Bu’-Sobu’ Nowas Juko’, Ritual Panen Ikan di Kecamatan Pangarengan

Budaya adalah corak kehidupan bangsa yang hidup dalam satu naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menyatukan berbagai suku dengan ragam kebudayaan menuju satu kesepakatan perdamaian adalah satu perjuangan mulia yang patut kita jaga dan lestarikan.

 

PRAKTEK: Simulasi Ritual Bu'-Sobu' Nuwas Juko' di Desa Pangarengan, Kecamatan Pangarengan, Sampang. (Foto Kirom, Mata Madura)
PRAKTEK: Simulasi Ritual Bu’-Sobu’ Nuwas Juko’ di Desa Pangarengan, Kecamatan Pangarengan, Sampang. (Foto Kirom, Mata Madura)

MataMaduraNews.comSAMPANG – Desa Pangarengan merupakan desa yang secara geografis terletak paling selatan di pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sampang. Mayoritas mata pencaharian desa tersebut adalah nelayan dan penghasil garam. Namun, di situlah produk budaya justru lahir sebagai keseharian.

Setiap nelayan mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menghasilkan ikan, tak terkecuali di Kecamatan Pangarengan Sampang, yang mempunyai ritual khusus pada saat panen ikan. Biasa dikenal dengan sebutan bu’-sobu’ nowas juko’, adalah adat yang diciptakan oleh seorang sesepuh dan salah seorang warga di Desa Pangarengan. Hingga sekarang, ritual tersebut masih terpelihara karena banyak yang melakukan. Meski ada pula yang tak lagi melakukan, mengingat zaman yang semakin berkembang.

Menurut cerita, kelahiran ritual bu’-sobu’ nowas juko’ tak dapat dihilangkan dari peran seorang sesepuh desa setempat. Karena pada dasarnya, sebuah daerah memang tidak bisa kita lepaskan dari peranan penting seorang tokoh, terutama dia yang bisa melahirkan suatu hal yang bisa berguna bagi masyarakat sekitar. Seperti halnya Buju’ Samba yang menjadi musabab lahirnya ritual bu’sobu’ nowas juko’ di Pangarengan, Sampang.

Buju’ Samba’ ini merupakan tokoh keramat di daerah sini,” kata Bardi, warga Dusun Plasah, Desa Pangarengan pada Mata Madura.

Dikenal dengan sebutan Buju’ Samba’ ada kisah tersendiri. Hal itu diambil dari salah satu kalimat yang diucapkan Buju’ tersebut saat mengusir setan atau roh jahat di sekitar tambak dengan mengibaskan pohon tebu. Bunyi kalimatnya ialah: ”da’essa’ kake, ja’ aba’-semba’ e tang tamba’. Artinya, ”enyahlah kalian, jangan berkeliaran di tambak saya”.

***

PRAKTEK: Simulasi Ritual Bu'-Sobu' Nuwas Juko' di Desa Pangarengan, Kecamatan Pangarengan, Sampang. (Foto Kirom, Mata Madura)
PRAKTEK: Simulasi Ritual Bu’-Sobu’ Nuwas Juko’ di Desa Pangarengan, Kecamatan Pangarengan, Sampang. (Foto Kirom, Mata Madura)

Kira-kira 6 bulan sebelum panen ikan, nelayan dalam menabur benih ikan pertama kali menyertakan cok-racok yang terdiri dari bawang merah, bawang putih dan cabai. Kenapa menyertakan itu? ”Karena cabe, bawang merah, dan bawang putih adalah bahan yang digunakan untuk seorang meracik sambal atau palappa. Dengan kesimpulan agar ikan yang ditanam atau disebarkan mempunyai rasa yang enak dan nikmat,” kata Musleh, warga Dusun Plasah lainnya, beberapa waktu lalu.

Ketika ditanya sejarah pertama kalinya, menurut Musleh, para tokoh masyarakat hanya mengiaskan saja pada hewan seperti kambing atau sapi yang mau disembelih yang biasanya di atas perut si kambing diberi palappa. Mereka juga tidak menyertakan buah racokan yang lain, karena ketiganya sudah dianggap cukup. Dalam artian, ketiga jenis bahan bumbu dapur tersebut sudah representatif dari cok-racok yang sering digunakan untuk membuat sambal.

Setelah nelayan menunggu hasil panen sekitar 6 bulan. Ikan-ikan yang ada di tambak tersebut akan dipanen (towas) dengan memakai alat seperti biasanya yaitu jaring. Pada saat panen masyarakat tentunya ingin selamat dan hasil tangkapannya banyak. Maka dengan keyakinan mereka, mereka membawa bu’-sobu’ atau sesajen.

”Pertama-tama mereka akan mempersiapkan bu’-sobu’ seperti menancapkan pohon tebu di dekat jalannya air (klobongan) dan membakar kemenyan berikut menaruh dua jajanan pespes dan kocor,” ujar Musleh.

Pemasangan itu juga disertakan permohonan pada Allah atau berdoa agar tangkapan ikannya tahun ini banyak dan berkah. Dengan pembacaan basmalah dan sholawat mereka memulainya. Semua ditaruh di tempat satu, yaitu di dekat klobungan. Setelah itu, masyarkat akan memulai proses penuwasan ikan tersebut seperti biasa, dengan menyurutkan air dan membentangkan jaring di tempat jalannya air/ikan yang dikenal dengan sebutan klobungan. Dan pada saat itu, ikan akan masuk ke jaring yang telah disediakan dengan mengikuti surutnya air yang mengalir ke klobungan.

Bahan-bahan ritual saat panen ikan seperti yang dijelaskan oleh Musleh maupun Bardi adalah pohon Tebu, Dupa (kemenyan), Kocor, dan Pespes.

  1. Tebu, dipercaya berkhasiat menangkal ilmu-ilmu hitam dan dapat mengusir arwah-arwah yang menggangu. Itu bermakna sama seperti daun pandan yang ditaruh di depan pintu ketika ada bayi baru lahir, yaitu agar sang bayi yang baru lahir tidak diganggu makhluk gaib. Dan agar prosesi penuasan ikan juga tidak di ganggu oleh makhluk gaib.
  2. Dupa (kemenyan). Makna dupa tidak jauh berbeda dengan yang kita ketahui selama ini, yaitu hanyalah pengharum, tetapi masyarakat mengartikan pengharum dupa sebagai simbol perdamaian.
  3. Kocor adalah salah kue penganan khas di Madura ini berbahan pokok tepung dan gula merah, yang memasaknya dengan cara digoreng. Dalam bu’sobu’ nowas juko’, bentuk kocor yang bulat melambangkan dunia yang telah ditempatkan manusia hidup dan beraktivitas sehari-hari.
  4. Pespes, juga merupakan salah kue penganan khas di Madura. Yaitu kue dari bahan tepung ketan yang di dalamnya diisi dengan misalnya pisang. Kue itu lantas dibungkus daun pisang. Simbol dari kue ini ialah semua yang ada di dunia/manusia akan menghadapi kematian, dan dibungkus kain kafan. Sehingga, pespes melambangkan jenazah manusia yang telah dibungkus kafan.

Semua sesajen itu lantas ditempatkan dalam satu wadah dan ditaruh di tempat di mana air disurutkan. Selanjutnya, sebagaimana proses yang dijelaskan di atas, nuwas juko’ siap dilakukan.

| kirom/farhan

Tinggalkan Balasan