Menu

Jimhur Saros Bicara Sosial Budaya Bangkalan yang Mulai Luntur

Jimhur Saros Bicara Sosial Budaya Bangkalan yang Mulai Luntur
Jimhur Saros
Link Banner

Bangkalan Nasibmu, Apa yang Bisa Diperbuat? Jimhur Saros Punya Perspektif (3)

matamaduranews.comBANGKALAN-Dari segi sosial budaya, Jimhur punya perspektif bahwa masyarakat Bangkalan mulai individual. Kehidupan mulai acuh tak acuh terhadap kondisi sosial dan nilai-nilai luhur budi pekerti (adheb ashor). Nilai-nilai sosial budaya warisan sesepuh sudah banyak berkurang.

Jimhur menggambarkan, 30 hingga 50 tahun lalu, jika siswa bertemu dengan gurunya, mereka langsung turun. Saat ini, jangankan turun dari sepeda atau menyapa. Sambil merokok pun seakan-akan tidak melihat kepada sang guru.

“Norma agama dan adat kesopanan sudah banyak terkikis di Bangkalan. Bahkan ketika lewat di kerumunan orang, ada istilah glenon (permisi). Sikap semacam ini sudah tak tampak di kalangan pemuda. Hal ini hanya ada di era 50 lalu yang masih mengerti akan hal adheb ashor,” papar Jimhur saros

Dikatakan, generasi muda Bangkalan mulai hilang penghormatan kepada sang guru, orang tua dan sesepuh. Bergeser nilai-nilai kesopanan. “Sekarang orang sudah disibukkan dengan HP atau gadget. Jadi mereka hidup di alam bayangan dan lebih bersikap individual. Nilai sosial-budaya masyarakat sudah luntur,” katanya

Selain nilai-nilai sosial budaya, Jimhur juga menyoroti peninggalan sejarah dan budaya Bangkalan banyak hilang. Dia memberi contoh prasasti dan sejumlah artefak sejarah budaya Bangkalan.

“Sebut saja tokoh Pahlawan Bangkalan yang bernama Pemuda Kaffa. Kondisi astanya di Desa Gedungan Bangkalan, sangat ironis sekali. Bayangkan, disamping astanya, ada kandang. Juga dikelilingi oleh rumah penduduk,” ucap Jimhur

Jimhur tak kuasa bercerita panjang romantisme kejayaan Kerajaan Bangkalan ketika pemerintah dan masyarakat cuek untuk melestarikan nilai-nilai budaya warisan para leluhur Bangkalan. Padahal, katanya, selain Kerajaan Sumenep, kehidupan Kerajaan Bangkalan juga memiliki akar sejarah yang perlu dijadikan pelajaran pada generasi penerusnya.

BACA: Bangkalan Nasibmu, Apa yang Bisa Diperbuat? Jimhur Saros Punya Perspektif (2)

Di luar romantisme peninggalan para raja, Jimhur juga menyayangkan pelestarian Bahasa Madura di kalangan anak-anak. Hal itu akibat kurang perhatian pemerintah untuk melibatkan para pakar Bahasa Madura di Bangkalan. Jadi wajar jika anak-anak SD jarang menggunakan bahasa enggi bunten (bahasa halus orang Madura).

Karena itu, Jimhur berharap perhatian Bupati Bangkalan agar membuat kebijakan bagaimana nilai-nilai sosial, budaya dan bahasa Madura tak lenyap dari bumi Bangkalan.

Jika tidak, amatan Jimhur, efek jembatan Suramadu mengancam nilai-nilai budaya adab kesopanan, tata bahasa Madura cepat musnah tergerus globalisasi.

“Siapa yang bertanggung jawab? Ya masyarakat, khususnya pemerintah. Jangan hanya bisa menghabiskan anggaran saja. Tetapi tidak melihat kondisi yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Jika menghabiskan anggaran siapa yang tidak bisa,” sebut Jimhur  tertawa sumringah, sambil seruput kopi hitam yang menemaninya.

Bersambung….

Syaiful, Mata Bangkalan

Ikuti Tulisan Lanjutan: Hukum Rimba di Bangkalan

Baca JugaBangkalan Nasibmu, Apa yang Bisa Diperbuat? Jimhur Saros Punya Perspektif (1)

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Fans Page

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional