Menu

Asta Nyorot Kiai Bandungan; Ta’zhim Berbuah Karomah

  Dibaca : 147 kali
Asta Nyorot Kiai Bandungan; Ta’zhim Berbuah Karomah
Prasasti di nisan Kiai Bandungan, di Asta Batuampar, Guluk-guluk, Sumenep. (Foto/RB Ja'far Shadiq for Mata Madura)
Link Banner

BATUAMPAR, suatu daerah di ujung barat kabupaten Sumenep, yang kini secara administratif masuk kawasan kecamatan Guluk-guluk, memiliki kaitan penting dengan sistem pemerintahan sekaligus peradaban di ujung timur nusa garam ini; khususnya dinasti terakhir di era keratonisasi.

Seperti yang diketahui, Sumenep, berdasarkan sistem pemerintahannya bisa dibagi menjadi empat jaman. Jaman yang pertama merujuk pada masa Aria Wiraraja, yaitu masa feodalisme ketika Madura menjadi wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa. Aria Wiraraja merupakan tokoh yang membidani lahirnya Majapahit yang kelak berkembang menjadi Nusantara. Masa itu Sumenep menjadi wilayah mardikan (perdikan, suatu wilayah yang semi mandiri, karena dalam hal kewajiban membayar pajak dibebaskan).

Jaman atau fase kedua, ialah masa transisional, yaitu masa awal bangsa Belanda dengan VOC-nya menancapkan kuku penjajahan di bumi Nusantara ini. Kemudian setelahnya, masuk pada fase neofeodalisme, yaitu fase “keratonisasi” bertengger kembali dengan dukungan (lebih tepatnya campur tangan) kolonialisme Belanda. Fase ini sekaligus juga jaman ketiga.

Fase selanjutnya ialah masa runtuhnya neofeodalisme yang ditandai dengan hadirnya penjajahan Jepang dan awal-awal berdirinya Pemerintah Republik Indonesia.

Nah, Batuampar (yang dikenal dengan Batuampar Timur, untuk membedakan dengan Batuampar Barat Pamekasan), terkait erat dengan dinasti terakhir yang masuk era ketiga di atas. Kenapa? Karena pembuka dinasti terakhir ini berasal dari daerah pinggiran sekaligus pedalaman bernama Batuampar ini.

Kawasan Keramat

Asal-mula Batuampar tidak banyak diketahui. Cerita tutur maupun babad mengatakan daerah ini merupakan area yang tidak begitu ramai. Sehingga di sekitar pertengahan kedua abad 17, seorang lelaki muda yang alim dan arif menjejakkan kakinya pertama kali di sana. Lelaki itu bernama Bindara Bungso atau Entol Bungso. Nama dagingnya Abdullah bin Abdul Qidam. Disebut bungso karena dari kisah lisan beliau adalah anak bungsu dari Kiai Abdul Qidam di Arsoji (Pamekasan) dengan Nyai Asri (asal Sendir, yaitu anak Kiai Sendir III).

“Dalam satu riwayat lain, disebut juga Entol Bungso karena beliau anak tunggal. Dalam istilah madurana sareyang sekaligus bungso,” kata R. B. Ramadlan, salah satu tokoh di Batuampar pada Mata Madura.

Berdasar kisah yang tertuang di buku Babad Songennep karangan Raden Werdisastra, disebut bahwa awal mula hijrahnya Bindara Bungso ke Batuampar karena perintah ayah angkat, yang juga pamannya, yaitu Kiai Raba (Kiai Abdurrahman), Pademawu Pamekasan.

Kiai Raba, sang Wali Agung Pakunya Pulau Madura itu memang tidak memiliki anak. Sehingga beliau mengambil anak dari saudara perempuannya, Nyai Asri, sebagai murid sekaligus anak angkat. Konon, paman-keponakan itu memiliki banyak kesamaan, khususnya dalam hal kepribadian dan pangkat kewaliyan. Ketika Kiai Raba tidak mengajar santrinya di Raba, Bindara Bungso yang menggantikan. Hingga di suatu saat, sang keponakan itu “diusir” ke Batuampar.

“Tempatilah daerah itu. Karena kamu yang akan menurunkan penguasa atau raja Sumenep hingga tujuh turunan,” dawuh Kiai Raba kepada Bindara Bungso.

Berangkatlah kemudian, Bindara Bungso dengan ditemani empat orang santrinya. Sesampainya di tempat yang ditunjuk oleh pamannya, dalam sebuah riwayat tekstur tanah yang serupa dengan tanah di Raba, Bindara Bungso membangun sebuah bilik dan langgar kecil. Di sana beliau tidak langsung berdakwah, namun menjadi tabib.

“Orang-orang setempat datang kepada beliau terkait permasalahan hidup sehari-hari. Ada yang sakit, diberi air lalu atas ijin Allah, sembuh. Ada yang tidak punya uang, beras, dan lain-lain cuma didoakan atau diberi sesuatu, lalu atas ijin Allah menjadi kaya dan lain sebagainya. Nah, lambat laun, masyarakat tidak datang terkait permasalaha hidup, namun menimba ilmu agama. Kemudian barulah beliau mengajar,” kata R. Abubakar salah satu tokoh di Batuampar lainnya.

Bindara Bungso pun lambat laun menjadi tokoh keramat. Tak hanya itu, anak-anak beliau juga dikenal menjadi sosok yang alim, arif, dan dikenal keramat. Di antara putra-putra beliau yang dikenal menjadi waliyullah ialah Bindara Saut (raja Sumenep), Kiai Ibrahim (K. Saba), dan Kiai Asiruddin (Buju’ Asta Nyorot). Tokoh yang disebut terakhir merupakan sosok yang menjadi objek utama tulisan ini.

Pasarean Nyorot

Saat ziarah ke pasarean Kiai Agung Batuampar atau Kiai Abdullah Bindara Bungso, di Batuampar, ada sebuah pemandangan tak biasa. Sebuah pasarean atau makam dengan model sama di bagian paling barat itu menarik perhatian peziarah.

Pasarean Kiai Bandungan di Asta Batuampar Guluk-guluk, Sumenep. (Foto/RM Farhan)

Pasalnya, makam itu berada di luar garis atau shaf. Padahal makam-makam lain berjejer lurus. Usut punya usut pasarean itu adalah pasarean salah satu putra Bindara Bungso yang wafat ketika ayahnya masih hidup. Kiai Asiruddin namanya.

Dalam buku sejarah maupun babad, Kiai Asiruddin ini dikenal dengan nama Kiai Bandungan. Bandungan merupakan sebuah Desa di Kecamatan Pakong, Pamekasan. Berada di batas wilayah Sumenep dengan Kota Gerbang Salam.

Diriwayatkan, beberapa tahun setelah Kiai Asiruddin wafat, ayahnya, Bindara Bungso juga menghadap ke hadlirat-Nya. Jenazah Bindara Bungso lantas dimakamkan di sebelah timur Kiai Asiruddin. Lurus atau berjejer. Namun, atas ijin Allah SWT, keesokan harinya, makam Kiai Asiruddin berpindah tempat. Makam itu “nyorot” atau mundur. Posisi kijing bagian kepala mundur, dan jika ditarik lurus berada di posisi bagian kaki pasarean ayahnya, Bindara Bungso.

“Kalau menurut sesepuh turun-temurun istilahnya ta’zhim. Jadi Kiai Asiruddin merasa kurang adabnya jika posisinya sama dengan sang ayah, sehingga karena takut ‘cangkolang’, pasarean beliau pindah tempat. Hal itu merupakan salah satu karomah bagi para waliyullah,” jelas R. Abubakar, salah satu narasumber di atas, yang masih keturunan langsung Kiai Ibrahim bin Bindara Bungso.

Bekas makam asal Kiai Bandungan hingga awal milenium kedua masih ada. Namun kini bekas itu sudah hilang saat area pasarean agung di Batuampar itu direnovasi. “Dulu ada tanda berupa batu makam berbentuk persegi. Batu itu memang dibiarkan sejak jaman kuna dulu,” jelas Bakar.

Dalam catatan silsilah Keraton Sumenep, Kiai Asiruddin bersaudara seayah seibu dengan Bindara Ibrahim alias Kiai Saba, yaitu yang mengganti Bindara Bungso di Batuampar. Beliau juga bersaudara lain ibu dengan Bindara Saut alias Tumenggung Tirtonegoro, Rato Sumenep.

Kiai Asiruddin, menurut riwayat keluarga Bandungan yang diceritakan kembali oleh R B Ja’far Shadiq, pemerhati sejarah di Batuampar, memang wafat di Batuampar. Sebelumnya, saat beliau sakit, beliau masih ada di Bandungan. “Lalu berdawuh agar dibawa ke Batuampar, karena konon beliau merasa bahwa ajalnya sudah dekat, dan ingin berjumpa dengan ayahnya, serta berwasiat agar dimakamkan di sana,” kata Ja’far.

Dalam catatan Bandungan, Kiai Asiruddin disebut memiliki beberapa orang putra-putri. Di antaranya Kiai Syamsuddin, Kiai Mellan, dan Kiai Damala. Dari beberapa anaknya itu, banyak keturunan beliau yang menjadi tokoh alim ulama di Pamekasan hingga saat ini.

R. B. M. Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional