Menu

D. Zawawi Imron Menyulam Budaya Madura (1)

  Dibaca : 243 kali
D. Zawawi Imron Menyulam Budaya Madura (1)
Link Banner

Madura, hari ini seperti primadona bagi para sekelompok investor asing. Laksana gadis perawan  sedang diperebutkan oleh korporasi transnasional. Terselip agenda eksploitasi. Padahal,  Madura bukan sekedar tumpukan tanah, laut, bukit, garam dan kekayaan alam lainnya yang tersembunyi. Madura adalah poros kebudayaan Nusantara. Redaksi Majalah Mata Madura akan menurunkan  kajian multi dimensi secara bersambung….

 

Oleh: Syarwini Syair*

MataMaduraNews.com-Ternyata, di balik tekstur tanah tegalan, bongkahan batu yang bisu, tidur merangkum nyala –meminjam kalimat puisi D. Zawawi Imron– menyimpang segudang sumber daya alam yang tak terhingga. Pasokan energi yang disediakan oleh Madura, menjadi rebutan kepentingan banyak kawanan manusia beruang.

Sebagai poros kebudayaan Nusantara adalah Madura menjadi arena akulturasi kerarifan lokal, Jawa dan Islam yang dimotori oleh para wali, kiai dan pesantren. Semakin ke Timur dari Pulau Madura, semakin jauh dari Jawa. Di situlah tradisi dan kebudayaan Madura semakin mengental dalam kehidupan masyarakatnya. Sumenep menjadi lokus paling sentral kelahiran, perkembangan, kemajuan dan tentu juga kemunduran kebudayaan Madura.

Kebudayaan Madura menampilkan sebuah citra kultural yang yang unik dan kompleks. Ia tersulam oleh beragam nilai-nilai yang disarikan dari unsur keislaman, mistisisme, alam lingkungan, dan sejumlah kearifan lain yang berupa adat kebiasaan yang beragam. Memamahi kebudayaan Madura diperlukan kesabaran dan daya nalar yang tidak gampang. Kompleksitas yang terselip di dalamnya menuntut kecerdasan tafsir dan keuletan untuk menerjemahkan ke dalam berbagai kaidah dan pola hidup keseharian.

Jamal D. Rahman, seorang budayawan Nusantara asal Madura, dalam catatan pengantarnya atas buku “Rahasia Perempuan Madura”, kumpulai esai yang ditulis Kiai Dardiri Zubairi, memberikan penjelasan bahwa menangkap fenomena sosial-budaya Madura dari permukaannya belaka, bahkan bukan saja tidak memadai, melainkan bisa menyesatkan. Diperlukan usaha menyelam jauh ke dasar nomena berbagai fenomena sosial-budaya Madura, jika kita ingin memahaminya dengan baik. Atau paling tidak, fenomena sosial-budaya Madura perlu ditempatkan dalam konteks kebudayaan Madura itu sendiri.

D. Zawawi Imron: Pengenalan Awal
Terdapat sederet nama yang agak panjang yang terhitung sebagai budayawan yang terlahir dari rahim kebudayaan Madura. Mereka adalah para “sapi kerapan” yang berlari kencang memperlihatkan kebudayaan Madura sampai pada pelosok-pelosok Nusantara dan bahkan negeri orang. Salah seorang diantara mereka adalah D. Zawawi Imron, budayawan sepuh Madura, yang tak tergoda oleh kemasyhuran sehingga tetap setia menetap di kampung halamannya. Di sebuah perkampungan (Jambangan) Batang-Batang yang masih menyimpan aroma keaslian panorama alam pedesaan Pulau Madura.

Dalam keseharian masyarakat Madura, Zawawi lebih dikenal dengan sebutan kiai. Tak ayal, Zawawi sering diundang masyarakat sekitarnya untuk memberikan tausiah keagamaan dari pada undangan membaca puisi dan kegiatan kesusastraan lainnya. Namun demikian, di tengah asyiknya bertausiah, Zawawi selalu menyelingi dengan beberapa lantunan sajak dan pantun, sehingga suasana pengajiannya menjadi lebih hidup.

Suatu hari, dalam sebuah ceramahnya, Zawawi pernah berguyon bahwa sebenar dirinya adalah seorang budayawan atau penyair, yang kemudian “dijebloskan” oleh Allah untuk menjadi kiai.

Hidayat Raharja, seorang budayawan senior Madura asal Sampang, menuturkan bahwa D. Zawawi Imron merupakan seorang budayawan yang santun, ramah dan terbuka, bisa bergaul dengan semua kalangan dan salah satu budayawan yang mampu mengangkat kultur dan peradaban Madura dalam puisi-puisinya.

Hampir semua puisi yang ditulis Zawawi selalu mecitrakan darah Madura. Metafor alam yang sering digunakan dalam puisi-puisinya merupakan suguhan semesta yang ia nikmati setiap saat dalam suasana alam perkampungan yang masih alami. Diksi-diksi yang tampak unik dan tata bahasa yang agak melampaui aturan baku, merupakan cerminan paling nyata dari adat keseharian orang-orang Madura, yang ia punguti di sudut-sudut pesisiran, pedalaman dan bebukitan, yang kemudian disulam dengan kebeningan hati, kejernihan pikiran dan lentik jemarinya menjadi sebuah sajak yang memukau nurani jutaan orang.

Saya sendiri, sering mengintip kebudayaan Madura melalui puisi-puisi yang ditulis Zawawi. Seolah ada semacam pintu besar menuju berbagai kenyataan sosial-budaya masyarakat Madura yang terekam begitu apik dalam lirik-lirik puisinya. Meskipun kini, sebagian hanya tertuang sebagai kenangan belaka.

Dalam sebuah wawancara proses kreatif, bersama Abdul Wachid BS, dengan jelas Zawawi berujar: “Saya merasakan kenikmatan tersendiri menuliskan alam dan orang Madura karena kehidupan mereka merupakan bagian kebersamaan dengan saya sebagai makhluk sosial. Saya bercerita tentang mereka, sebagaimana saya bercerita tentang diri saya. Sampai hari ini pun, karenanya, saya tak pernah meninggalkan desa saya terlalu lama, saya tidak tahan!”.

Betapa dekatnya potret kehidupan orang-orang Madura bersama kebudayaan dan peradaban mereka dengan Zawawi, yang kemudian dituangkan ke dalam lirik-lirik puisi yang ditekuninya sejak tahun 1960. Meskipun antara teks dan konteks, kadang tercipta jarak yang begitu jauh, namun Zawawi berhasil mendekatkan bahkan menyatukan keduanya dalam beberapa puisi yang ia ciptakan.

Itulah alasan, mengapa Zawawi selalu betah tinggal di kampung Jambangan. Menikmati tembang dusun siwalan, yang senantiasa memutikkan sari-sari kerinduan. Dengan terus berbantal ombak dan berselimut angin, Zawawi tak pernah berputus asa mengasah celurit emasnya, meskipun bulan tertusuk lalang, dan cicit-cicit kelelawar mengimbau di ubun bukit, ia tetap tak bergeming.

Baginya, Madura adalah ibu. Zawawi tahu, sebagai anak sulung sekaligus anak bungsu, dirinya adalah sapi kerapan yang harus berlari mengejar ombak, memeluk bulan dan memetik bintang gemintang di ranting-ranting roh nenek moyang, sambil terus menulis surat kepada Rasulullah. Agar bila datang angin sakal, Tuhan sudah dapat ia kenal. Pelabuhan terakhir semua pelancong kehidupan. Dengan ini semua, Zawawi benar-benar telah menepati sumpahnya: Madura, Akulah Darahmu!.

Bersambung….

*Syarwini Syair, Kontributor Mata Madura

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional