Bangkalan, Antara Arus Deras Kemajuan dan Ketidakberdayaan

Oleh : Hasin *
Oleh: Hasin*

Bangkalan sebagai kabupaten di ujung barat pulau Madura merupakan kabupaten dengan letak geografis yang sangat strategis melihat posisinya yang merupakan pintu masuk dari pulau Jawa menuju ke pulau Madura melalu jembatan nasional Suramadu, selain itu letak kabupaten Bangkalan yang berbatasan langsung dengan kota terbesar kedua yaitu Surabaya tentu akan menjadi nilai lebih terkhusus bagi pemekaran wilayah ekonomi strategis dan investasi yang dampaknya diharapkan dapat membuka banyak  lapangan pekerjaan sehingga bisa menyerap banyak tenaga kerja serta mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan yang akan secara otomatis meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di kabupaten Bangkalan.

Penetapan Bangkalan sebagai kota zikir dan solawat yang bertujuan agar semua elemen masyarakat Bangkalan tidak terkecuali para pejabat dan pemangku kebijakan akan merasa malu jika ingin melakukan tindakan maupun kebijakan yang tidak berlandaskan pada agama dan kebaikan yang bermanfaat untuk masyarakat Bangkalan pada khususnya dan masyarakat secara keseluruhan pada umumnya yang tentu akan berdampak pada kemajuan masyarakat yang aman, damai dan sejahtera selaras dengan cita-cita kita semua.

Terdapatnya sebuah tokoh sentral yang menjadi panutan berbagai ummat manusia tidak hanya di Indonesia namun harum semerbak namanya tercium di beberapa belahan dunia seharusnya mampu menjadi tauladan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara lebih-lebih dalam memimpin sebuah pemerintahan yang adil dan berkeadilan sosial bagi seluruh masyarakat Bangkalan sehingga sudah sepatutnya ulama besar Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan menjadi panutan, contoh serta tauladan karena beliau merupakan ulama asli kelahiran Bangkalan kalau sekiranya kita tidak mau terlalu jauh menoleh ke belakang untuk mentauladani baginda rasul Muhammad SAW.

Namun apa yang terjadi saat ini justru jauh api dari panggang. Ketimpangan sosial, pengangguran, kekerasan, Narkoba, dan korupsi masih menjadi isu sensitif yang akan menyedot banyak perhatian sehingga tak ayal kabupaten Bangkalan masih ditetapkan sebagai zona merah dan masuk kategori kabupaten tertinggal di wilayah Jawa Timur walaupun jembatan Suramadu yang menjadi icon pembangunan sudah diresmikan 8 tahun yang lalu lamanya.

Lalu siapa yang salah? Saya ingin menegaskan bahwa saya melalui tulisan ini bukan dalam kapasitas untuk menyalahkan satu orang atau kelompok maupun golongan, saya hanya ingin menggugah yang belum sadar agar segera sadar, yang masih tidur segeralah bangun, dan yang pura-pura tidur secepatnya untuk menyudahi sandiwara yang sedang di lakonkan, yang belum mengambil peran kini saatnya untuk bersuara lantang meneriakkan arus perubahan menuju perbaikan.

Kenapa saya berkesimpulan hanya untuk perubahan, karena hampir semua (kalau tidak mau dikatakan semuanya) para bakal calon Bupati membawa isu perubahan, bahkan dari calon petahana sekalipun. Sehingga jika di ibaratkan sebuah musawarah untuk menuju mufakat kita semua sudah bersepakat bahwa era sebelumnya kita telah keliru dalam memilih pemimpin sehingga saat ini kita butuh perubahan. Namun perubahan seperti apa? Ini yang menjadi konsentrasi menarik, Jangan sampai isu perubahan yang di gaung-gaungkan hanyalah pemanis belaka dan kita akan kembali terperosok di lubang yang sama.

Jadi di pesta demokrasi yang akan datang calon pemimpin yang benar-benar membawa misi perubahan lah yang harus kita dukung, sekaligus memenangkan menjadi pemimpin masa depan Bangkalan. siapa dia? Silahkan beri penilain sendiri dan tentukan pilihan sendiri, karena kita sendiri pula yang akan menikmati hasil dari demokrasi yang mahal ini.

*Hasin, Wartawan Mata Madura

Tinggalkan Balasan