Guru dalam Perspektif “Amal Jariyah”

Oleh: Nurul Yaqin, S.Pd.I*

Nurul Yaqin, S.Pd.I
Nurul Yaqin, S.Pd.I

Guru adalah pelita ilmu. Begitu kira-kira ungkapan yang tak asing di telinga kita. Guru adalah lampu yang memancarkan cahaya di tengah gelap gulita. Mengajarkan anak didik yang awalnya belum tahu apa-apa berevolusi menjadi manusia-manusia kosmopolitan, cendekiawan, dan berkarakter yang akan membawa perubahan luar biasa.

Salah satu bukti pentingnya peran seorang guru adalah peristiwa penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih. Syeikh Aaq Syamsuddin adalah seorang ulama dan guru yang berhasil membangkitkan semangat pribadi al-Fatih, sehingga berhasil menaklukkan kerajaan raksasa dunia, Bizantium, di usianya yang masih muda, 25 tahun. (Hidayatulllah.com)

Namun, apabila kompetensi guru rendah, sudah barang tentu murid akan menerima pengaruh buruk (bad effect) darinya. Terlebih jika guru tidak dapat menjadi suri tauladan (uswah), jangan harap anak didiknya kelak menjadi manusia baik dan benar, yang ada hanya akan menjadi manusia liar dan berperilaku negatif. Sesuai dengan adagium, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Tentu kita tidak ingin seperti Miss Philips yang diberi hadiah buku oleh salah satu muridnya, Peter J. Daniels. Singkatnya, masa kecil Daniels dianggap sebagai anak yang bermasalah (sulit memahami pelajaran) oleh gurunya, Philips. Tak jarang dia memperoleh perlakuan yang kurang wajar lantaran ketidakpahamannya dalam merespon pelajaran.

Tak hanya itu, sang guru sering menulis angka di jidat Daniels jika tidak bisa menjawab pertanyaan. Klimaksnya, ketika sang guru berkata, “Hai Daniels, jika kamu terus seperti ini, kelak kamu akan menjadi manusia gagal dan jangan berharap menjadi orang sukses”. Perkataan tersebut terus terngiang di telinganya. Tertancap kuat dalam hatinya. Namun, siapa sangka setelah belasan tahun berlalu, Daniels menjelma menjadi miliarder kaya, pengusaha dermawan, dan penulis buku-buku best seller yang salah satunya berjudul Miss Philips, You Were Wrong yang inti sarinya, bahwa apa yang diajarkan oleh Miss Philips kepada dirinya dulu adalah cara yang tidak benar.

 

Digugu dan Ditiru

Bagi Philips, fenomena di atas merupakan bencana besar dalam hidupnya. Semua yang dia terapkan kepada muridnya merupakan tindakan konyol yang tentu akan mereduksi kredibilitasnya sebagai pendidik. Yang perlu diiingat, bahwa guru adalah sosok manusia yang akan digugu dan ditiru. Guru akan dilihat, diperhatikan, dan dicontoh oleh muridnya. Menurut Ridwan Afandi dalam bukunya Ilmu sebagai Lentera Kehidupan (2006:61) menyebutkan bahwa guru sebagai seorang pendidik bukan saja berfungsi sebagai sumber ilmu, tetapi memiliki peran lain yang sangat penting yakni dalam pembentukan karakter anak didik.

Apabila ilmu yang disampaikan guru tidak benar, maka guru telah berhasil menciptakan rantai pembelajaran kesalahan. Mekanismenya seperti ini, apabila guru A salah dalam menyampaikan pengetahuan, kemudian kelak salah satu muridnya, misalnya si B menjadi orang tua atau guru, maka kemungkinan besar dia menyampaikan apa yang disampaikan oleh guru A tadi, yang notabene adalah sebuah kekeliruan, begitu seterusnya. Kesalahan yang saling berkelindan.

Tentu, bukan ini yang diharapkan. Semua guru pasti berharap apa yang diajarkan bisa dipahami oleh muridnya, yang pada akhirnya menjadi ilmu yang bermanfaat hingga dekade selanjutnya. Menjadi amal yang terus mengalir pahalanya (amal jariyah).

 

Amal Jariyah Guru

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang sholeh” (H.R. Muslim). Hadis di atas telah menjelaskan bahwa terdapat amalan yang akan terus mengalir pahalanya walaupun pelakunya telah meninggal dunia. Itulah definisi sederhana amal jariyah. Lantas, apa korelasi antara profesi guru dengan hadis di atas?

Baiklah marik kita kaji bersama. Pertama, sedekah jariyah. Menurut para ulama, sedekah jariyah adalah sebuah wakaf yang diniatkan untuk kebaikan yang akan dirasakan pahalanya walaupun telah tiada. Misalnya, menyumbangkan tanah untuk pembangunan masjid. Selama masjid itu berguna bagi manusia, maka selama itu pula pahala akan diterima. Sedekah jariyah tidak hanya terbatas oleh bangunan fisik, tapi juga bisa berupa kebaikan lain seperti halnya mengajarkan ilmu. Ilmu yang diajarkan kepada seseorang akan menjadi tabungan pahala selama yang diajarkan mengamalkannya. Begitu seterusnya.

Maka dari itu, guru yang merupakan profesi sangat mulia paling berpotensi untuk meraih poin pertama di atas. Jika guru mengajarkan ilmu kepada anak didik, kemudian anak didiknya mengamalkan kepada anak cucunya, maka sudah jelas itu menjadi amal yang mengalir pahalanya.

Kedua, ilmu yang bermanfaat. Seperti yang telah dijelaskan pada poin pertama bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi investasi pahala. Lagi-lagi guru mempunyai potensi lebih besar untuk meraih poin yang kedua ini. Karena sesuai profesinya guru setiap waktu mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada murid-muridnya. Seorang guru dituntut tidak hanya menguasai ilmu, tapi harus mengamalkannya dalam kehidupan. Kemudian ilmu yang diajarkan dan diamalkan, bisa dilanjutkan oleh muridnya ke generasi selanjutnya. Sehingga menjadikannya investasi pahala yang bisa membawa ke surga.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ar Rabii’, Rasulullah SAW bersabda, “Tuntutlah Ilmu! Sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza Wa Jalla, sedangkan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinyaa adalah shadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat”.

Ketiga, anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Salah satu keterangan ulama dalam kitab Aunul Mabud Syarh Sunan Abi Daud, anak sholeh adalah anak muslim yang menjalankan kewajiban agama dan menjauhi dosa besar. Anak yang sholeh bisa dipastikan akan senantiasa berbuat kebaikan. Bersikap baik kepada teman, guru, dan pasti orang tua.

Dalam hal ini guru juga mempunyai kesempatan lebih untuk mencetak anak sholeh, karena guru dirasa lebih memahami cara mendidik anak. Pendidikan yang baik oleh guru akan membekas dalam jiwa anak dan muridnya. Sehingga, kelak ketika sang guru telah tiada akan tetap didoakan oleh anak dan murid-muridnya.

Namun, untuk meraih tingkatan amal jariyah tidaklah gratis (free), harus ada tiket khusus, yaitu sabar dan ikhlas. Maka dari itu, kesabaran dan keikhlasan bagi seorang guru adalah suatu keniscayaan. Sehingga, amal yang dilakukan ibarat air sungai yang selalu mengalir walau di musim kemarau.

*Guru MI unggulan Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jabar, asal Sumenep. Alumni Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan, Sumenep, Madura.

Tinggalkan Balasan