Menu

Kesuksesan Jamu Hj. Sumiati, Berkah Kembangkan Warisan Sang Nenek

  Dibaca : 230 kali
Kesuksesan Jamu Hj. Sumiati, Berkah Kembangkan Warisan Sang Nenek
BERAGAM: Sejumlah produk Jamu Tradisonal Hj. Sumiati Pamekasan, Madura. (Foto Johar Mata Madura)
Link Banner

 

BERAGAM: Sejumlah produk Jamu Tradisonal Hj. Sumiati Pamekasan, Madura. (Foto Johar Mata Madura)

BERAGAM: Sejumlah produk Jamu Tradisonal Hj. Sumiati Pamekasan, Madura. (Foto Johar Mata Madura)

MataMaduraNews.comPAMEKASAN – Dunia usaha seseorang selalu beragam latar belakangnya. Lazimnya, dimulai dengan keinginan dan ketertarikan mengembangkan suatu hal yang mendatangkan keuntungan. Baik bermula dari hobi maupun memang sejalan dengan passion dalam pekerjaan. Akan tetapi, ada pula yang tinggal meneruskan. Salah satunya adalah usaha warisan. Entah sudah maju atau harus dikembangkan sebagaimana salah satu usaha jamu tradisional di Pamekasan.

Namanya Jamu Tradisional “Hj. Sumiati”. Sejarah jamu yang kini sudah bernama di mana-mana itu, dimulai tahun 1976. Waktu itu, Sumiati muda membantu neneknya yang sering membuat jamu tradisional. Karena usia sang nenek sudah uzur (90), Sumiati muda pun menjadi sering terlibat dalam pembuatan jamu. Hampir setiap hari, Sumiati membantu berjualan jamu di pasar Gurem (lama), salah satu pasar tradisional di Pamekasan. ”Karena seringnya membuat jamu itulah, Sumiati akhirnya menguasai ilmu pembuatan jamu. Mulai jamu untuk orang melahirkan, sakit flu, dan lainnya, Sumiati kuasai,” Demikian Haji Suhairi mengawali cerita kepada Mata Madura, Kamis, 25 Mei lalu.

Sepuluh tahun kemudian, tutur suami Sumiati tersebut, sang nenek sakit-sakitan. Hal itu kemudian menjadi momentum penting bagi Sumiati dalam hidupnya. Selain menyerahkan seluruh bahan jamu yang ada kepada Sumiati, sang nenek juga mengajari Sumiati tata cara membuat jamu secara lengkap. Bersamaan dengan itu, Haji Suhairi juga memulai usaha percetakan. Dan usaha percetakan tersebut yang akhirnya mengenalkan Sumiati pada kemasan.

Cerita pun berlanjut. Pada tahun 2002, Pemerintah Kabupaten Pamekasan melalui Bagian Perekonomian dan Dinas Kesehatan membantu menguruskan legalitas usaha jamu “Hj. Sumiati”. Dan berkat bantuan pemerintah itu, ijin BPOM pun diperoleh.

Sejak saat itu, jamu “Hj. Sumiati” rajin mengikuti pameran-pameran yang diadakan pemerintah. Usaha jamu yang beralamat di Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan itu pun mulai dikenal hingga luar kota. ”Baik di Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan, Batam, bahkan Papua,” ujar Suhairi.

Saat ini, para pembeli dari Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan, Batam, dan Papua itu datang ke rumah Haji Suhari atau lebih dikenal dengan Haji Heri. Mereka datang langsung ke kawasan Bagandan untuk membeli jamu dalam bentuk bubuk. ”Kami menyediakan aneka jamu tradisional Madura dan jamu lahir lengkap. Serbuk, plintiran, kapsul, dan cair,” terangnya.

Tentu saja, dengan banyaknya konsumen hingga luar daerah itu membuat jamu warisan sang nenek semakin berkah. Terbukti ketika ditanya berapa omzet perbulan, Haji Suhairi bersyukur karena rata-rata sudah mencapai Rp 10 juta. Namun yang menarik, kata dia, usaha jamu itu tidak semata-mata  mengejar keuntungan materi. ”Kami punya visi, bagaimana  berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat, khusunya masyarakat tidak mampu,” terang pengurus Koperasi Car Freeday Pamekasan itu.

Tak heran, seringkali ada masyarakat yang membeli jamunya tidak dengan uang. Melainkan dengan menukar talas, pisang, singkong, dan lainnya. ”Mau bagaimana lagi, Pak, saat ada orang desa yang ketemu kami di pasar ingin jamu, tapi nggak punya uang. Yang punya hanya talas, ya kami terima,” tandasnya.

| johar/rafiqi

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional