Menu

Arya Menak Senoyo dalam Alternatif Interpretasi Historis

Arya Menak Senoyo dalam Alternatif Interpretasi Historis
Arafah Pramasto, S.Pd. (Foto for Mata Madura)
Link Banner

Oleh: Arafah Pramasto,S.Pd.*

Masyarakat Madura memiliki sebuah cerita rakyat mengenai tokoh bernama Arya Menak Senoyo. Keberadaan Langghar Ghajam, sebuah mushala tua, atau dikenal juga dengan nama ‘Langgar Gayam’ yang terletak di Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, dikaitkan dengan sosok Arya Menak sendiri. Ia dipercaya telah menikahi “peri dari kayangan”. Nyi Tunjung Bulan adalah nama peri dalam kisah Arya Menak Senoyo. Alurnya tidak jauh berbeda dengan cerita Jaka Tarub. Dikisahkan bahwa setelah Menak Senoyo mencuri pakaian Nyi Tunjung Bulan yang tengah mandi di sungai, peri malang itu tidak dapat kembali ke kayangan, ia pun berhasil memperistrinya. Suatu ketika, Nyi Tunjung Bulan berhasil memperoleh kembali pakaian yang memungkinkannya kembali ke kayangan, ia pun pergi berpamitan dan mencium putra dari hasil perkawinannya dengan Arya Menak Senoyo.

Menurut Syamsul Ma’arif, kisah Arya Menak Senoyo menikahi peri adalah pencampuradukan antara sejarah dengan dongeng. Tampaknya Menak Senoyo menjadi tokoh yang berusaha dihidupkan sisi melankoli-romantismenya melalui kisah tersebut. Sayangnya latar belakang historis tokoh ini cenderung dilihat secara minor. Padahal, apabila kisah Arya Menak Senoyo ditafsirkan lebih jauh, akan didapati saratnya informasi tentang hubungan antar-wilayah Nusantara, rekonstruksi peran-peran yang telah dilakukannya dalam bidang pemerintahan maupun sebagai salah satu penjejak dakwah Islam tertua di tanah Madura. Baiknya, kita baca kembali asal-usul genealogis Arya Menak Senoyo berdasarkan kajian kesejarahan.

 

Arya Damar Putra Brawijaya V

Tokoh Arya Menak Senoyo tak akan bisa dilepaskan dari sosok Bhre Kertabhumi, raja Majapahit yang dikenal sebagai Brawijaya V (wafat 1478). Konon Brawijaya  memiliki seorang selir “jelmaan raksasa wanita (Raksasi)” yang merubah wujudnya menjadi wanita cantik. Hasil dari hubungannya itu, ia melahirkan seorang anak bernama Arya Damar. Selir ini bernama Endang Sasmito Wati. Mitos tentang wujud makhluk gaib dari Endang Sasmito yang dipercaya sebagai ibu dari Arya Damar memang sangat unik, sama halnya dengan Brawijaya V yang mempunyai beberapa selir dengan latar belakang kebangsaan yang berbeda-beda.

Suatu hal yang perlu kita soroti adalah sebutan “Raksasa” yang diberikan pada Endang Sasmito. Raksasa adalah makhluk yang difigurkan sebagai ras “berperadaban”, terbukti dengan adanya kepercayaan Hindu mengenai kerajaan Raksasa bernama Alenka yang diperintah oleh Rahwana. Menurut kepercayaan, kerajaan Alenka dahulu merupakan Sri Lanka (diambil dari kata Sri dan (A)Lenka) di masa modern. Moyang pertama dari ras orang Sri Lanka diyakini sebagai orang Arya yang datang ke pulau itu, salah satunya bernama suku Raksasa. Kemungkinan yang terkuat nampaknya Brawijaya V turut memperistri seorang wanita asal Sri Lanka sebagaimana ia juga memiliki selir-selir yang berasal dari luar Nusantara seperti Campa dan Cina. Maka sebutan “Raksasi” yang disematkan pada Endang Sasmito lebih merujuk kepada identifikasi ras maupun ukuran tubuh yang kemungkinan lebih tinggi dan besar daripada kebanyakan orang-orang Nusantara.

Namun Brawijaya V sangat mencintai selirnya yang bernama “Putri Cina.” Selir lainnya yang bernama Andarawati asal Campa merasa sangat marah. Melalui intrik-intrik yang dilaluinya, akhirnya Andarawati berhasil membuat Brawijaya V melengserkan kedudukan Putri Cina sebagai salah satu selir kesayangannya. Brawijaya V memanggil patihnya dan memerintahkan agar Putri Cina diserahkan kepada Arya Damar yang sedang berada di Pelabuhan Gresik menunggu perahu yang akan membawanya ke Palembang. Lewat patihnya, raja juga menitipkan sepucuk surat. Arya Damar menerima anugerah ayahnya dengan gembira – kemungkinan Putri Cina memiliki kecantikan yang memukau. Bunyi surat itu adalah bahwa Putri Cina dilengserkan sebagai selir untuk kemudian menjadi istri Arya Damar, tetapi berhubung baru mengandung anak Brawijaya, maka tidak diizinkan bercampur hingga ia melahirkan.

 

Saudara Tiri Sultan Demak Pertama

Penyerahan Putri Cina yang dipercaya bernama asli Su Ban Chi terjadi saat kehamilannya berusia tiga bulan. Anak yang dikandung Putri Cina nantinya diberi nama Hasan, kemudian dikenal sebagai “Raden Patah.” Sebelum menerima bekas selir ayahnya itu, Arya Damar telah memiliki putra bernama Arya Menak Senoyo dari perkawinannya dengan seorang wanita asal Gunung Ringgit di Lumajang. Istri Arya Damar tersebut tidak dapat diidentifikasi mengenai nama aslinya. Namun dengan melihat gelar ‘Menak’ yang disematkan pada nama anak Arya Damar, dapat dipastikan bahwa asal ibunya ialah memang dari Lumajang yang saat itu menjadi bagian wilayah Blambangan. Gelar ‘Menak’ sering muncul dalam cerita tutur ujung timur Pulau Jawa. Sedangkan dari perkawinan antara Arya Damar dan Putri Cina lahirlah Raden Husin.

Di Palembang, Arya Damar menjadi pemimpin yang disegani. Salah satu cerita rakyat Sumatera Selatan menyebutkan mengenai adanya kekacauan yang diakibatkan oleh gangguan sekelompok perompak asal Cina. Setelah berhasil memadamkan kekacauan itu, Arya Damar yang telah memeluk Islam dan merubah namanya menjadi Ario Dillah (Arya Abdillah), memutuskan untuk tidak menyiksa para perompak Cina. Justru kemudian Ario Dillah menetapkan para perompak bersama keluarganya diperbolehkan tinggal sebagai penduduk Palembang, boleh hidup bersama penduduk setempat dan bebas berdagang. Akan tetapi ketetapan tersebut memiliki satu syarat, mereka tidak boleh tinggal di daratan. Dengan rasa terima kasih, para bekas perompak itu membuat rumah mereka di atas rakit, ditambatkan di tepi Sungai Musi, mereka senang walau penduduk Palembang kemudian menamakan mereka “Cina Rakit”.

Putri Cina juga dipercaya sebagai pemeluk Islam, kemungkinan ia turut memberi pengaruh dalam mengislamkan Arya Damar. Maka anak-anak Arya Damar yang dibesarkan di Palembang juga dididik dengan nilai-nilai Islam. Setelah ketiga putranya (Raden Hasan, Raden Husin, dan Arya Menak Senoyo) dewasa, mereka meninggalkan Palembang untuk pergi ke Jawa. Raden Hasan setibanya di Jawa diberi nama Raden Patah oleh Raja Majapahit dan dianugerahi tanah di Bintoro yang kemudian berubah nama menjadi Demak Bintoro, Kesultanan Islam pertama di Jawa. Sedangkan Raden Husin oleh Majapahit dijadikan kepala Arya keraton dan namanya dirubah menjadi Raden Tandaterung.

Arya Menak Senoyo yang bukan putra langsung dari Brawijaya V seperti halnya Raden Patah dan tidak dilahirkan dari rahim bekas selir tercinta kakeknya seperti Raden Husin, tentu tidak mudah untuk memperoleh posisi seperti yang dianugerahkan kepada dua “saudaranya.” Namun Brawijaya V menganugerahkan hak politik (sebagai Rajamuda / viceroy) bagi Arya Menak Senoyo atas tanah Madura, kelihatannya dengan pertimbangan bahwa ayahnya yakni Arya Damar, telah memelihara bekas selir tercintanya serta memimpin Palembang dengan baik. Setibanya di Madura, Arya Menak Senoyo membuka sebuah tempat baru yang tidak jauh dari Pamelingan, yang didirikan oleh Arya Mengo, keturunan Brawijaya V dari garis Andarawati. Parupuk (sekarang Proppo) adalah tempat yang dibangun oleh Arya Menak Senoyo.

Berdasarkan ulasan latar belakang genealogis Arya Menak Senoyo tersebut semakin memperkuat penafsiran sebagaimana yang diungkapkan sejarawan Sulaiman Sadik. Beliau mengartikan bahwa istri Menak Senoyo yang disebut “peri” berarti bahwa Menak Senoyo sebagai seorang keturunan penguasa-petinggi Majapahit tentu tidak sembarangan memilih seorang istri, maka ia menikahi seorang wanita cantik yang diibaratkan memiliki rupa seperti peri kayangan. Bukan tidak mungkin pula Menak Senoyo menikahi wanita bangsawan keraton tetangganya, Pamelingan. Sedangkan kisah perpisahan yang dramatis bernuansa kesedihan mendalam antara ia dan Tunjung Bulan, tampaknya ditujukan untuk kepergian wafatnya istri Menak Senoyo yang terjadi di saat tidak tepat yakni tatkala putra mereka masih berusia dini/kecil.

 

Palembang, “Lubang Pohon Sukun” dan “Ulat”

Bagian akhir dari kisah Arya Menak Senoyo ialah mengenai kepergiannya setelah usai memerintah Proppo dengan cara yang tidak biasa. Ia dikabarkan pergi ke Lumajang (tanah asal ibunya) dengan “melewati sebuah lubang pada pohon sukun yang kemudian ditutupi oleh seekor ulat”, secara gaib lubang itu mampu membawanya sampai ke tujuan. Sulaiman Sadik meyakini makna “Lubang Pohon Sukun” yang dikisahkan menjadi jalan pulang bagi Menak Senoyo memiliki arti bahwa ia memanfaatkan sungai di Proppo untuk sarana transportasi. Pohon sukun sendiri dikenal memiliki pola yang bagus, ringan, dan cukup kuat, sehingga kerap digunakan sebagai bahan alat rumah tangga, konstruksi ringan, serta pembuatan perahu. Getah pohonnya bahkan bisa digunakan untuk menambal bocor pada perahu.

Koentjaraningrat ikut menuliskan tentang penggunaan kayu pohon sukun dalam ritual Sundeng – upacara tolak bala orang Sangihe Sulawesi Utara – yang mana para tukang mengambil kayu tipulu, sejenis pohon sukun, untuk membuat perahu Londe. Dengan populernya pemakaian kayu dari pohon sukun untuk pembuatan perahu di Nusantara dan bahkan getahnya dapat dipakai untuk memperbaiki perahu, maka bukan tidak mungkin bahwa Arya Menak Senoyo telah berusaha memajukan bidang pembuatan perahu serta galangannya – mungkin berkapasitas kecil – di Proppo. Arya Menak Senoyo nampaknya membawa pengetahuan dari berbagai bidang yang ditemui selama masa kecilnya di Palembang, mengingat bahwa Palembang telah kesohor dengan dunia transportasi sungai.

Makna ulat dalam cerita itu berarti bahwa Menak Senoyo juga berhasil mengajarkan masyarakat yang ia pimpin untuk menenun kain. Kain ini bukan hanya bisa dipakai untuk pakaian saja, namun juga dapat dibuat menjadi layar perahu. Perkiraan ini didasarkan pada fakta bahwa kemudian Proppo dikenal sebagai penghasil kain tenun lokal sebelum dikenalkannya tekstil pabrikan industri modern di Pamekasan selain daripadanya juga berada di Pagendingan (Larangan). Interpretasi tersebut sangat menarik, mengingat Arya Menak Senoyo sebelumnya tinggal dan dibesarkan di Palembang. Kain songket adalah warisan tenun terbaik yang dimiliki masyarakat Palembang. Asal mula penemuan kain songket adalah dari adanya perdagangan Palembang (sejak zaman Kerajaan Sriwijaya) yang terletak antara Cina dan India. Orang Tiongkok menyediakan sutera sedangkan orang India menyediakan benang emas, akibatnya lahirlah komoditas songket.

Sebagai salah satu pelabuhan teramai pada abad ketujuh hingga ke-11, Sriwijaya yang terletak di Pantai Timur Sumatera Selatan menjadi tempat persinggahan pendeta-pendeta dari Sri Lanka dan India, kedatangan mereka dan juga para pedagang ikut mempengaruhi ragam hias kain songket Palembang. Tafsir yang paling mendekati kebenaran ialah bahwa pengalaman Arya Menak Senoyo selama di Palembang yang menyaksikan kemajuan teknik tenun, ikut berusaha menerapkan bidang ini di Proppo, Madura. Meski terdapat ulat sutera, Madura tidak sestrategis Palembang untuk dengan mudah memperoleh benang emas. Selera yang dimiliki masyarakat Madura belum tentu cocok dengan gaya songket di Palembang, sehingga Arya Menak Senoyo cenderung hanya membina masyarakatnya dalam bidang menenun kain (tekstil), bukan memproduksi songket.

Di samping mengembangkan sektor transportasi dan penenunan kain, didapati pula peninggalannya yang jauh lebih bertahan dan menunjukkan salah satu motivasi lain di luar bidang pemerintahan. Menak Senoyo ikut membangun Langghar (Mushala) yang disebut sebagai Langghar Ghajam (Langgar Gayam) serta dakwahnya itu ikut menyebabkan masyarakat setempat membatalkan pendirian sebuah candi. Candi yang batal dibangun ini disebut sebagai Candhi Burung atau candi yang ‘urung’/tidak jadi (Madura: Burung) dibangun. Walaupun terdapat pencapaian itu, wilayah sekitar Proppo masih kukuh menganut agama Hindu-Budha. Keislaman di tengah masyarakat kawasan Pamekasan baru berkembang pesat di era kemudian serta secara resmi diikrarkan sebagai agama resmi negara pada masa pemerintahan Ronggosukowati (naik takhta tahun 1530 M). Meski begitu, dakwah Arya Menak Senoyo dan Langghar Ghajam-nya bukan tidak memiliki arti dalam penyebaran Islam. Bisa dibilang, ia merupakan perintis dakwah di bumi Pamekasan.

 

Penutup dan Hikmah

Meskipun Arya Menak Senoyo mungkin akan selalu menjadi tokoh yang berselimut mitos, sebagaimana hal ini menjadi bagian dari kearifan lokal dalam bentuk tutur, kita ternyata masih dapat mengonversi kisah bernuansa supranaturalnya menjadi serangkaian kisah yang bersifat historis. Perlu ditekankan pula, kajian di atas bukanlah untuk menganulir ataupun mengeliminasi khazanah cerita tradisional tentang Arya Menak Senoyo dan Nyi Tunjung Bulan: baiknya tulisan dipertimbangkan sebagai salah satu rintisan alternatif penafsiran kesejarahan. Sesudah diperoleh sekelumit penjelasan sejarah tersebut dengan mempertimbangkan akar genealogis Menak Senoyo hingga dua generasi pendahulunya, aspek ketokohannya bisa digambarkan dalam dua peran utama dalam sejarah Madura.

Pertama, Arya Menak Senoyo sebagai seorang pemimpin politik yang mumpuni. Meski baru pertama kali tiba di Madura ia berhasil mendirikan sebuah pemukiman bernama ‘Parupuk’, cikal bakal Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan sekarang. Nampak bahwa Menak Senoyo belajar bagaimana ayahnya memimpin Palembang yang letaknya jauh dari pusat Majapahit di Jawa. Ia pun menunjukkan kemampuan dalam menerapkan apa-apa yang telah dipelajarinya selama berada di Palembang seperti dalam membangun transportasi sungai, perkapalan, hingga pada bidang tekstil. Kedua, Menak Senoyo adalah pendakwah Islam yang toleran. Meski rakyat Parupuk dahulunya kebanyakan masih memeluk agama Hindu-Budha kala itu, (keberhasilan) pendirian Langgar Ghajam menandai bahwa Menak Senoyo mengenalkan Islam dengan penuh toleransi, seperti yang pernah ia saksikan dari pengalaman ayahnya ketika mengampuni para perompak Cina.

Cerita di atas menegaskan pula bahwa interaksi antar-bangsa merupakan hal lumrah di masa silam Nusantara hingga kemudian lahirlah Arya Damar dari ibu asal Sri Lanka. Tak heran jika ia memperlakukan para tawanan asing dengan baik. Teladan itu diturunkan pada sang anak, Arya Menak Senoyo. Demikianlah mengapa candi yang batal dibangun oleh para pemeluk Islam disebut Candhi ‘Burung’. Apabila Menak Senoyo berdakwah dengan kekerasan, tentu bukan nama itu yang diambil; mungkin saja Candhi Ancor (Candi yang Dihancurkan). Terakhir, kisah Arya Menak Senoyo harus menjadi penguat integritas bangsa. Sejarah interaksi lintas-daerah Majapahit (Jawa), Palembang, dan Madura semestinya mendidik kita untuk tidak terpecah belah walau terpisah bentang geografis. Jangan sampai ada gesekan destruktif menyoal, “Di daerah mana capres X menang, atau capres Y kalah ?,” termasuk penyebutan (tudingan) “Islam Garis Keras” pada wilayah tertentu hanya karena hasil perolehan suara dalam kontestasi politik lima tahunan !

 

*Penulis Buku Kesejarahan Asal Madura Berdomisili di Sumatera

 

Sumber :

Graaf, Hermanus Johannes de, Theodore Gauthier Th. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa : Kajian Sejarah Politik Abad Ke-15, Jakarta : Grafitipers, 1985.

Koentjaraningat, Ritus Peralihan di Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1985.

Ma’arif, Syamsul, The History of Madura, Yogyakarta : Araska, 2015.

Murray, Melanie A., Island Paradise : The Myth an Examination of Contemporary Carribean and Sri Lanka Writing, Amsterdam : Rodopi, 2009.

Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas : Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018.

Pramasto, Arafah, Noftarecha Putra, Rampai Sejarah Keindonesiaan dan Keislaman, Bandung : CV Jejak, 2018.

Pringgoharjono, Kestity, dkk., The Centhini Story : Javanese Journey of Life, Singapore : Marshall Cavendish, 2006.

Rapanie, A., Tekstil : Pembuatan dan Penggunaannya, Palembang : Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, 2010.

Sadik, A. Sulaiman, Sangkolan, Pamekasan : Dinas P dan K Kabupaten Pamekasan, 2006.

Sastrosubroto, Arafah Pramasto, Sapta Anugrah Ginting, Sejarah Tanah-Orang Madura : Masa Awal, Kedatangan Islam, Hingga Invasi Mataram, Yogyakarta : Leutikaprio, 2018.

Sindhunata, Putri Cina, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Sukamto, Perjumpaan Antar Pemeluk Agama di Nusantara, Yogyakarta : Deepublish, 2015. Yass, B., Cerita Rakyat dari Sumatera Selatan Volume 2, Jakarta : Grasindo, 1996.

Zumar, Dhorifi, Tenun Tradisional Indonesia, Jakarta : Dewan Kerajinan Nasional bekerjasama dengan Ditjend Industri Kain dan Menengah, 2009.

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Pelantikan
Link Banner
Link Banner

Catatan

Opini dan Resensi

Fans Page

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional