Menu

KH Tolchah Hasan; Sosok dan Kiprahnya

KH Tolchah Hasan; Sosok dan Kiprahnya
KH Tolchah Hasan
Link Banner

matamaduranews.com-Kabar duka atas wafatnya sosok ulama kharismatik asal Malang, KH Tolchah Hasan cukup menyelimuti kaum nahdiyin. Memasuki hari ke-24 puasa ramadlan 1440 H, seorang ulama NU yang banyak mengukir jasa peradaban bangsa menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 14.30 WIB, Rabu (29/5/2019) di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang.

Selama hidup, almarhum dikenal sebagai tokoh kiai NU yang memiliki perhatian tinggi pada dunia pendidikan. Sekitar akhir tahun 80-an, almarhum bersama beberapa alumni IPNU, sekitar 10 orang, menggagas berdirinya Universitas Islam Malang (UNISMA). Beliau didapuk menjadi rektor hingga tahun 1998.

Kiai kelahiran Tuban, 10 Oktober 1936 ini, memiliki kepiawaian melakukan kaderisasi dan merintis lembaga-lembaga pendidikan. Semua lembaga yang dirintis tumbuh dan berkembang. Dan akhirnya dilepas dan diserahkan kepada tenaga yang lebih muda.

Tercatat ada sejumlah lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Agama Islam (YPAI), mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA, MA dan SMK mampu berkembang menjadi lembaga pendidikan yang tumbuh maju dan pesat.

Salah satunya, Universitas Islam Malang (Unisma), sebuah perguruan tinggi percontohan Nahdlatul Ulama. Suatu ketika, beliau berkisah suka duka memajukan Unisma. “Selama tiga tahun, para dosen hanya diberi uang transport Rp5.000. Tapi, tiap bulan pula ditariki Rp50.000,” ujar sang profesor itu sembari tersenyum simpul.

“Jadi, kita tekor Rp45.000,” lanjutnya disambut derai tawa hadirin.

Perjuangan Kiai Tolcha berbuah manis. Kini, Unisma menjadi salah satu kampus swasta ternama. Bahkan, dapat dikatakan, sebagai kampus kebanggaan Nahdlatul Ulama.

“Kini Unisma dengan anggaran sudah Rp85-87 Miliar per tahun. Dan, itu tak pernah tekor,” papar almarhum suatu ketika dengan penuh kepuasan akan hasil sebuah perjuangannya.

Kiai Tolchah merupakan Kiai yang juga tekun dalam organisasi. Aktivitas dalam organisasi dimulai semenjak mondok di Ponpes Tebuireng, Jombang.

Pada waktu muda, KH Tolchah pernah aktif di IPNU. Almarhum tercatat sebagai generasi pertama IPNU. Di usia remaja, almarhum menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Pimpinan Cabang Kabupaten Malang pada era tahun 1960-an

Almarhum juga pernah menjadi Wakil Rais Aam PBNU. “Beliau ini pribadi yang komplet dan teduh,” kata Rais Aam PBNU KH Miftahul Ahyar seusai acara buka bersama di PWNU Jawa Timur, Rabu (29/5/2019).

Menurut Kiai Miftah, Kiai Tolchah selalu memikirkan umat. Dia menyebut, hampir seluruh hidupnya diwakafkan untuk NU, terutama di bidang pendidikan.

“Kita tahu, Kiai Tolchah telah mendirikan UNISMA (Universitas Islam Malang) yang sekarang begitu besar. Di dalamnya juga ada pondok pesantren, dan itu menjadi milik NU. Mungkin tinggal beliau yang sepuh di NU,” katanya.

Karena itu, kata Kiai Miftah, wafatnya Kiai Tolchah, menjadi kehilangan besar bagi NU. “Beliau orang alim. Ilmu itu belum kita serap 100 persen, dan sekarang beliau wafat. Maka, NU sangat kehilangan,” katanya.

Sebelum Kiai Tolchah jatuh sakit, Kiai Miftah mengaku pernah bertemu. Saat itu pun, Kiai Tolchah masih bicara soal pendidikan. “Beliau bilang, di usia sekian saya masih ngurusi pendidikan, dan ini nanti jadi milik NU,” katanya menirukan perkataan Kiai Tolchah.

Pengakuan sama juga disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Menurut Khofifah, Kiai Tolchah adalah tokoh yang teguh menjaga independensi pemikiran dan gerakan organisasi. Menjaga jarak yang sama dengan kekuatan politik.

Khofifah juga masih ingat, saat 1999, Kiai Tolchah memintanya menjadi Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah. Padahal, saat itu dirinya sedang menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN.

“Itulah beliau, kontribusi beliau cukup besar bagi negeri ini, khususnya dalam pengembangan pendidikan di NU. Kita semua kehilangan,” katanya.

“Terakhir saya bertemu beliau di RS Saiful Anwar Kota Malang. Beliau mendoakan kepada saya agar amanah dan sukses, serta selamat sampai akhir (kepemimpinan sebagai gubernur),” katanya.

Sosok keilmuan Kiai Tolchah cukup mendalam. Penguasaan terhadap teks-teks agama ditunjukkan dengan aktivitasnya mengajar di pondok pesantren dan di berbagai perguruan tingi. Sebagai seorang tokoh agama, almarhum juga mampu menciptakan pemikiran-pemikiran segar dalam pemahan terhadap agama. Buku populer yang ia tulis (disamping banyak karya yang lain) adalah “Ahlussunnah wal Jamaah dalam Tradisi dan Persepsi NU.”

Perannya sebagai ulama juga ditunjukkan dengan eksistensi Masjid Sabilillah di Singosari Malang yang dibangun bersama salah seorang founding father NKRI, KH Masykur. KH Masykur menunjuk Kiai Alumni Tebuireng ini sebagai ketua panitia pembangunan masjid itu. Kiai Tolchah mampu mengembangkan Masjid Sabilillah menjadi sebuah masjid yang tidak hanya menonjol sebagai tempat ibadah, melainkan tempat pengembangan masyarakat dengan memberdayakan masjid berperan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Dalam kegiatan sosial ekonomi almarhum mendirikan Laziz Sabilillah, Poliklinik sebagai pusat kesehatan Masyarakat. Semuanya itu dikelolah dengan baik dibawah Masjid Sabilillah. KH Tolchah mampu mengembangkan masjid sebagai pusat peradaban seperti masa lalu.

Redaksi: diolah dari berbagai sumber

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional