Menu

Emil Dardak; Pendamping Khofifah di Pilgub Jatim Ternyata Ketua NU…….

  Dibaca : 880 kali
Emil Dardak; Pendamping Khofifah di Pilgub Jatim Ternyata Ketua NU…….
Pasangan Cagub Jatim 2018
Link Banner
Pasangan Cagub Jatim 2018

Pasangan Cagub Jatim 2018

MataMaduraNews.comSURABAYA-Setelah lama menunggu kabar pendamping Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jawa Timur,  pada hari Selasa (21/11/2017) secara resmi Khofifah mengumumkan Emil Elistyanto Dardak sebagai pendampingnya. Kabar itu berawal dari foto di kediaman SBY di Cikeas. Dalam foto itu, ada Khofifah dan Emil dardak foto bersama SBY dan Ketua DPD Demokrat Jatim Soekarwo. Khofifah dan Emil memegang map warna putih berlambang logo Partai Demokrat.

Publik bertanya, siapa Emil Dardak? Saat ini, Emil menjabat Bupati Trenggalek, Jawa Timur melalui Pilkada 2015. Dia dilantik sebagai Bupati Trenggalek 17 Februari 2016. Sebelumnya, pada tahun 2001-2003, Emil menjadi World Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Emil dicapai saat didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).

Saat berusia 17 tahun, Emil Dardak memperoleh gelar diploma dari Melbourne Institute of Business and Technology. Lalu Emil meneruskan pendidikan S1 di Universitas New South Wales, Australia. Sedangkan gelar S2 dan S3 didapatkan dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.

Pada usia 20  tahun, Emil sudah menjadi Ketua Nahdlatul Ulama (NU), Cabang Istimewa Jepang. Ketertarikan Emil ke NU bukan tanpa sebab. Ternyata, Emil merupakan  cucu H. Mochamad Dardak, salah satu Kiai NU. Ayah Emil adalah Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode tahun 2010-2014. Sedangkan, ibunya bernama Sri Widayati. Dari sang ibu mengalir darah Letjen Anumerta Wiloejo Poespojudo, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional pertama di era Bung Karno.

Menurut Emil, NU sebagai organisasi keagamaan yang ramah dan lebih toleran dalam menjalankan syiar Islam. Karena alasan itulah dia tertarik bergabung di organisasi yang didirikan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari itu dan menjadikannya sebagai wadah kajian keagamaan saat sekolah di Jepang.

Pada tanggal 30 Agustus 2013, Emil menikahi artis Arumi Bachsin di Rumah Maroko, Menteng, Jakarta Pusat. Dari pernikahannya, Emil dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Lakeisha Ariestia Dardak, dan anak laki-laki yang diberi nama Alkeinan Mahsyir Putro Dardak.

Emil lahir di Jakarta, 20 Mei 1984. Saat ini; dia berumur 34 tahun pada Mei 2018.Di tahun 2004 silam, dia tercatat sebagai penggerak eksistensi NU cabang istimewa di Negara Jepang. Saat itu, dia masih berstatus mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan pasca sarjana di Ritsumeikan Asia Pacific University Jepang hingga 2006. Posisi Emil di NU Cabang Jepang sebagai Ketua Bidang Hubungan Eksternal.

“Jepang itu negara kepulauan, sama seperti di Indonesia. Tapi saat itu belum ada wadah diskusi tentang ke-Islaman yang ramah,” kata Emil saat berbincang-bincang santai dengan wartawan di Surabaya, Rabu (22/2/2014), sebagaimana dikutip merdeka.com.

Sebagian besar pengurus dan anggota NU di Jepang, kata Emil, adalah para mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Negeri Samurai. “Para mahasiswa Indonesia di Jepang, juga membutuhkan forum kajian dan diskusi agama yang ramah seperti yang mereka ketahui dan pelajari di Indonesia,” katanya.

Beberapa program yang diingat Emil saat menjadi pengurus NU Jepang adalah memproduksi konsep pengenalan teknologi informasi kepada santri untuk nelayan di Pati, Jawa Tengah, dan konsep Alquran digital yang saat ini sudah banyak dimanfaatkan masyarakat.

Saat lulus dari Ritsumeikan Asia Pacific University dengan predikat doktor ekonomi pembangunan termuda dengan usai 22 tahun, Emil kembali ke Tanah Air. Sayang, karena kesibukannya menjadi konsultan bank dunia (sebelum menjadi Bupati Trenggalek), jarang aktif di NU.

“Meski begitu, kultur saya tetap NU, komunikasi dengan orang-orang NU tetap terjalin, bahkan yang menikahkan saya dengan istri saat itu, Ketua PBNU,” tuturnya sembari tersenyum.

Bagi Emil, NU telah meletakkan dasar Islam sebagai wajah agama yang ramah dan Rahmatan Lil’alamin. “Para ulama NU telah merumuskan kajian dan ajaran Islam dari yang bersifat tekstual dan kontekstual, menjadi formula yang ideal untuk menjadi pegangan hidup umat manusia,” tandasnya.

redaksi: sumber merdeka.com

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional