Menu

K. Ceddir, Bungin-bungin; Lentera Dari Ujung Timur Sumenep

K. Ceddir, Bungin-bungin; Lentera Dari Ujung Timur Sumenep
Pasarean K. Ceddir (K. Abdullah) di Bungin-Bungin, Dungkek, Sumenep. (Foto/RM Farhan)
Link Banner

DI ujung timur Kota Sumenep, sekaligus ujung timur Pulau Garam, banyak menyimpan jejak-jejak sejarah tempo doeloe. Mulai dari masa tokoh legendaris Sumekar, Jokotole alias Ario Kudapanule alias Secca Adiningrat II, kawasan pesisir di sana penuh dengan kisah-kisah. Raden Werdisastra, penulis buku Babad Songennep (1914) merangkainya dengan apik. Meski dalam gaya bahasa babad yang butuh ragam tafsir dan kajian historis untuk mengubahnya menjadi sajian sejarah dalam sisi keilmuan.

Dalam babad, salah satu tokoh yang disebut ada yang dikenal dengan nama Kiai Tengnga. Tokoh ini disebutkan wafat dan dikebumikan di Desa Ngenbungen (Bungin-Bungin), Dungkek. Siapa tokoh ini? Kenapa ia disebut dalam babad meski sekilas?

Asal-usul

Seperti gaya penulisan babad dan kisah legenda pada umumnya, tokoh yang diangkat lebih di titik tekankan pada asal-usul atau genealogi. Termasuk juga kisah sebelum lahir, ketika lahir, beranjak dewasa, dan kisah-kisah seputar sanak-saudara, sesepuh, dan leluhurnya.

Buku Babad Songennep yang ditulis oleh seorang cendekia besar di masanya itu, yaitu Raden Werdisastra memulainya pada tokoh Jokotole, dan ditutup dengan dinasti legendaris Sumenep sekaligus dinasti penutup (terakhir).

Buku itu ditulis, sesuai di pengantarnya, pada tahun 1914. Masa itu merupakan masa kolonial, dan sistem keratonisasi—di Madura khususnya—telah ditiadakan. Meski di kala itu, Sumenep masih “dikendalikan” oleh trah Bindara Saot (selaku pembuka dinasti terakhir, yang dimulai 1750-1929 M). Ketika buku itu ditulis, tepat pada pemerintahan Pangeran Ario Pratamingkusumo (Abdul Muhaimin).

Werdisastra sendiri, berasal dari keluarga yang disegani di kalangan keraton Sumenep. Keluarga yang bersusur galur pada tokoh legendaris bernama Pangeran Ronggodiboso alias Raden Entol Anom alias Raden Onggodiwongso, Patih Sumenep di abad 17, cucu Pangeran Macan Alas Waru, Pamekasan. Beliau merupakan kerabat dekat Pangeran Macan Ulung alias Tumenggung Yudonegoro, Raja Sumenep. Ibu Yudonegoro ialah sepupu dari Macan Alas Waru, sama-sama cucu Panembahan Sampang (Adipati Pramono).

Patih Ronggodiboso atau Pate Rangga merupakan tokoh bangsawan sekaligus kesatria pilih tanding. Beliau juga dikenal sebagai ulama besar Sumenep, dan cikal-bakal Roma Panggung sekaligus Langgar Panggung di Kepanjin Sumenep (sekarang lokasi itu menjadi Masjid Al-Alim, panti Asuhan, dan lembaga pendidikan di bawah naungan yayasan).

Majalah ini telah mengulasnya dalam rangkaian tiga edisi berturut-turut. Termasuk juga kiprah Patih Ronggodiboso dan keturunannya yang dikenal, di antaranya, Raden Demang Wongsonegoro atau Pate Bangsa (Patih Sumenep di awal abad 18), dan Raden Tumenggung Ronggo Kertaboso Pratalikrama (Hoofd Jaksa Sumenep, dan tokoh yang membantu Sultan Sumenep dalam menerjemahkan lempengan kuna di Bali). Ayah Pratalikrama adalah Raden Atmologo alias Kromosure (Pate Atma), adik Wongsonegoro (Pate Bangsa). Sedang Wongsonegoro dan Kromosure, sama-sama anak Pangeran Ronggodiboso.

Kembali pada awal tulisan, nama Kiai Tengnga disebut dalam babad. Salah satu keterangan menyebut bahwa Kiai Tengnga adalah anak dari Kiai Wongsodikoro, yang berasal dari Mataram. Ibu Kiai Tengnga bernama Nyai Berrek, yaitu salah satu putri Kiai Khatib Pranggan. Kiai Khatib Pranggan bersaudara dengan Kiai Khatib Paddusan, dan Kiai Khatib Sendang. Ketiganya merupakan anak Pangeran Katandur (Sayyid Ahmad Baidlawi), putra Panembahan Pakaos Kudus bin Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shadiq).

Dalam naskah silsilah Keraton Sumenep, Kiai Tengnga bernama lahir Kiai Abdullah. Beliau juga dikenal dengan sebutan Kiai Ceddir.

Kehidupan

Kiai Abdullah alias Kiai Tengnga alias Kiai Ceddir lahir dari kalangan ulama. Kakeknya Kiai Khatib Pranggan dan buyutnya Pangeran Katandur dikenal sebagai ulama besar dan waliyullah agung di masanya.

Dalam sejarah, Kiai Ceddir menikah dengan saudara sepupu ibunya, yang dikenal dengan nama Nyai Ceddir. Nyai Ceddir merupakan salah satu putri Kiai Khatib Paddusan. Beliau juga bersaudara dengan Kiai Ali alias Kiai Barangbang di Kalimo’ok, Kalianget.

Komplek Pasarean K. Ceddir (K. Abdullah) di Bungin-Bungin, Dungkek, Sumenep. (Foto/RM Farhan)

Kiai Ceddir dan Nyai Ceddir bermukim di Desa Lembung, Kecamatan Lenteng. Meski berasal dari kalangan pemuka agama dan keluarga tokoh-tokoh ulama besar Sumenep, Kiai Ceddir dikisahkan memiliki kepribadian yang menyimpang dari syari’at Islam.

Di samping dikenal hedonis, beliau dikenal sebagai seorang yang dekat dengan kehidupan malam dan bergelimang maksiat. Minum minuman keras, main perempuan, dan berjudi merupakan kegemaran beliau sejak muda hingga menikah dan memiliki anak.

Meski begitu, mengingat status sosialnya yang tinggi, yang mana keluarga Pangeran Katandur sangat disegani bahkan oleh kalangan keraton, tidak ada satupun orang yang berani menegurnya. Bahkan sang istri yang shalihah dan arifbillah juga tetap menghormatinya.

Hingga suatu saat, konon, setelah seluruh harta Kiai Ceddir habis akibat berjudi dan kebiasaan buruknya, beliau lantas meminta harta istrinya Nyai Ceddir.

”Aku butuh uang sekarang. Jika kamu ada simpanan, lekas berikan padaku,” perintah Kiai Ceddir kepada sang istri yang saat itu tengah khusyu’ berdzikir.

”Aku tidak punya sepeser pun uang,” kata Nyai Ceddir.

”Kau jangan bohong. Lekas berikan kunci lemarimu,” desak Kiai Ceddir.

Nyai Ceddir bersumpah bahwa dirinya tak berbohong. Tak percaya Kiai Ceddir membongkar isi lemari. Dan benar, tak ada secuilpun barang berharga di sana.

Kesal, Kiai Ceddir langsung keluar rumah. Namun amarahnya tak sirna, bahkan menjadi. Beliau tetap merasa sang istri membohonginya. Hingga akhirnya timbullah niat jahat.

Kiai Ceddir lantas mengisi tempat atau wadah yang biasa digunakan Nyai Ceddir untuk berwudlu’ (paddasan; bahasa Madura) dengan seekor ular berbisa, dengan tujuan mencelakakan sang istri. Dalam sebuah versi lain mengisi paddasan itu dengan tenja (tinja, atau kotoran).

Suatu ketika, saat Nyai Ceddir mau mengambil wudlu beliau memasukkan tangannya ke dalam paddasan itu, dan dikeluarkannya banyak sekali emas. Kiai Ceddir yang mengintip dari tempat lain tercengang.

”Kakanda, ini yang kau butuhkan bukan? Ambillah, dan puaskan keinginanmu,” Nyai Ceddir yang menunjukkan karomah-nya itu berseru pada sang suami yang diketahuinya tengah mengintip.

Sontak, Kiai Ceddir yang belum habis rasa terkejutnya itu langsung jatuh lunglai. Beliau lantas menangis dan menyesali perbuatannya. Sembari meminta maaf pada sang istri yang telah mencapai maqam tinggi di sisiNya itu, beliau lantas berkata, “Mulai sekarang, aku mohon ijin untuk meninggalkan segala macam kehidupan duniawi ini. Kita akan berjumpa lagi kelak di hari Kiamat.”

Wafat

Setelah peristiwa itu, Kiai Ceddir dikisahkan berkelana menuju ke arah Timur, untuk berkhalwat dan beruzlah. Konon beliau bertapa di bawah pohon Nangger di Ngenbungen hingga akhir hayatnya. Di tempat itu, beliau dikenal dengan sebutan Kiai Ngenbungen, dan dikenal keramat.

Jenazah Kiai dikebumikan di sana. Hingga kini komplek pemakaman beliau yang sederhana itu tetap terawat dan dikunjungi banyak peziarah, bahkan hingga dari luar Madura. Salah satu karomah beliau yang tetap dirasa hingga kini ialah, saat malam hari, tanpa penerangan sekalipun, beberapa peziarah mengaku tetap bisa dengan baik membaca mushaf al-Quran, seakan ada yang lentera yang menyinari di sekitar area makam. Wa Allah a’lam.

Kiai Ceddir dari pernikahannya dengan Nyai Ceddir dikarunia anak Nyai Kartika dan Kiai Jalaluddin di Parongpong. Kiai Jalaluddin ini berputra Nyai Izzah yang menikah dengan Bindara Saot, dan melahirkan Asiruddin alias Panembahan Notokusumo alias Panembahan Sumolo Raja Sumenep (1762-1811 M).

RBM Farhan Muzammily

 

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Fans Page

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional