Menu

Hadiah Untuk Bapak

  Dibaca : 404 kali
Hadiah Untuk Bapak
Nur Kholifatun Nisa' (Ifa)
Link Banner

Karya: Ifa*

“Kuenya, Bu, seribu saja!” suara Sekar dan ibu Vania sambil menampa kue dagangannya. Sekar dan ibunya menjajakan kue berkeliling.

Sekar adalah anak satu-satunya dari ibu Vania. Mereka hanya hidup berdua. Bapaknya sudah meninggal dunia sewaktu Sekar masih umur 2 tahun. Sekar sekarang telah berusia 11 tahun.

Sekar adalah anak yang rajin. Walaupun mereka hanya hidup berdua dan tinggal di tempat yang cukup sederhana, namun Sekar tidak pernah bermalas-malasan. Sekar juga sering melihat ibunya membuat kue di dapur saat malam hari, lalu sekarang menghampiri ibunya.

“Ibu, mengapa Ibu belum tidur?” Tanya Sekar sambil duduk di dekat ibunya. “Eh, Sekar, iya Ibu masih belum ngantuk. Ibu ingin tidur tapi mata Ibu tidak bisa tertidur jadinya Ibu pergi ke dapur untuk bikin kue,” jawab ibunya sambil mengaduk adonan kue yang baru dibuatnya.

“Kalau begitu Sekar bantu ya, Bu?” Pinta Sekar kasihan melihat ibunya yang bekerja sendiri.

“Lebih baik kamu tidur saja. Besok kan kamu harus ujian. Jadi tidak boleh capek!”

“Tapi, Bu….”

“Sudah sana, kamu tidur aja nggak apa-apa!” Pinta ibunya yang tidak bisa lagi dibantah.

“Iya, iya, Bu, tapi Ibu bikinnya jangan sampai larut malam ya Bu!”

“Iya, Sekar sayang!” Jawab ibu kepada Sekar dengan halus.

Esok harinya saat pulang sekolah Sekar mencari ibunya dan ingin memberitahukan informasi tentang hal yang telah terjadi di sekolahnya.

“Ibu, Ibu!”

“Ada apa, Sekar?”

“Lihat ini Bu!” Sekar langsung memberikan selembar kertas yang berisi tentang hasil ulangannya.

“Wah, anak Ibu pintar sekali. Nilai ulangan kamu dapat 100! Ibu sangat bangga kepadamu, Sekar.” Ibunya mengelus elus kepala Sekar dengan lembut lalu menyuruh Sekar untuk duduk.

“Oh, iya Bu, Sekar ingin sekali mengikuti lomba cerpen!”

“Memangnya Sekar suka menulis?”

“Iya, Bu, waktu itu Sekar pernah menemukan koran bekas yang isinya tentang cerpen dan itu ditulis oleh anak kecil yang seumuran dengan Sekar. Sekar kagum dengan mereka kecil-kecil sudah bisa membuat cerita sebagus itu sekarang juga ingin seperti mereka!”

Suatu hari waktu Sekar lagi mau masuk kelas di dinding luar kelas Sekar ada lembaran kertas yang berisi tentang lomba menulis cerpen tingkat SD. Gratis. Setelah masuk kelas bu guru menjelaskan tentang kertas yang ditempel di luar kelas. Menurut bu guru siapa yang berbakat di bidang menulis diperbolehkan mengikuti lomba itu.

“Ada yang ingin bertanya?”

Lalu Sekar mengacungkan tangannya sambil berkata “Bu guru, Sekar ingin mengikuti lomba cerpennya!”

“Memangnya Sekar suka bikin cerita?” Tanya Bu Guru.

“Tidak terlalu Bu guru, tapi Sekar suka kalau disuruh bikin cerita.” Jawab Sekar.

“Kalau begitu nanti minta izin dulu ya, pada ibunya. Jika Sekar dibolehkan, maka Sekar boleh mengikuti lombanya.” Jawab bu guru lagi.

Sekar pun meminta izin ke ibunya.

“Tentu saja boleh, dong, Sekar sayang! Jika memang Sekar suka menulis dan ingin mengikuti lomba itu, Ibu mengijinkan Nak.” Jawab ibunya dengan halus sambil menatap Sekar dengan senyumannya.

“Baik Bu ,tapi….” Kata Sekar terpotong saat Sekar melirik ke foto bapaknya.

“Tapi Bu, Sekar sedih saat ini Bapak tidak ada di sisi Sekar.”

Dengan mata yang berkaca-kaca kemudian Sekar berdiri dan menghampiri tempat foto Bapaknya yang disimpan di atas lemari. Sekar mengambil foto bapaknya. Dengan perlahan-lahan air matanya mulai jatuh saat Sekar memandang foto bapaknya. Ibu Sekar menghampirinya sambil memegang pundaknya dan berkata. “Kamu jangan sedih walaupun saat ini tidak ada Bapak, tapi kan masih ada Ibu!” Hibur ibunya yang hampir menangis juga.

“Ibu, mengapa setiap pulang sekolah Sekar selalu melihat teman-teman Sekar dijemput dengan ibu dan bapaknya? Sekar selalu berharap akan seperti teman-teman Sekar bisa dijemput ibu dan bapak.” Air mata Sekar semakin terus menetes setelah mendengarkan ucapan dari Sekar ibunya juga ikut meneteskan air matanya sambil memeluk Sekar.

“Ibu, Sekar sangat rindu pada Bapak!” Sambil memeluk foto bapaknya

“Iya Sekar, kamu harus sabar. Sekar harus kuat. Sekar kan anak yang hebat. Sekar anak yang sholeha. Kalau Sekar rindu sama bapak Sekar bisa kirimkan surah al-fatihah dan doakan bapak agar Bapak bisa beristirahat dengan tenang di sana.” ucap ibunya sambil mengelus-elus kepala Sekar dan mencium keningnya.

“Iya, Bu. Sekar akan selalu doakan Bapak. Sekar kan selalu kirimkan surah al-fatihah kepada Bapak. Nanti kalau misalnya Sekar menang lomba, Sekar akan berikan hadiahnya untuk bapak!”

Lomba menulis cerpen tingkat SD yang ikuti telah tiba saatnya. Sekar dan ibunya pun pergi ke tempat perlombaan. Di sana banyak sekali saingan Sekar yang berasal dari berbagai daerah. Terdengar pengumuman dari panitia bahwa lombanya akan segera dimulai. Segera Sekar memasuki ruangan lomba. Tapi sebelum Sekar memulai menulisnya, Sekar membaca doa terlebih dahulu agar diberi kelancaran. Satu jam kemudian Sekar dan semua peserta keluar dari ruang perlombaan. Sambil menunggu pengumuman, Sekar dan ibunya terus berdoa agar Sekar dapat meraih juara 1. Tidak lama kemudian pengumuman pemenang dari lomba cerpen tingkat SD tahun itu disampaikan. Juara 3 diraih oleh Raisa, dari Banten yang menceritakan tentang lukisan kuda yang terpajang di rumahnya. Juara 2 diraih oleh Tania, dari Sumatera Utara, yang menceritakan tentang kelinci tersayang. Dan juara 1 diraih oleh Sekar, dari Sumedang, yang menceritakan tentang hadiah untuk ayah tercinta.

Sekarlah juara 1. Sekar dan ibunya dipanggil maju untuk menerima hadiah. Saat Sekar menerima piala dan hadiahnya, Sekar langsung meneteskan air matanya. Saat itu juga Sekar diberi kesempatan untuk mengucapkan kata-kata sebagai rasa syukur atas kemenangannya.

“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama, saya ucapkan terima kasih kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas rahmat yang diberikan kepada Sekar. Sekar juga berterima kasih kepada Ibu Sekar karena ibu selalu memberi semangat untuk Sekar. Ibu juga selalu berdoa yang terbaik untuk Sekar. Sekar juga berterima kasih kepada guru dan teman-teman Sekar semuanya. Sekar menang karena kalian selalu mendukung Sekar. Dan yang terakhir Pesan yang ingin Sekar sampaikan adalah Sekar juga ingin membanggakan ibu dan bapak walaupun saat ini tidak bisa melihat bapak di sini mendampingi Sekar, tapi Sekar yakin bapak pasti tahu Sekar menang mengikuti lomba cerpen ini. Sekarang Sekar ingin memberikan hadiah ini untuk bapak. Sekar ingin bapak bahagia di sana. Sekar sangat rindu pada bapak. Sekar sangat sayang pada bapak. Sekian pesan yang dapat Sekar sampaikan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Tepuk tangan pun meriah.

Setelah mengambil hadiahnya dan ingin keluar dari pintu gerbang tempat perlombaan, sekar sempat berkata kepada ibunya. “Ibu boleh tidak sebelum kita pulang ke rumah, kita pergi ke makam Bapak dulu?”

“Boleh, asal sekar tidak capek.” Jawab ibunya dengan halus.

Akhirnya Sekar dan ibunya pergi ke makam bapak. Tidak lamas setiba ibu dan Sekar di makam, Sekar langsung meneteskan air mata sambil memeluk makan bapak dan berkata, “Ini Sekar, Sekar ada di sini, Bapak! Lihatlah, sekarang Sekar memenangkan lomba cerpen dan Sekar mendapat juara 1. Sekar ingin memberikan hadiah ini untuk bapak!”

Untuk mengurangi rasa sedih Sekar, ibunya pun mengalihkan suasana. “Sekar, sekarang kita kirim surah al-fatihah dulu yuk, ke bapak!” Pinta ibunya kepada Sekar.

“Iya Bu.” Jawab Sekar sambil mengusap air matanya.

Setelah Sekar dan ibunya mengirimkan al-fatihah ke bapak, ibunya berkata, “Sekar, Bapak pasti bangga melihat Sekar memenangkan lomba apalagi Sekar meraih juara 1. Bapak pasti bahagia di sana ditambah lagi Sekar mengirim surah al-fatihah ke bapak. Pasti Bapak sangat bahagia di sana!”

“Benarkah Bu?” Tanya Sekar dengan wajah senang. Ibunya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Iya Bu, tapi sebelum itu Sekar ingin berpamitan dulu pada Bapak.”

“Bapak, Sekar pamit pulang dulu ya? Sekar akan selalu doakan Bapak dan Sekar akan selalu berziarah ke makam Bapak.” Pamit Sekar sambil mengelus-elus batu nisan bapaknya. Sekar pulang bersama ibunya sambil bergandengan tangan.

*Siswi SDN Pangarangan III Sumenep yang baru diterima di SMPN 1 Sumenep

Link Banner
Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional