Festival Tan-Pangantanan dan Parade Saronen 2017; Upaya Lestarikan Budaya Sumenep

Bupati KH A. Busyro Karim saat melepas peserta Festival Tan-Pangantanan dan Parade Saronen 2017
Bupati KH A. Busyro Karim saat melepas peserta Festival Tan-Pangantanan dan Parade Saronen 2017

MataMaduraNews.comSUMENEP-Suasana di depan Rumah Dinas Bupati Sumenep KH A. Busyro Karim begitu ramai sore itu. Pada Ahad, 19 November tersebut, 17 regu peserta Festival Tan-Pangantanan Tingkat Sekolah Dasar dan 5 regu peserta Parade Saronen menarik perhatian ribuan penonton.

Kegiatan yang merupakan rangkaian Peringatan Hari Jadi Sumenep Ke-748 itu adalah salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk mengajak masyarakat melestarikan sekaligus mewariskan budaya luluhur kepada generasi muda. Makanya, semua elemen masyarakat diharapkan Bupati Busyro ikut membangun kesadaran kolektif, khususnya orang tua dan guru, untuk menyosialisasikan budaya kepada generasi penerus.

”Kita harus mempertahankan serta mewariskan nilai-nilai budaya warisan budaya leluhur Kabupaten Sumenep, sehingga generasi penerus tidak mencari budaya baru dari dunia barat, yang sejatinya nilai-nilainya bertentangan dengan budaya Kabupaten Sumenep,” pesan Bupati sebelum melepas peserta Festival Tan-Pangantanan Tingkat SD dan Parade Saronen Tahun 2017.

23632340_1929902317283724_7525099011798201091_o - CopyOrang nomor satu di Sumenep tersebut berharap, pengenalan budaya lokal seperti Tan-Pangantanan dan Saronen bisa mengurangi dampak negatif gempuran budaya barat yang menimpa generasi muda di zaman digital ini. Sebab data yang ada menunjukkan, generasi muda sudah banyak yang terlibat tindakan melanggar hukum seperti narkoba, seks bebas, dan lainnya. Hal itu akibat tidak adanya kegiatan positif yang mereka lakukan, terutama kegiatan seni dan budaya.

Kondisi demikian, membuat Suami Nurfitriana itu sangat mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya kegiatan seni dan budaya seperti Festival Tan-Pangantanan dan Parade Saronen. ”Kegiatan ini sangat positif sebagai sarana terbaik menanamkan wawasan sekaligus kecintaan budaya kepada anak-anak kita, khususnya menanamkan budaya warisan leluhur kepada anak-anak yang masih di bangku sekolah,” kata Bupati Kiai Busyro.

Festival budaya pengantin khas Sumenep dan musik tradisional Sumenep tersebut digelar Pemkab melalui Disparbudpora dan Sanggar Seni Kembara Sumenep. Menurut Kepala Disparbudpora Sumenep, Sufiyanto, kegiatan tersebut diadakan untuk menanamkan nilai budaya tradisional kepada anak-anak.

”Ini penting untuk membekali anak-anak tentang pengetahuan budaya tradisional. Sehingga, kekayaan budaya Tan-Pangantanan dan Parade Saronen ini bisa dijaga untuk masa mendatang,” katanya tentang tujuan Festival Tan-Pangantanan.

Sofi-panggilan akrabnya, juga menilai masyarakat luas perlu tahu bagaimana wujud khas pengantin Sumenep. Sehingga dengan ciri khas yang ditampilkan dalam balutan busana pada Festival Dhe’ Nondhe’ Ni’ Nang itu, masyarakat bisa melihat langsung pakaian maupun riasan yang dikenakan para peserta.

”Kami juga ingin mengembangkan bakat, minat dan kreativitas pegiat musik Saronen,” imbuhnya soal Parade Saronen.

Mantan Kabag Humas Pemkab Sumenep ini, berharap, kesuksesan rangkaian kegiatan Hari Jadi Sumenep Ke-748 akan semakin lengkap dengan kegiatan tersebut. Karena itu memang menjadi tujuan umum pihaknya dalam menggelar kegiatan tradisional.

Rafiqi, Mata Madura

Tinggalkan Balasan