Kiai Asyhar Wongsodirejo; Buju’ Seda Bulangan

MataMaduraNews.Com-PAMEKASAN-Bagi yang pernah membaca tulisan-tulisan sejarah kuna maupun babad di Madura, mungkin akan menemukan sebuah bab yang membahas tentang Buju’ Seda Bulangan. Seda Bulangan berasal dari dua kata, yaitu seda (Madura) atau sedo (Jawa), dan Bulangan. Seda atau sedo merupakan kata halus dari mati atau wafat. Sedangkan Bulangan merupakan nama sebuah tempat di kota Gerbang Salam.

Secara sederhana, sebutan tersebut merupakan gelar anumerta. Yaitu gelar yang diberikan pada tokoh-tokoh besar, yang umumnya dari kalangan bangsawan tingkat tinggi atau penguasa suatu wilayah pasca berpulang ke rahmatNya. Gelar itu umum banyak dijumpai di kawasan Madura-Jawa. Di Madura misalnya, ada Pangeran Siding Puri (Sumenep), Panembahan Siding Kamal, Pangeran Siding Kaap, dan Panembahan Sido Mukti. Tiga nama terakhir merupakan tokoh-tokoh penguasa di Madura Barat atau Bangkalan sekarang.

Langgar Belli', peninggalan Kiai Asyhar di Bulangan. (Foto/R M Farhan)
Langgar Belli’, peninggalan Kiai Asyhar di Bulangan. (Foto/R M Farhan)

Mengenai sebutan Seda Bulangan, sejatinya tidak hanya disematkan pada satu orang saja, namun dua orang. Yang pertama disebut Seda Bulangan ialah Raden Tumenggung Ario Adikoro ke-IV (Raden Isma’il), adipati Pamekasan. Dan yang kedua ialah Kiai Asyhar atau Raden Wongsodirejo, Penghulu Bagandan. Kiai Asyhar merupakan tokoh ulama besar di masanya. Beliau merupakan leluhur Kiai Ruham yang menurunkan sebagian para ulama di Pamekasan, Sumenep hingga daerah tapal kuda. Keduanya itu gugur dalam peristiwa pemberontakan Ke’ Lessap di tahun 1750 M, di tempat bernama Bulangan.

ULAMA SYUHADA DARI BAGANDAN

Ke’ Lessap, salah satu pemuda sakti dari Madura Barat membuat sejarah yang terus terukir hingga detik ini. Pemuda kampung yang konon berdarah biru ini menyimpan sebuah dendam kesumat. Konon, ia anak Panembahan Sido Mukti atau Cakraadiningrat ke-V dari Madura Barat, dengan seorang perempuan desa (selir). Namun, sang Panembahan tak mengakuinya. Ceritanya, ibu Ke’ Lessap tidak pernah dibawa ke keraton. Ia hanya pernah dinikahi sang Nata, namun tidak diresmikan. Saat pengakuan yang diinginkannya tak diraih, sontak, darah muda di tubuh Ke’ Lessap menggelegak. Merasa dipermalukan, ia lantas mencari tuah ke mana-mana; ke puncak gunung, ke dalam gowa, hutan belantara, pun semua lokasi angker dan keramat di pulau garam.

Lokasi Peperangan Adikoro IV-Kiai Asyhar dengan Ke' Lessap di Bulangan. (Foto/Kiai Rawa)
Lokasi Peperangan Adikoro IV-Kiai Asyhar dengan Ke’ Lessap di Bulangan. (Foto/Kiai Rawa)

Singkat kata dan cerita, anak muda berbaju dendam itu menjelma menjadi sosok sakti pilih tanding. Ia kemudian memulai petualangannya dari Madura Timur (Sumenep), sesuai dengan lokasi pertapaan terakhirnya di Gunung Payudan.

Ke’ Lessap mengadu kesaktian dengan siapa saja yang ditemuinya. Umumnya para lawan tandingnya itu dari kalangan begal atau rampok. Dari sana ia lantas menjadi pimpinan segenap grup rampok di Sumenep. Modal pasukan begal itu digunakan untuk menyerang keraton Sumenep. Kesaktian Ke’ Lessap memang terbukti mumpuni, Sumenep diduduki, bahkan sang Nata (Cakranegara IV) hampir terbunuh. Untung ia berhasil meloloskan diri, sehingga lantas dijuluki Pangeran Lolos.

Dari Sumenep, modal bertambah: pasukan begal plus pasukan keraton. Dua kekuatan itu langsung bertolak ke barat. Pamekasan dengan mudah diduduki. Karena sang adipati, Adikoro ke-IV sedang ke Semarang. Dari sana Sampang juga direbut. Sambil mempersiapkan diri menuju ujung barat.

Adikoro IV, melalui teliksandi menerima kabar jika Pamekasan diduduki musuh. Adipati yang dikenal pemberani ini langsung kembali ke Madura. Sesampainya di Bangkalan sekarang, ia menemui mertuanya, Panembahan Cakraadiningrat V. Oleh sang mertua, Adikara diminta bergabung dengan pasukan Bangkalan dan menunggu saja serangan Ke’ Lesap ke barat. Namun Adikara IV memohon ijin untuk langsung ke Pamekasan.

Di jalan, Adikara IV bertemu dengan utusan Ke’ Lessap yang membawa surat tantangan. Sang Adipati yang ksatria itu naik pitam, nasi yang hendak masuk ke mulut diurungkannya. Beliau langsung dengan pasukan kecilnya bertolak ke Pamekasan.

Sumber Mata Air Peninggalan Kiai Asyhar di Bulangan. (Foto/Kiai Rawa-rawa)
Sumber Mata Air Peninggalan Kiai Asyhar di Bulangan. (Foto/Kiai Rawa-rawa)

Sesampainya di Bagandan, beliau menemui Kiai Asyhar, saudara sepupunya yang sekaligus Penghulu Bagandan. Adikoro IV meminta Kiai Bagandan itu bergabung. Namun sang Kiai meminta sang Nata agar sabar, karena secara wetonan atau sasmita, saat itu bertepatan dengan Rabu Wekas (akhir) di bulan Safar. Dengan kata lain merupakan saat yang naas atau kurang baik jika untuk berperang.

Mendengar itu, Adikoro berkata: “Apa kamu bersedia mati bersamaku, wahai saudaraku?”.

Pertanyaan Adikoro langsung dijawab Kiai Asyhar: “Hamba bersedia Baginda. Mari kita berangkat”.

Pasukan Adikoro IV dan Kiai Asyhar langsung menemui pasukan Ke’ Lessap. Pertempuran sengit terjadi berhari-hari. Meski kalah jumlah, namun pasukan Pamekasan tergolong tangguh. Apalagi pemimpinnya, Adikoro IV dan Kiai Asyhar merupakan tokoh pilih tanding.

Namun, kenyataan tetaplah kenyataan. Pasukan Pamekasan dipukul mundur oleh Ke’ Lessap. Pasukan mundur hingga ke Bulangan, yaitu lokasi kediaman Kiai Bagandan. Sekarang lokasi peperangan itu masuk desa Bulangan Barat. Sebuah dataran tinggi. Di sana perang lebih dahsyat. Namun pasukan Ke’ Lessap tetap tak bisa menangkap Adikoro IV dan Kiai Asyhar. Bahkan pasukan musuh mulai kelelahan dan semangatnya turun. Ke’ Lessap yang sakti mandraguna juga tetap tak bisa menundukkan kedua tokoh tersebut. Hingga akhirnya dengan muslihat, Adikoro IV dan Kiai Asyhar berhasil dilumpuhkan.

Adikoro IV gugur lebih dulu. Sementara Kiai Asyhar sempat dibawa pengikutnya, sebelum kemudian menghembuskan nafas di tempat yang sekarang bernama desa Bulangan Timur. Di tempat itu darah Kiai Asyhar mengalir deras membasahi tanah. Atas ijin Allah, tanah tersebut hingga kini tidak ditumbuhi rumput. Oleh masyarakat setempat lantas diberi batas berupa pagar sekeliling.

Versi lain menyebut perang sejak awal terjadi di daerah Bulangan. Dengan kata lain pasukan Pamekasan memang membangun pertahanan di daerah tersebut sejak awal. Mereka menunggu serangan Ke’ Lessap. Versi ini yang diyakini sebagian keturunan Kiai Asyhar di Pamekasan.

R B M Farhan Muzammily

 

Tinggalkan Balasan