oleh KH Hammad baru dipersilahkan pulang sekitar jam 2 pagi.

Keberadaan kami bertiga malam itu menjadi sebuah tanda Tanya mengapa tidak ada tamu lain yang masuk. Ternyata penulis mendapatkan jawaban dari salah seorang “pangladin” – pembantu kiai, bahwa pada malam itu KH Hammad memerintahkan menutup pintu masuk tamu kepada Pangladin, agar tamu lain kembali.

Selama kami bertiga, disaat itulah KH Hammad banyak memberikan saran dan petuah serta bercerita panjang lebar tentang Pusaka dan Kuda Putih yang beliau pelihara.

Untuk selanjutnya, tentang Kuda Putih milik KH Hammad yang diberi nama Salim akan penulis paparkan dengan gaya bahasa penulis yang berdasarkan apa yang penulis dengar langsung dari KH Hammad.

Tidak berselang lama setelah Salim si Kuda Putih itu dimiliki dan mungkin karena dilihat ada keanehan entah dari indra keberapa beliau, KH Hammad berkenan memanggil H Abdul Hadi seorang penggemar sekaligus pakar Kuda terkenal sekitar Ganding dan Guluk-Guluk.

Ketika H Abdul Hadi datang untuk melihat keadaan Kuda sesuai pakem  “ perkudaan “ seperti yang diinginkan KH Hammad, Kuda itu mendatangi H Abdul Hadi dan KH Hammad yang sebelumnya Kuda itu dipanggil oleh KH Hammad karena jinak (notot – istilah Madura).

Kuda Putih Menurut Pakar berdasarkan Pakem

Satu keanehan pertama terjadi ketika H Abdul Hadi ingin melihat  “Ploseran”  (Pusaran bulu – Indonesia ) bagian kepala, maka Kuda itu menghadapkan kepalanya, ketika mau dilihat ploseran bagian kanan tubuh, Kuda itu berputar satu arah menampakkan tubuh bagian kanan.

Selanjutnya ketika mau dilihat ploseran bagian pantat dan ekor lagi-lagi Kuda itu berputar satu arah menampakkan bagaian pantatnya. Kemudian untuk yang terakhir ketika mau dilihat ploseran  bagian kiri tubuhnya untuk yang terkahir kalinya kembali Kuda itu berputar satu arah menampakkan bagian kiri tubuhnya.

Setelah dengan seksama H Abdul Hadi memeriksa seluruh tanda – tanda, letak ploseran serta tanda – tanda lain yang ada pada tubuh si Kuda Putih milik  KH Hammad itu sesuai pakem, H Abdul Hadi “matur”  kepada KH Hammad bahwa Kuda itu istimewa, banyak kelebihan dan sangat sulit mendapatkannya.

Ketika memasuki usia dimana seekor Kuda harus diberi (dipasangi) “kadeli” (sebuah gelang-gelang besi kuningan sebesar jari kelengking yang dimasukkan ke mulut Kuda dan dikaitkan memakai tali ke leher, agar kuda tidak buas dan  berfungsi sebagai alat kendali), KH Hammad juga bermaksud memasanginya dengan mengundang Busri seorang Kusir Dokar yang ahli memasang alat itu.

Keanehan kedua, di suatu hari dimana Busri berjanji akan memasang kadeli, sebelum KH Hammad berangkat menghadiri undangan beliau berpesan kepada santri jika Busri datang untuk memasang kadeli agar menunggu KH Hammad.

Ketika Busari datang pesan KH Hammad disampaikan oleh santri, namun dengan alasan biar ketika KH Hammad datang nanti pemasangan kadeli sudah selesai, maka Busri mencoba memasangnya.

Namun apa yang terjadi, ketika Busri mencoba memasang tali pengekang agar Kuda itu tidak bergerak dan melawan saat akan dipasang kadeli , dia mau di “ jebik“  (digigit, Red Madura ) bahkan dia dikejar mau di terjang oleh Salim si Kuda Putih milik KH Hammad itu sehingga terjadi keributan bersamaan dengan kedatangan KH Hammad dari undangan. Salim si Kuda Putih itu berhenti mengejar Busri ketika Busri berlindung di belakang seorang santri muda yang sehari – harinya bertugas mencari dan memberikan pakan Kuda itu.

Setelah KH Hammad menenangkan Kuda itu, barulah beliau menyuruh Busri untuk memasang kadeli tanpa tali pengekang. Kuda itu nurut saja sehingga tanpa tali pengekangpun kadeli terpasang. Namun Kuda itu menggigit kadeli yang terbuat dari gelang–gelang besi kuningan sampai patah. Hal ini terjadi sampai tiga kali. KH Hammad mengambil kesimpulan bahwa Kuda itu tidak mau dipasangi kadeli, sehingga sampai saat ini Kuda itu tanpa kadeli dan tanpa sehelai benangpun tali sebagai pengikat, namun tetap jinak.

Diceritakan pula oleh KH Hammad bahwa menurut pakem Kuda, bahwa gigi Kuda yang tanggal (lepas) merupakan salah satu bagian yang mempunyai fadilah (kegunaan ).  Namun untuk memiliki gigi Kuda yang tanggal sangat sulit karena kita tidak tahu pasti kapan gigi itu akan tanggal.

Tetapi berbeda dengan Kuda milik KH Hammad, suatu ketika di tengah malam KH. Hammad mendengar Kuda beliau meringkik keras sekali. Karena penasaran beliau mendatangi kuda beliau. Tanpa disadari bersamaan dengan Kuda beliau meringkik ada sesuatu yang jatuh dihadapan beliau yang ternyata setelah diambil oleh beliau benda itu adalah gigi Kuda yang tanggal.

Berselang beberapa waktu (bulan ) setiap kali di dengar Kuda itu meringkik, setiap kali pula KH Hammad mendatanginya dan ternyata kejadian hal sama terulang kembali seperti kejadian sebelum– sebelumnya. Sehingga seluruh gigi – gigi yang tanggal dari Kuda Putih dimiliki oleh KH Hammad.

bersambung…..

*Moh. Rais Yusuf adalah PNS dan Ketua Ranting NU Aenganyar Giligenting

Tinggalkan Balasan