Menu

Bindara Saut, Tokoh Legendaris Keraton Sumenep; Pembuka Dinasti Pamungkas (1750 – 1929 M)

Bindara Saut, Tokoh Legendaris Keraton Sumenep; Pembuka Dinasti Pamungkas (1750 – 1929 M)
Panembahan Mohammad Shaleh (duduk di kursi), raja (adipati) terakhir Dinasti Saut di Sumenep. Setelah beliau terjadi penghapusan status keraton menjadi kabupaten. (Foto Collections KITLV Digital Image Library Universiteit Leiden The Netherlands)
Link Banner

BINDARA Saut (Shawt/Saot) merupakan pembuka dinasti baru di Sumenep. Dinasti ini sekaligus dinasti terakhir yang memiliki banyak peninggalan bersejarah penting dan sekaligus masih original. Seperti di antaranya Masjid Jami’, kompleks Asta Tinggi, dan bangunan Keraton di Pajagalan sebagai karya monumental dinasti ini. Secara historis, dinasti ini berdiri hampir dua abad lamanya, mulai 1749 (1750) hingga 1929 Masehi.

Dalam beberapa catatan kuna, maupun kisah pitutur para sepuh (riwayat lisan), Bindara Saut berasal dari desa Batuampar (sekarang masuk kecamatan Guluk-guluk), desa paling barat di Sumenep yang menjadi batas administratif kabupaten paling timur ini dengan daerah Pamelingan atau yang kini disebut sebagai kabupaten Pamekasan.

Bindara Saut merupakan putra Kiai Abdullah atau Bindara Bungso, yang dikenal juga dengan sebutan Kiai Agung Batuampar. Batuampar yang merupakan dataran tinggi itu dibabat oleh Bindara Bungso atas dasar petunjuk paman sekaligus gurunya, yaitu Kiai Abdurrahman alias Kiai Agung Raba di Pademawu, Pamekasan. Perintah itu berawal dari isyarat langit yang diterima Kiai Agung Raba, bahwa Bindara Bungso akan menurunkan raja-raja di Sumenep periode selanjutnya.

Konon Bindara Bungso disuruh mencari lokasi yang di situ terdapat hamparan batu besar, yang selanjutnya dari lokasi itu dikenallah sebutan Batuampar untuk tempat tersebut, yang dari asal kata bato ngampar. Ketika membabat tempat itu, Bindara Bungso hanya ditemani empat orang santri dari Raba yang selanjutnya menjadi khadam beliau.

Lambat laun, kedatangan Bindara Bungso tercium oleh masyarakat yang dekat dengan kawasan berupa alas belantara itu. Awalnya mereka datang mengeluhkan permasalahan hidup, seperti ada yang mengeluhkan sakit yang kunjung sembuh hingga permasalahan-permasalahan lainnya. Kedatangan mereka ke Bindara Bungso membuahkan hasil. Atas ijin Allah, melalui karomah Bindara Bungso setiap persoalan yang diadukan selalu teratasi. Yang sakit lama, langsung sembuh. Yang ekonominya pas-pasan bahkan selalu kekurangan, atas kehendakNya menjadi sebaliknya, melimpah-ruah.

Dari sana, kemudian banyak orang yang  mohon ijin tinggal di sekitar tempat khalwat Bindara Bungso. Sehingga tak lama kemudian Batuampar menjadi pedukuhan dan mulai ramai penduduk.

Karena mengetahui bahwa Bindara Bungso adalah orang alim di bidang agama, banyak kemudian yang nyantri pada beliau. Sehingga nama Bindara Bungso mulai populer. Namanya bahkan tercium oleh raja Sumenep. Setelah tahu akan sosok besar Bindara Bungso sekaligus asal-usulnya, akhirnya raja menghadiahkan wilayah Batuampar pada Bindara Bungso, dan menjadikannya sebagai wilayah mardikan (merdeka). Yaitu wilayah yang dibebaskan dari pajak. Sejak saat itu, Bindara Bungso dikenal dengan sebutan Kiai Batuampar.

***

Bindara Saut diperkirakan lahir di awal kurun 1700-an Masehi. Tidak ada petunjuk lisan maupun tulisan mengenai hari, tanggal, hingga tahunnya. Hanya, peristiwa sebelum kelahirannya dikenal melegenda. Dan terus menjadi perbincangan dengan diceritakan turun-temurun.

Syahdan, di suatu waktu, Bindara Bungso memanggil isterinya yang  bernama Nyai Nurima atau Nairima. Saat itu Nyai Nurima tengah hamil tua.

Saat dipanggil, Nyai Nurima tengah shalat. Sehingga panggilan sang suami tak bisa dijawabnya. Setelah berkali-kali tak ada sahutan, tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang menjawab panggilan Bindara Bungso, “ebu gi’ asholat, Kai.” Yang arti bebasnya, “ibu masih shalat, wahai ayah”.

Sontak, Bindara Bungso tertegun. Beliau mencari arah datangnya suara tersebut. Namun yang dijumpainya hanya sang isteri yang baru saja mengucapkan salam sehabis shalat. Lantas Bindara Bungso bertanya pada Nyai Nurima.

“Siapa anak yang barusan menjawab panggilanku?”.

“Anak di dalam kandunganku, ini,” jawab Nyai Nurima, pasti.

Peristiwa tersebut yang konon menjadi latar belakang pemberian nama Saut. Karena sudah bisa menyahut sejak dalam kandungan. Sebuah karomah luar biasa, yaitu karunia kemuliaan dari Allah pada seseorang sebelum ia bertaqwa. Lidah Madura lantas menyebutnya Saot. Sehingga putra Bindara Bungso dengan Nyai Nairima itu dikenal dengan sebutan Bindara Saut atau Bindara Saot. Bindara adalah paduan kata arab bin

Dalam sebuah naskah tulisan kuna berhuruf dan berbahasa Arab, Bindara Saut ditulis dengan huruf shad, wawu, dan ta’. Dibaca Showtun, atau Showt, yang maknanya suara. Naskah kuna yang diperkirakan ditulis oleh salah satu putra Sultan Abdurrahman itu kini tersimpan di kampung Pangeran Le’nan, kelurahan Kepanjin, Sumenep.

Sebagian ahli sejarah di kalangan keluarga keraton menyandarkan nama Saot pada bahasa Madura. Namun sebagian lain mengatakan bahwa itu dari bahasa Arab, showt. Dan sebagian lagi mengatakan bahwa, Saot hanyalah gelar atau julukan saja. Dengan kata lain Saot atau Saut bukan nama daging.

*****

Sejak kecil, konon Bindara Saut sudah banyak menampakkan keistimewaan atau kelebihan di banding anak-anak sebayanya. Beliau juga dikenal sangat cerdas, dan mampu dengan cepat menangkap pelajaran gurunya.

Di usianya yang masih kecil, Bindara Saut dikirim oleh ayahnya ke Lembung (sekarang nama desa di wilayah kecamatan Lenteng. Di sana Saut kecil mengaji di pesantren pamannya, yaitu Kiai Fakih atau Kiai Pekke, saudara kandung ibunya.

Suatu malam, di saat semua santri terbuai mimpi, Kiai Pekke yang biasa jaga malam melihat sebuah bintang jatuh dan masuk ke dalam bilik santri. Bintang itu menjelma cahaya dan jatuh tepat pada salah satu santri. Santri itu seperti terbakar dan menyilaukan, sehingga Kiai Pekke tak bisa mengenalinya. Lantas beliau memberi tanda pada kain sarung yang dikenakan santri itu dengan membakar ujungnya sedikit.

Keesokan hari, Kiai Pekke memeriksa para santri. Dan ternyata yang ada tanda di ujung sarungnya ialah Bindara Saut. Lalu Kiai Pekke bersabda,”Ketahuilah, aku telah mendapat petunjuk bahwa kamu in sya Allah akan menjadi Raja Sumenep hingga tujuh turunan.”

*****

Bindara Saut menikah dengan Nyai Izzah, putri Kiai Jalaluddin dengan Nyai Galu. Nyai Galu, Kiai Pekke dan Nyai Nurima (ibu Bindara Saut), bersaudara kandung. Ketiganya adalah putra-putri Kiai Khathib Bangel, di Parongpong, Kecer, Dasuk.

Jadi dengan demikian, antara Bindara Saut dengan Nyai Izzah masih bersaudara sepupu. Pernikahan ini membuahkan dua anak laki-laki, yaitu Baha’uddin dan adiknya, Asiruddin (dalam sebuah catatan ditulis Nashiruddin).

Sepeninggal Kiai Pekke, Bindara Saut menggantikan pamannya morok (mengajar). Salah satu kebiasaan Bindara Saut ialah sering keluar rumah dengan pakaian penyabit rumput, sambil membawa garunju (tempat sabitan rumput). Hal itu dilakukannya untuk menutupi keadaan dirinya yang dikenal alim dan ‘arifbillah.

Hingga suatu saat datanglah utusan dari keraton Sumenep dengan membawa pesan Ratu Rasmana. Saat itu Bindara Saut dengan busana penyabit rumput dan peralatannya dijumpai punggawa keraton. Setelah menyampaikan maksud berupa undangan dari Ratu, Bindara Saut pun langsung bergegas ikut. Beliau memilih langsung berangkat tanpa mengganti pakaian dengan yang bagus atau pun membuang garunju-nya dalam perjalanan.

Sesampainya di keraton terjadilah kejadian yang tak lazim dalam sejarah mana pun. Seorang lelaki penyabit rumput dari desa Lembung dipinang langsung oleh seorang ratu. Setelah Bindara Saut setuju, dilangsungkanlah aqad nikah. Aqad nikah yang membawa perubahan angin dalam sejarah keraton Sumenep. Perubahan angin berupa masuknya pengaruh dan aroma pesantren dalam lingkaran feodalisme.

Selepas itu, dengan menikahnya Bindara Saut dengan Ratu Rasmana dilakukan pemindahan kekuasaan dari isteri ke suami. Bindara Saut ditabalkan sebagai raja (adipati) Sumenep dengan gelar Tumenggung Tirtonegoro pada tahun 1750 Masehi.

Dengan Ratu Rasmana, Bindara Saut tidak memiliki keturunan. Sehingga dengan permintaan Ratu, kedua putra Bindara Saut di Lembung didatangkan ke keraton. Sang Ratu berkenan mengeluarkan wasiat resmi agar putra termuda, Asiruddin diangkat sebagai raja sepeninggal ayahnya. Asiruddin naik tahta pada 1762 Masehi dengan gelar Panembahan Notokusumo. Beliau juga lebih dikenal dengan nama Panembahan Sumolo atau Somala, karena beliaulah yang mula-mula memakai gelar panembahan. Sebelumnya, penguasa Sumenep hanya bergelar Pangeran atau Tumenggung saja.

Bindara Saut dan Panembahan Sumolo membuka kran sistem dan tradisi baru. Di mana waktu itu di Sumenep geliat religi begitu kental. Pemerintah lebih banyak melibatkan unsur-unsur pesantren dalam tata pemerintahan. Simbol-simbol perangkat keraton juga lebih kental dengan nuansa Islami. Ghirah memperdalam ilmu agama juga menjadi tradisi putra-putra raja.

Masa keemasan Sumenep terjadi di generasi ketiga dinasti Saut, yaitu di masa Sultan Abdurrahman Pakunataningrat. Di masa ini Sumenep tak hanya disegani oleh pihak serumpun namun juga kalangan kolonial asing.

Pangeran Ario Pakunataningrat, Bupati Pertama (1eRegent) Sumenep. Sejak masa ini hak tanah milik keraton diambil alih kelola oleh kolonial Belanda. Penguasa (bupati), keluarga bangsawan dan para pejabat keraton diberi tunjangan bulanan (onderstand) . (Foto Collections KITLV Digital Image Library Universiteit Leiden The Netherlands)

Setelah Sultan Abdurrahman, tampuk pemerintahan pindah ke tangan putranya yaitu Panembahan Muhammad Shaleh yang memakai gelar ayahnya, Notokusumo ke-II—gelar Sultan Abdurrahman sebelum berganti Pakunataningrat. Secara de jure, Panembahan Muhammad Shaleh merupakan raja (adipati terakhir), karena sepeninggal beliau, kekuasaan monarki Sumenep berakhir. Putra Panembahan Mohammad Shaleh, Pangeran Ario Pakunataningrat, statusnya dijadikan bupati pertama (1eRegent). Tanah-tanah milik keraton diambil alih kolonial. Bupati dan bawahannya mendapat ganti hak atas tanah berupa tunjangan yang disebut Onderstand.

Belakangan onderstand juga diberikan pada seluruh keluarga bangsawan perorang f.70 perbulan (angka fantastis di masa itu). Sebuah pil manis yang sejatinya pahit. Karena kalangan bangsawan digiring menjadi pribadi yang dimanjakan fasilitas, dan tak sedikit yang malas sekolah. Pasalnya, bagi bangsawan terpelajar yang menjadi pegawai justru tunjangan onderstandnya dicabut diganti dengan gaji kantoran yang jumlahnya lebih kecil. Kondisi ini tak hanya terjadi di Sumenep, namun juga di seluruh Madura.

Sepeninggal Pangeran Pakunataningrat, jabatan bupati tetap diberikan pada putranya, yaitu Pangeran Ario Pratamingkusumo. Setelah Pratamingkusumo, bupati dijabat oleh putranya yang bernama Raden Tumenggung Ario Prabuwinoto (1926 – 1929 M). Tujuh turunan, sesuai dengan ramalan leluhur dinasti ini.

Prabuwinoto yang tak punya anak lelaki digantikan oleh Raden Samadikun, dari keluarga Kanoman Surabaya. Pergantian itu tentu saja merupakan campur tangan kolonial. Hingga Indonesia merdeka, beberapa bupati yang notabene di luar keluarga bangsawan Sumenep mengendalikan kota paling timur ini. Madura sendiri resmi bergabung pada NKRI pada 1950.

Di masa orde baru, sesuai kebiasaan, perubahan angin terjadi. Kalangan militer selama beberapa periode (mulai Soemar’oem hingga Sukarno Marsaid) menduduki kursi bupati. Tak begitu lama, perubahan kembali datang, kepemimpinan Sumenep kembali ke titah para kiai, hingga Abuya Busyro Karim yang kini masuk periode kedua.

R M Farhan Muzammily

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

DISWAY

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional