Menu

Kasyaf al-Mahjub; Ilmu adalah Cahaya (2)

  Dibaca : 87 kali
Kasyaf al-Mahjub; Ilmu adalah Cahaya (2)
Link Banner

Al Ilmu Nuurun, Wal Jahlu Doorun (ilmu itu cahaya, bodoh itu bahaya). Muslim dituntut bukan hanya untuk bertaqwa, tapi juga berilmu.

Al-Hujwiri memahami ilmu sebagai cahaya adalah sebuah pengetahuan yang menuntun kebenaran (haqiqat). Sebab, memahami pengetahuan haqiqat, hati seorang muslim bisa mengenal Allah SWT (makrifatullah). Dengan pengetahuan makrifatullah, seorang muslim terbebas dari kebodohan.

Imam Sufi, ‘Ali Tsaqafi berkata: Al-‘ilm hayat al-qalb min al-jahl wanur al-‘ayn min al-zhulmat (pengetahuan adalah hidupnya hati yang mewujudkannya dari matinya kebodohan: ia adalah cahaya mata iman yang melindunginya dari gelapnya kekafiran).

Ilmu adalah cahaya yaitu ilmu mengenal Allah SWT. Para Sufi menegaskan ilmu mengenal Allah SWT bukan dengan cara-cara kebanyakan orang lakukan. Melainkan melalui hasil amaliah dan cara-cara khusus yang berasal dari petunjuk Allah.

Al-Hujwiri juga membagi ilmu pada dua golongan; ketuhanan dan kemanusiaan. Hanya saja, beliau memahami ilmu itu sebagai penerang kehidupan. Penuntun jalan dari kebodohan.

Baginya, ilmu kemanusiaan kurang bernilai dibanding ilmu ketuhanan. Al-Hujwiri menyebut ilmu ketuhanan adalah sifat dari Diri-Nya, maujud dalam Dia, yang sifat-sifat-Nya tak terhingga.

Ilmu mengenal Allah akan menuntun seorang hamba ke tahapan-tahapan untuk mengenal Allah swt.Abu Nasr al-Thusi (w. 378/998) dalam Al-Luma’, menerangkan tujuh station yang harus ditempuh sebelum mengenal Allah.

Orang yang memiliki ilmu Allah tergolong pencari Allah Swt (salik). Sebelum mencapai hasil puncak spiritual (mengenal-Nya;makrifatullah) si salik harus melalui station yang dikenal dengan kondisi dan kedudukan spiritual (al-ahwal wal maqamat). Seperti istilah, tobat, wara’, zuhud,fakir, sabar,tawakkal, ridha, muraqabah, mahabbah, khauf, raja’, syauq, uns,thuma’ninah, musyahadah, dan yaqin.

Ilmu makrifatullah dimaksud Dzun An-Nun adalah pengetahuan khusus yang dimiliki para wali Allah. Melalui hati yang bening memamancar pengetahuan setelah hijab duniawi tersingkap. Namun, pemancaran hati itu terjadi setelah Allah Swt menyinari hati bening melalui cahaya Allah (nurullah). Pengetahuannya dituntun oleh Allah Swt.

Makrifatullah tidak dapat ditempuh melalui pendekatan akal atau pembuktian empirik. Makrifatullah hanya bisa ditempuh melalui jalan olah hati, ruh dan rasa.

Untuk melalui jalan bathin tersebut, para salik (pejalan) seperti biasa melakukan etape yang ditentukan oleh mursyid. Penentuan etape (tangga) disesuaikan dengan kemampuan spiritual salik. Dari setiap etape itu, mursyid yang sudah mencapai makrifatullah-bisa mengukur station yang dijumpai salik (murid). Termasuk pengetahuan-pengetahuan bashirah sebelum menginjak kepada pengetahuan ruh yang terkahir pengetahuan rasa (makrifatullah).

Dalam beberapa kitab tasawuf, Dzun An-Nun-lah yang menjelaskan tentang istilah ahwal (kondisi bathin) dan maqamat (kedudukan) serta dzauq (cita rasa) salik sebelum mencapai makrifatullah (mengenal Allah).

Penjelasannya tentang istilah tersebut mempertegas isyarat hasil salik sebelum meraih makrifatullah. Isyarat-isyarat bathin itu menjadi bagian terkecil dari sifat nurullah (cahaya Allah) yang menghampiri para pencari Allah Swt.

Bersambung

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional