Bingkai Sosok Syafii Dalam Pusaran Politik Dan Angin Perubahan

“Saya ingin pensiun dari seluruh hiruk pikuk politik. Bagaimana rasanya menikmati masa pensiun.”

Achmad Syafii, Bupati Pamekasan, Selasa (12/04/16)

MataMaduraNews.Com-PAMEKASAN-Kalimat itu merupakan kata-kata yang terluncur dari mulut Achmad Syafii, Bupati Pamekasan, lebih kurang satu tahun lalu. Konon hal itu merupakan jawaban sang bupati dua periode ini mengenai opini yang mengatakan isterinya, Anni Syafii, untuk maju di Pilbup 2018 mendatang. Dengan kata lain, Syafii membantah sang isteri akan melanjutkan kepemimpinannya dengan ikut bertarung di kontes pilbup nanti.

Bupati Pamekasan, Achmad Syafii. (Foto: Istimewa)
Bupati Pamekasan, Achmad Syafii. (Foto: Istimewa)

“Saya jenuh. Lebih dua puluh tahun berkecimpung di dunia politik tanpa henti,” katanya di saat yang sama.

Meski begitu, Syafii menginginkan, ke depan, dinamika politik di Pamekasan bisa lebih baik lagi. Ia mengajak semua elemen masyarakat mengawal bersama dinamika politik di Pamekasan. “Kalau hanya beda pandangan, beda pendapat, beda pilihan tidak perlu bermusuhan. Apalagi bermusuhan sampai berjemaah dan hingga tujuh turunan. Ini jangan sampai terjadi,” ingatnya.

Keinginan Syafii mengenai dinamika politik di Pamekasan masa yang akan datang, hanyalah waktu yang bisa menjawabnya. Namun, keinginannya menikmati masa pensiun pasca menuntaskan jabatannya sebagai bupati Pamekasan, mungkin tidak akan pernah terwujud. Pasalnya, kemarin, Rabu (02/08/17), politikus handal ini digiring komisi anti rasuah ke gedung KPK di Ibu Kota. Syafii diduga terlibat dalam OTT yang melibatkan jajarannya dengan oknum Kejaksaan Negeri Pamekasan. Bahkan, di hari yang sama, Syafii termasuk dalam daftar tersangka yang ditetapkan KPK.

Dua Periode Pimpin Gerbang Salam

Syafii merupakan putra daerah. Keluarga dan leluhurnya bertumpah-darah Pamellengan. Syafii berasal dari keluarga kiai. Ayahnya, Kiai Yasin memiliki hubungan kekerabatan dan silsilah dengan keluarga kiai-kiai di Pademawu, Pamekasan.

Pria kelahiran 11 September 1964 ini mengawali karier politiknya dengan bergabung bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Karier politiknya moncer, ia lantas menjadi anggota DPRD Pamekasan dari partai berlambang Ka’bah tersebut periode 1997-1999 dan 1999-2003.

Lepas dari jabatannya sebagai wakil rakyat, Syafii naik daun. Ia malah berhasil menduduki kursi Bupati Pamekasan periode 2003-2008. Kalah dalam bursa pilbup dengan Khalilurrahman, tidak membuat bintang Syafii pudar. Ia justru berhasil melenggang ke Senayan. Syafii menjadi anggota DPR RI yang berangkat dengan kendaraan PD (Parta Demokrat). Ia duduk di kursi wakil rakyat periode 2009-2014 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur XI, yang meliputi empat kabupaten di Pulau Madura; yaitu Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Belum selesai pengabdiaannya di Senayan, Syafii harus menduduki kursi nomor satu di Pamekasan kembali. Ia berhasil menyingkirkan rival politiknya, Khalilurrahman. Kendati Khalil berhasil mengantongi dukungan sekitar 20 orang tokoh ulama dan kiai di Pamekasan, yang sebelumnya mendukung Syafii.

Namun, angin tidak selalu berhembus dari satu arah. Terkadang, perubahan angin begitu cepat. Belum selesai perjalanan Syafii di periode kedua ini, politisi tangguh dan lihai ini harus terseret kasus OTT. Bagaimana endingnya nanti? Kita tunggu perubahan angin selanjutnya.

R M Farhan

Tinggalkan Balasan