Menu

Kiai Bedduk; Penghulu Mardikan Ambunten Pertama (1)

Kiai Bedduk; Penghulu Mardikan Ambunten Pertama (1)
Pasarean Kiai Bedduk, Kiai Penghulu Mardikan Ambunten Pertama, di Ambunten, Sumenep. (Foto/RM Farhan)
Link Banner

DAERAH Ambunten merupakan daerah yang strategis di masa lampau. Lalu lintas utama jalur darat. Mengacu pada dua hal. Pertama, dalam literatur Sumenep tempo doeloe, dua orang tokoh dikenal sebagai Penjaga Pintu Gerbang Utara Keraton Sumenep. Tokoh pertama ialah Raden Sutojoyo. Beliau merupakan putra dari Pangeran Macan Alas Waru, pembabat tanah Waru, Pamekasan.

Dalam catatan silsilah keluarga K. R. P. Wongsoleksono, Penghulu Distrik (Penghulu Naib) Rubaru sekira tahun 1938 Masehi, Raden Sutojoyo disebut sebagai Manteri Sotabar. Saat ini Sotabar adalah salah satu Desa yang terletak di wilayah Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur. Wilayah ini batas utaranya hingga pesisir.

Jika dipadukan dengan catatan Roma Panggung dan Silsilah Patih Ronggodiboso susunan K. Moh. Ramli Sasmitokusumo, Wedana Kangayan tahun 1946 Masehi, Raden Sutojoyo merupakan penguasa Sotabar dengan pangkat Tumenggung. Catatan menyebut beliau sebagai Manteri Manca keraton Sumenep.

Catatan keluarga Pasongsongan, semisal milik keluarga besar Abdul Hadi WM (Sastrawan), dan Ustadz Ainul Yaqin di Pasean, Raden Sutojoyo hanya disebut tanpa keterangan lebih lanjut. Namun catatan sebagian keluarga kiai-kiai di Pamekasan, menyebut Raden Sutojoyo sebagai penjaga pintu keraton Sumenep Bangket Bara’. Lokasi yang disebut selanjutnya ialah Sotabar.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa Sotabar kala itu masih masuk wilayah administrasi keraton Sumenep. Kesimpulan kedua, posisi Raden Sutojoyo begitu penting. Kedudukannya tak hanya pembesar keraton yang menjaga pintu gerbang perbatasan, namun juga dimungkinkan penghubung diplomasi dengan negeri-negeri tetangga.

Kesimpulan pertama mengingat salah satu putra Raden Sutojoyo, yaitu Raden Onggodiwongso atau yang dikenal dengan nama Raden Entol Anom, merupakan Patih Sumenep yang dikenaldalam banyak kisah tutur. Raden Onggodiwongso tak hanya dikenal sebagai negarawan, namun sekaligus cendekiawan dan ulama yang menjadi jujukan banyak kalangan dalam menggali ilmu.

Bekas kediamannya di Kepanjin, merupakan Rumah Panggung tua dan beberapa peninggalan berupa langgar dan sumur. Rumah tersebut bisa dibilang unik. Pasalnya rumah menghadap ke arah barat, bukannya ke arah selatan, mengikuti perkembangan struktur pembangunan yang berkiblat pada Mataram (Jawa).

“Di masa Sultan Agung, posisi rumah memang memiliki pakem dengan menghadap ke arah selatan. Nah, sebelum itu memang belum ada pakem khusus. Artinya bebas mengarah ke mana saja. Dan umumnya mengarah pada dataran tinggi seperti gunung atau bukit,” kata Hairil Anwar, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.

Menurut Iik Guno Sasmito, salah satu anggota keluarga Rumah Panggung Kepanjin atau kediaman Ronggodiboso putra Sutojoyo, posisi tersebut dimungkinkan memang menghadap ke sesepuhnya, yakni di bukit atau “gunung” Waru, Pamekasan. “Ada riwayat demikian. Karena di Waru itu kan posisi kakeknya dimakamkan, yaitu Pangeran Macan Alas,” ungkap Iik.

Sayangnya, karena beberapa hal, Rumah Panggung Ronggodiboso ini hanya tersisa bagian belakangnya saja. Pasalnya, bangunan tersebut dengan beberapa bangunan lainnya saat ini telah diratakan dan dibangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Al-Alim.

Tokoh kedua selain Raden Sutojoyo sebagai Penjaga Pintu Gerbang Utara Keraton Sumenep ialah Pangeran Kornel Nawawi. Kornel merupakan pangkat dalam dunia militer kala itu. Istilah lainnya ialah Kolonel. Pangeran ini merupakan salah satu putra utama Sultan Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat (memerintah 1811-1854 Masehi).

Pangeran Kornel memang bertugas menjaga pintu utara keraton. Hanya posisi beliau tidak seperti Raden Sutojoyo yang berkedudukan di pesisir utara. Markas militer di kampung yang saat ini dikenal dengan Loteng, di kelurahan Karangduak.

Sebutan Loteng itu mengacu pada kediaman atau rumah sang Pangeran yang megah, luas dan berlantai dua. Lantai kedua, kabarnya pernah menjadi markas untuk memantau wilayah utara keraton.

Tak seperti rumah panggung Patih Ronggodiboso, Loteng Pangeran Kornel masih utuh hingga saat ini. Di masa pasca Pangeran Kornel, Loteng menjadi sebuah pesantren yang dirintis oleh cucu menantunya, yaitu Raden Bagus Hasan, dan berjalan pesat hingga tiga generasi setelahnya. Beberapa kiai besar Sumenep banyak yang menimba ilmu di pesantren Loteng.

Kembali pada Ambunten, wilayah ini otomatis menjadi lokasi strategis karena berada di bagian utara. Apalagi banyak tokoh-tokoh besar Sumenep di masa lalu hidup di wilayah tersebut. Seperti Kiai Macan alias Raden Singoleksono, Kepala Ambunten. Yang bersangkutan merupakan cucu Patih Ronggodiboso putra Raden Sutojoyo. Mata Madura dalam dua edisi Jejak Ulama telah mengulas tentang Kiai Macan Ambunten alias Kiai Singoleksono, yang diumpakan sebagai Ratu Simanya Madura ini.

Selain Kiai Macan ada beberapa nama tokoh-tokoh ulama periode awal di Ambunten. Seperti Kiai Langgar Attas, Kiai Muban dan Kiai Abbas, Bindara Fata (Langgar Kodas), dan Kiai Bedduk. Nah, yang disebut terakhir ini merupakan tokoh utama rubrik Jejak Ulama edisi kali ini.

Berasal Tanah Prongpong

Tanah Prongpong, Kecer, Dasuk memang bisa dikata cikal-bakal ulama sekaligus umara, khususnya di Sumenep, dan Madura hingga daerah Tapal Kuda Jawa Timur pada umumnya.

Adalah Kiai Andasmana dan Kiai Astamana, dua bersaudara putra Pangeran Bukabu, yang membabat wilayah ini. Kiai Astamana menurunkan kiai-kiai besar Prongpong periode setelahnya. Sedang Kiai Andasmana menurunkan kiai-kiai besar di Sendir. Paduan keduanya melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Kiai Abdul Qidam dan Bindara Bungso (Kiai Abdullah, Batuampar); yaitu kakek dan ayah dari Bindara Saot (Raja Sumenep). Di samping juga Kiai Raba di Pademawu, Pamekasan: Pakunya Pulau Madura; dan juga Kiai Ali Akbar (Kiai Panggung, Pasongsongan). Nah, Kiai Ali Akbar ini adalah ayah dari Kiai Bedduk.

Komplek Pasarean Kiai Bedduk, Kiai Penghulu Mardikan Ambunten Pertama, di Ambunten, Sumenep. (Foto/RM Farhan)

Menurut kisah tutur seperti yang disebutkan Nyai Hj. Munifah, Kiai Bedduk bernama asli Kiai Abdul Hamid, yaitu Penghulu Mardikan Ambunten Pertama. Beliau merupakan tokoh ulama Ambunten periode awal yang dikenal dengan karomah-karomahnya. Tidak banyak yang diceritakan oleh Nyai Munifah, berhubung ingatannya sudah agak berkurang. Maklum, usianya sudah mendekati satu abad. Hanya sedikit info bahwa kawasan pasarean Kiai Bedduk merupakan kawasan pasarean Penghulu Mardikan Ambunten. Mardikan atau Perdikan merupakan sebutan bagi wilayah istimewa. Karena bebas pajak. Umumnya, saat di suatu wilayah berstatus Mardikan, disebabkan ada tokoh keluarga keraton yang ditempatkan di situ.

Info selanjutnya, didapat dari catatan silsilah Kiai Penghulu R. P. Wongsoleksono di atas, yang disusun oleh salah satu putranya, K. R. B. Moh. Mahfudh (Wedana Kangayan). Dalam catatan tersebut ada nama Kiai Penghulu Mardikan Ambunten Pertama. Menurut keluarga K. R. B. Mahfudh Wongsoleksono, Kiai Bedduk termasuk leluhur langsung Kiai Penghulu Wongsoleksono. Ibunda Sang Kiai adalah cucu Kiai Bedduk. Hanya tak dijelaskan siapa ayah K. Bedduk atau Penghulu Mardikan Ambunten Pertama ini.

Baru di catatan R.P. Moh Saleh, tentang silsilah keluarga keraton Sumenep, disebutkan bahwa Kiai Bedduk adalah putra Kiai Ali Akbar. Hubungan kekerabatan yang dekat menjadi alasan pengukuhan Ambunten sebagai daerah Mardikan. Kiai Ali Akbar adalah anak Kiai Khalid, Takong, Dasuk. Kiai Khalid adalah saudara Kiai Abdul Qidam dan Kiai Khatib Bangil. Yaitu sama-sama anak Kiai Talang Prongpong.

R B M Farhan Muzammily

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Fans Page

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional