Menu

Kanjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V; Ulama dan “Rato” Semarang yang Dibuang

  Dibaca : 320 kali
Kanjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V; Ulama dan “Rato” Semarang yang Dibuang
Gerbang Pasarean Kanjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V di pundak bukit Asta Tinggi Sumenep. (Foto Farhan/Mata Madura)
Link Banner

Kawasan Asta Tinggi Sumenep tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir pembesar keraton di ujung Pulau Garam ini. Beberapa tokoh “manca” (baca: Jawa dan lainnya), juga disemayamkan di bumi keramat itu. Salah satunya Kangjeng Kiai Adipati Semarang. Bagaimana kisahnya?

MataMaduraNews.comSUMENEP-Di tepi jalan menuju kawasan utama, tepat di pundak bukit Asta Tinggi, sebuah kawasan pemakaman berpagar batu bata tampak kokoh dengan sebuah cungkup yang terlihat berwibawa. Aroma angker di dalam kawasan itu masih terasa. Sebuah papan wasiat di dalamnya menerangkan bahwa tokoh utama yang esareyagi di kawasan tersebut ialah penguasa negeri Semarang: Kangjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V.

Pasarean beliau berada di dalam cungkup. Di sampingnya ialah pasarean isterinya. Sedang di luar cungkup dan sekitarnya merupakan makam keluarga dan keturunan beliau, maupun pengikutnya.

”Tidak banyak yang diketahui di luar cungkup ini. Kecuali yang di nisannya ada prasasti yang menjelaskan identitas tokoh,” kata R. B. Ruska, Kepala Asta Tinggi pada Mata Madura, beberapa waktu lalu.

Interniran dari Semarang

Kangjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V merupakan salah satu interniran di masa Kolonial. Istilah interniran merupakan turunan dari kata internir atau interneerd, yaitu istilah yang digunakan pada tokoh bangsawan yang dianggap revolusioner oleh kalangan kolonial Belanda, untuk selanjutnya diasingkan jauh dari negeri asalnya. Nah, salah satu interniran yang dikenal di Sumenep pada khususnya ialah Beliau ini: Sang Adipati Wadhono atau Hoofd Regent dari Semarang. Warga sekaligus pihak keluarga keraton di Sumenep mengenal beliau sebagai “Raja” Semarang, dengan sebutan agung: Kangjeng Kiai.

”Istilah raja di sini merujuk pada adipati, sebagai negeri bawahan Mataram. Istilah umum yang disandangkan pada penguasa lokal juga di Madura, seperti Bangkalan hingga Sumenep,” kata R. B. Muhlis, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, pekan lalu.

Lalu siapa sosok yang di tanah Jawa itu dikenal dengan nama Kangjeng Terbaya ini? Mr Hamid Algadri dalam bukunya, “Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda”, menyebut Kangjeng Kiai ini sebagai anggota keluarga Bestaman, yakni tokohnya yang paling dikenal ialah Kiai Ngabehi Kertaboso Bustam. Kiai Kertaboso ini merupakan Onder Regent, yaitu bupati kecil di Terbaya. Tokoh ini dikenal sebagai perantara perdamaian dalam peristiwa geger Mataram antara trio bangsawan Mangkubumi-Pakubuwana-Mas Said. Dari garis perempuan sang Kiai adalah cicit Panembahan Senapati Mataram. Sedang dari garis laki-laki, Mr Hamid menyebut ayah Kiai Kertoboso ialah Sayyid Husain yang memiliki nama Jawa Raden Wangsanaya. Salah satu sumber catatan silsilah keraton Mataram menyebut ayah Kiai Kertoboso Bustam ini Pangeran Syarif Al-Idrus, Sumare ing Gresik. Pangeran Syarif al-Idrus ini menikah dengan putri Kangjeng Pangeran Hario Juminah, anak Panembahan Senapati Mataram dari Permaisuri keduanya, Retno Dumilah, penguasa Madiun. Retno Dumilah ialah anak Pangeran Timur, putra Sultan Trenggana, Demak.

Hamid Algadri juga menyebut bahwa Kangjeng Terbaya ini merupakan tokoh cendekia dan intelek. Beliau juga dikenal menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai agama, bahasa asing, seni perang, politik, dan kebudayaan. Beberapa sumber juga menyebut beliau sebagai tokoh penguasa yang dikenal juga sebagai ulama di tanah Jawa. Jalur nasabnya yang merupakan keluarga Sayyid, dan kekerabatannya dengan ulama-ulama habaib dari klan Bin Yahya juga diakui banyak kalangan hingga sekarang. Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan, ulama besar dan tokoh perkumpulan Thariqah Mu’tabarah di Indonesia bahkan pada santri-santrinya sering berdawuh, bahwa Kangjeng Kai yang makamnya di Sumenep masih terhitung leluhurnya.

Dari sepuluh anak Kiai Kertabasa, anaknya yang bernama Kiai Ngabehi Suradirja, Patih Batang menurunkan Kangjeng Kiai Terbaya alias Suroadimenggolo ke-V. Silsilah ini berbeda dengan naskah atau catatan silsilah Keraton Sumenep. Kangjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo ke-V ini disebut sebagai turunan pancer dari Pangeran atau Kiai Ageng Pandanarang, adipati pertama Semarang. Dan di bukunya Hamid Algadri menyebut isteri Kangjeng Kai ini ialah Putri dari Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa alias KGPAA Mangkunegara ke-I dari Kartasura, pendiri sekaligus penguasa pertama Mangkunegaran, pecahan ketiga dari kerajaan Mataram.

Kijing Kanjeng Kiai Adipati Suroadimenggolo V di pundak bukit Asta Tinggi Sumenep. (Foto Farhan/Mata Madura)

Sepak terjang Kangjeng Kai di Semarang juga terekam di History of Java (Jilid I, kaca 273), menyebutkan pujian TS Raffles pada sosok Kangjeng Kai sebagai sanak saudara Panembahan Sumenep (Natakusuma ke-II), yang meliputi ketinggian status sosial maupun sikap dan wataknya. Sang Adipati ini memang dikenal sebagai sosok yang keras pada Kolonial. Dr. Soekanto dalam bukunya “Dua Raden Saleh Dua Nasionalis dalam Abad 19”, menyebut sang Adipati sebagai sosok yang tak kasih pada Gupernemen Belanda. Tindakan-tindakannya, hingga kemudian pengaitannya dengan peristiwa Perang Jawa membuat Kangjeng Kai diturunkan paksa dari kursi Adipati. Beliau ditangkap dan dibuang hingga ke Ambon, sebelum kemudian menetap di Sumenep.

Dua orang anggota keluarganya juga dikenal sebagai sosok “pemberontak” dan anti kolonial. Satu adalah putranya, dan seorang lagi ialah kemenakannya. Keduanya sama-sama bernama Raden Saleh. Sang anak ialah yang kelak dikenal dengan Raden Adipati Pringgoloyo, Patih dalem Sumenep. Yang satunya ialah Raden Saleh, Pelukis, yang dikenal dengan nama Syarif Bestaman, dan bermarga Bin Yahya.

Kangjeng Kai wafat 25 Dzulhijjah 1242 Hijriah. Jenazahnya dimakamkan di Asta Tinggi di sebuah kompleks khusus Pasarean “Raja” Semarang. Sultan Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat, sepupu sekaligus menantu Kangjeng Kiai sangat ta’zhim pada sosok ini. Sehingga berdasar riwayat lisan turun-temurun, berwasiat khususnya pada anak keturunannya agar lebih dulu berziarah pada Pasarean Kangjeng Kai sebelum Sultan dan sesepuh keraton Sumenep lainnya.

”Sultan menyebut Kangjeng Kai. Kangjeng karena merupakan sosok ‘rato’, dan Kai bermakna ayah,” kata R. P. M. Mangkuadiningrat, salah satu pemerhati sejarah lainnya di Sumenep.

Wasiat Sultan tersebut di masa ketua Perfas (Persatuan Famili Sumenep) R. P. Arifin Kusumodilogo, dicantumkan pada sebuah papan di Asta Tinggi. Namun papan itu lantas dipindah ke dalam hingga tak lagi kelihatan dari luar. ”Tapi kami tetap imbau pada peziarah dengan menginformasikan wasiat tersebut,” kata R. B. Ruska.

Dalam sejarah Sumenep, Kangjeng Kai ini memiliki 40 putra-putri. Sepuluh di antaranya ada di Sumenep dan menurunkan banyak tokoh-tokoh penting keraton. Salah satu anak laki-laki beliau masih melanjutkan kepemimpinan di Semarang, yakni Raden Krisno yang juga bergelar Adipati Suroadimenggolo.

R B M Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
bprs-wtp-matamadura
opd-matamadura

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional