Menu

Kiai Adil, Raba: Penerima Tongkat Estafet Kiai Agung

  Dibaca : 359 kali
Kiai Adil, Raba: Penerima Tongkat Estafet Kiai Agung
SETENGAH ORI. Inskripsi pada batu nisan Kiai Adil di Raba, Pamekasan. Hadiah dari Pangeran Natakusuma, Sumenep. Sayang, badan kijing sudah berganti keramik. Alasannya karena sudah rusak. ( Foto/ R. M. Farhan, Mata Madura )
Link Banner

Sebagaimana pendahulunya, beliau masyhur dengan sebutan Kiai Rawa (baca: Raba). Keturunannya menambah angka romawi II di belakang sebutan itu. Beliau dikenal sebagai pengganti paman, ayah angkat sekaligus gurunya; Kiai Agung Raba Pamekasan: Pakunya Pulau Madura.

 

MataMaduraNews.com-PAMEKASAN-Tak banyak yang tahu tentang tokoh ini. Namanya terselip di banyak kisah tentang ketenaran situs Raba, di desa Sumedangan, kecamatan Pademawu, Pamekasan. Riwayat turun-temurun—lisan dan sedikit tulisan, menyebut nama lahir beliau Adil. Mereka yang memiliki garis nasab pada tokoh ini biasa menyebut dengan Buju’ Adil atau Kiai Adil. Masih belum jelas apakah ada tambahannya. Sebagian orang memperkirakan nama lengkapnya Abdul Adil.

 

SETENGAH ORI. Inskripsi pada batu nisan Kiai Adil di Raba, Pamekasan. Hadiah dari Pangeran Natakusuma, Sumenep. Sayang, badan kijing sudah berganti keramik. Alasannya karena sudah rusak. ( Foto/ R. M. Farhan, Mata Madura )

SETENGAH ORI. Inskripsi pada batu nisan Kiai Adil di Raba, Pamekasan. Hadiah dari Pangeran Natakusuma, Sumenep. Sayang, badan kijing sudah berganti keramik. Alasannya karena sudah rusak. ( Foto/ R. M. Farhan, Mata Madura )

Di batu nisan kuna yang menjadi penanda tempat peristirahatan abadi Kiai Adil, tertulis nama Kiai Rawa walad Kiai Arsoji. Kurang lebih maknanya ialah Kiai Raba anak Kiai Arsoji. Arsoji ialah nama sebuah kampung di desa Pagendingan, Kecamatan Larangan, yang juga ada di kawasan kabupaten Gerbang Salam ini.

 

“Arsoji itu Air Suci. Kiai Abdul Qidam bermukim di sana, dan masyarakat lebih mengenal beliau dengan sebutan Kiai Arsoji,” kata Bindara Ilzam dan Abdul Hamid.

 

Meski begitu, pasarean Kiai Abdul Qidam tidak terletak di Arsoji. Pasarean beliau ada di kecamatan Larangan, Pamekasan. Tepatnya di belakang kantor Koramil Larangan.

 

Dalam bukunya, Zainalfattah menyebut lokasi pasarean Kiai Abdul Qidam di desa Pontek, dekat dengan kantor kecamatan Larangan. Kantor kecamatan Larangan tepat di sebelah barat kantor koramil Larangan. Dan sekitar lebih dari 50 meter dari jalan raya—melalui sebuah jalan kecil di samping kantor koramil, lokasi pasarean bisa dijangkau. Saat ini desa Pontek menjadi desa Larangan Dalam berbatas dengan desa Pagendingan.

 

Pasarean Kiai Abdul Qidam berada di sebuah area sekira luasnya 10 x 20 m2. Maqbarah beliau berada di paling barat berjejer dengan isteri beliau. Situs pasarean sudah tidak utuh. Bahkan diduga hanya nisannya yang masih original. Kijingnya sudah dikeramik. Meski kini di dekat pasarean ada maklumat larangan mengubah keaslian kuburan dari instansi terkait.

 

Dalam sejarah dan riwayat yang masyhur—tanpa khilaf, Kiai Abdul Qidam menikah dengan saudara perempuan Kiai Agung Raba yang bernama Nyai Asri. Dari pernikahan ini lahir Kiai Adil (Kiai Raba ke-II), Kiai Abdullah alias Bindara Bungso (Kiai Batuampar), Nyai Maisaroh, dan Nyai Billa Bagung.

 

DI MAKAN JAMAN. Sisa pagar yang mengelilingi pasarean Kiai Adil di Raba, Pamekasan. ( Foto/ R. M. Farhan, Mata Madura)

DIMAKAN JAMAN. Sisa pagar yang mengelilingi pasarean Kiai Adil di Raba, Pamekasan. ( Foto/ R. M. Farhan, Mata Madura)

Kecuali Kiai Abdullah atau Bindara Bungso, ketiga saudaranya yang lain banyak menurunkan tokoh-tokoh ulama besar di Pamekasan. Sedang Kiai Abdullah dari keempat isterinya menurunkan beberapa putra-putri yang di antaranya ialah Bindara Saut, tokoh legendaris keraton Sumenep dinasti terakhir. Dari Bindara Saut ini bermunculan tokoh-tokoh adipati hingga di daerah tapal kuda—mulai dari Blambangan, Panarukan, Situbondo, Besuki, Probolinggo, hingga Pasuruan.

 

Dari Kiai Abdullah ini juga banyak bermunculan tokoh-tokoh pesantren di Sumenep melalui putra-putri beliau lainnya. Singkatnya hampir seluruh ulama di Sumenep-Pamekasan hingga mencapai daerah tapal kuda memiliki pertautan darah (garis silsilah) pada Kiai Abdul Qidam.

 

Kembali pada Kiai Adil. Beliau ini termasuk putra Kiai Abdul Qidam yang diambil sebagai anak angkat oleh pamannya, Kiai Agung Raba. Putra Kiai Abdul Qidam lainnya yang masyhur juga diasuh Kiai Agung Raba ialah Bindara Bungso atau Kiai Abdullah.

 

“Dalam kisah kedatangan Kiai Agung Raba ke Pamekasan, di masa Ronggosukowati, di mana waktu itu hujan tak turun hingga tujuh tahun, beliau (Kiai Agung; red) bersama keponakannya, yaitu Kiai Abdullah bin Abdul Qidam,” tambah Hamid.

 

Di masa Kiai Agung Raba, kedua keponakannya itu diriwayatkan mewakili beliau mengasuh pesantren Raba. Hingga suatu saat Kiai Abdullah disuruh hijrah ke Batuampar Sumenep. Otomatis yang mewakili sekaligus mengganti posisi Kiai Agung Raba ialah Kiai Adil bin Abdul Qidam.

 

“Tidak banyak riwayat mengenai Kiai Adil ini. Namun di jaman kuna dulu, Raba menjadi tempat jujukan para penimba ilmu agama. Satu-satunya riwayat sepuh di Raba berbentuk naskah kuna bertuliskan huruf Arab. Disebut sebagai naskah macopat Raba,” kata Hamid.

 

Setelah Kiai Adil wafat, secara berturut-turut pesantren Raba diasuh oleh Kiai Arham, Kiai Isnad, Kiai Husen, Kiai Sama’on dan Kiai Abdul Wahab alias Kiai Adra’ie.

 

Di masa Kiai Adra’ie, pesantren Raba mengalami perubahan. Pesantren ini diberi nama Pondok Pesantren Darun Na’im. Sistem pendidikan menggunakan metode klasikal salaf. Saat itu juga merupakan era kemajuan pesantren Raba. Santri bertambah banyak. Mereka berasal dari luar maupun Pamekasan sendiri.

 

“Setelah beliau wafat kepemimpinan ponpes Darun Na’im diasuh oleh Kiai Ahmad Madani bin Adra’ie. Pada masa ini tetap dengan sistem klasikal salaf, tapi sudah ada lembaga setingkat Madrasah Diniyah, dan  Lembaga Pendidikan Tilawatil Qur’an,” jelas Hamid.

 

Kiai Ahmad Madani terus memimpin pesantren Darun Na’im hingga wafatnya pada tahun 2014. Sejak saat itu pesantren ini sempat vacum. Namun atas musyawarah keluarga, kepemimpinan Ponpes Darun Na’im diserahkan pada tiga orang, yaitu Bindara Fathorrahman, Bindara Abdul Hamid dan Bindara Imam Raziqi Madani.

 

“Setelah itu kita dirikan Yayasan Syaikh Abdurrahman Buju’ Agung Raba (YASYRAH), dam sepakat merubah nama Ponpes Darun Na’im menjadi Ponpes Syaikh Abdurrahman Rabah,” tutup Hamid.

 

R B M Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional