Dalam Keterbatasan, SMP Al-Asy’ari Bangkalan Berjuang Demi Kemaslahatan

BERSAMA: Kepala SMP Al-Asy'ari (baju merah, tanpa kopiah) foto bersama salah seorang guru dan siswinya beberapa waktu lalu. (Foto Sya'roni for Mata Madura)
BERSAMA: Kepala SMP Al-Asy’ari (baju merah, tanpa kopiah) foto bersama salah seorang guru dan siswinya beberapa waktu lalu. (Foto Sya’roni for Mata Madura)

MataMaduraNews.comBANGKALAN – Sudah dua belas tahun berlalu sejak SMP Al-Asy’ari resmi didirikan pada tahun 2005. Namun, kisah pendiriannya tetap tak bisa dilupakan begitu saja. Bukan karena sejarahnya dibukukan atau selayaknya memang tak patut dibuang dari ingatan. Melainkan ada respon tak biasa atas kelahirannya.

Saat itu, masih banyak masyarakat yang belum bisa menerima SMP Al-Asy’ari. Alasannya tak sederhana, SMP tersebut malah dikhawatirkan dapat mengikis budaya salafiyah yang sudah menjadi pedoman masyarakat, khususnya di pelosok Desa Togubang, Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan dimana SMP tersebut didirikan. Namun, KH Mahrus Asy’ari selaku Ketua Yayasan Al-Asy’ari tetap bertekad melanjutkan perjuangan untuk mendirikan lembaga pendidikan formal. Tujuannya adalah mengubah mindset masyarakat yang awam menjadi berpendidikan dan maju, sehingga mampu bersaing di era yang semakin berkembang dengan pesat.

Kemudian, dari tahun ke tahun perkembangan SMP Al-Asy’ari mulai terlihat. Begitupun, masyarakat mulai banyak yang menyadari dan membutuhkan terhadap SMP tersebut. ”Buktinya masyarakat mulai menyekolahkan putra-putri mereka ke SMP ini,” tutur Sya’roni, kepala SMP Al-Asy’ari. Walaupun masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam berbagai hal, SMP tersebut, kata Sya’roni, terus melaksanakan programnya hingga bisa melepas lulusan yang pertama pada tahun 2008. ”Waktu itu kita ikut Ujian Nasional bergabung dengan SMPN 1 Geger,” ungkap lelaki murah senyum itu sambil membayangkan masa-masa sulit beberapa tahun berlalu.

Infrastruktur, sarana dan prasarana yang tidak memadai dan tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah, serta administrasi yang masih tidak tertata dengan rapi membuat perkembangan SMP Al-Asy’ari berkembang sangat lamban. ”Semua masih sangat bergantung terhadap yayasan, padahal yayasan belum memiliki income yang cukup,” terang Pak Roni, panggilan akrab kepala SMP tersebut, pekan kedua Juni lalu.

Tak hanya itu, akses jalan desa untuk menuju SMP Al-Asy’ari juga cukup sulit untuk dilalui karena masih berupa tanah dan bebatuan. ”Apabila datang musim penghujan, jalan tersebut licin sehingga tidak bisa dilalui oleh kendaraan sepeda motor,” kata lelaki yang keseharianya juga menjadi pekerja sosial itu. Parahnya, kondisi tersebut tak teratasi dan menjadi kendala yang berkepanjangan. Sehingga, tenaga pengajar pun sulit untuk datang dan mengajar tepat waktu.

Untung, dalam kondisi apapun Sya’roni tidak mau menyerah begitu saja. Pendiriannya itu sesuai dengan misi SMP Al-Asy’ari, yakni berjuang untuk kemaslahatan umat dan terus memproklamirkan visi mulia dengan memasyarakatkan pendidikan dan mendidik masyarakat menuju masa depan yang cerah. Sebagai kepala sekolah, Roni berkomitmen terus berupaya agar bisa melaksanakan program-program pendidikan yang sudah menjadi targetnya ke depan. Bahkan, ia yakin lembaganya akan terus berkembang pesat layaknya lembaga pendidikan lain, meski hal tersebut diakuinya tidak mudah, bahkan membutuhkan kerja keras dan kesabaran yang ekstra.

”Kami akan bekerja keras. Semoga ke depan lembaga kami bisa sama seperti lembaga pada umumnya, baik dari segi fasilitas maupun kemampuan tenaga pendidiknya. Sehingga, peserta didik bisa belajar dan menimba ilmu dengan baik dan nyaman,” ucapnya penuh harap.

| hasin/rafiqi

Tinggalkan Balasan