Menu

Inspiratorku; Kiai Alim Menyimpan Karomah

  Dibaca : 203 kali
Inspiratorku; Kiai Alim Menyimpan Karomah
KH A. Busyro Karim

Oleh: KH A. Busyro Karim*

KETIKA berlangsung Muktamar NU ke-28, di pesantren asuhanya, beliau sedang terbaring sakit yang diderita sejak beberapa hari sebelumnya. Karena kecintaan kepada NU, tanggungjawab sebagai tuan rumah tetap menjadi perhatiannya. Beliau berusaha sekuat tenaga memberi arahan kepada para santri akan kesuksesan pelaksanaan muktamar para Kiai NU.

Melalui mic speaker yang terhubung dari kamarnya, beliau memberi arahan komando kepada panitia yang mayoritas para santrinya. Sehingga kesiapan panitia sesuai rencana dan pelaksanaan muktamar berjalan lancar dan sukses sebagaimana impian sang kiai.

Saat pembukaan muktamar akan dimulai, Presiden RI, Soeharto kala itu dan sejumlah menteri serta para kiai peserta muktamar menyempatkan diri menjenguk kiai itu. Dengan posisi terbaring, beliau menerima mereka dengan bercanda ria.

Muktamar NU berjalan sukses. Dan KH Ahmad Shiddiq terpilih sebagai Rois ‘Am. Sedangkan KH Abdurahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode kedua kalinya.

Sehari setelah muktamar, kiai itu harus dilarikan ke ruma sakit DR Sardjito. Beberapa hari di rumah sakit, kabar duka menyelimuti para Kiai NU, para santri dan masyarakat yang selama ini menaruh hormat kepada beliau. Warga NU berduka kehilangan kiai panutannya.
Kiai itu wafat saat adzan maghrib berkumandang pada pukul 17.55 WIB di hari Kamis malam Jum’at, tanggal 7 Desember / 15 Jumadil Awwal 1989 dalam usia 74 tahun. Jenazah dilepas dari Masjid Pesantren setelah shalat Jum’at dan dikebumikan berdampingan dengan makam keluarganya.

Sebagian peserta muktamar yang belum pulang menshalati beliau. Ada sekitar 130 imam ikut menshalatkan. Setiap orang datang langsung menshalatkan. Luar biasa karomah beliau saat wafat. Secara kasat mata, tidak sebanding dengan kehidupan keseharian yang beliau praktekkan.

Dilihat dari sisi dhahir, keseharian beliau biasa-biasa saja. Di depan para santri saat morok, beliau menasehati melalui pemikiran moderat. Ajaran Islam beliau tampakkan dari hal yang ringan-ringan. Bukan menampakkan ajaran Islam yang berat-berat. Menurut beliau, untuk menjadi orang baik tidak harus melakukan amalan yang berat-berat. Karena ajaran Islam mudah dilakukan dari segenap level manusia.

Beliau wafat meninggalkan seorang isteri dan delapan orang putra-putri. Kiai itu, memiliki metode didik yang mewajibkan seluruh putranya harus menghafal al-Qur’an sejak SMA. Menariknya, seluruh putra kiai itu hafal 30 juz al-Qur’an. Kecuali satu putranya yang tidak hafidz.

Saya kira ini kebesaran Allah Swt yang ditampakkan untuk menjadi pelajaran. Keadilan Allah Swt melalui satu anak kiai itu. Satu anak dalam satu kandung dari seorang ibu dan tetesan satu bapak, tidak sama.

Memang Allah Swt Maha Adil. Sebagai hamba-Nya, kita diberi ruang untuk menangis ketika melihat satu anak tidak sama dengan yang lain. Terkadang Allah ingin memberikan sesuatu kelebihan, tetapi ada kesempurnaan yang dicabut.

Kenapa Allah Swt berbuat demikian? Agar kita selalu ingat Allah. Inilah hak prerogratif Allah Swt. Sebagai manusia, kita tidak punya hak memilih. Walaupun kiai itu memaksa semua anaknya harus hafal 30 juz al-Qur’an, tetapi Allah Swt yang memiliki kuasa.

Istri Nabi Luth, Wa’ilah, dan istri Nabi Nuh As memilih ingkar ajakan suaminya untuk mengikuti ajaran Allah Swt. Begitupun anak Nabi Nuh As, Kan’an memilih tidak taat terhadap ajaran agama Allah. Sehingga Kan’an tewas diterjang air Bah. Sebaliknya, istri Fir’aun, Siti Asiah memilih ikut ajaran Allah Swt daripada ikut ajakan suami yang kafir.

Secara logika manusia, istri dari seorang penguasa kafir dan dzalim pasti mengikuti jejaknya. Sebaliknya, putra dan istri dari seorang Nabi Allah Swt, pasti mengikuti praktek kehidupannya.

Tetapi inilah kekuasan Allah. Warabbuka yakhluqu ma yasya’ wa yakhtar ma kana lahumu al-khiyarat (dan Tuhanmu menciptakan apa-apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. (Al-Qasas: 68).
bersambung…….
*Bupati Sumenep dan Pengasuh Ponpes Al-Karimiyyah, Beraji, Gapura, Sumenep.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional