Menu

Kiai Parongpong; Cikal-bakal Duet Ulama-Umara

  Dibaca : 407 kali
Kiai Parongpong; Cikal-bakal Duet Ulama-Umara
Pasarean K. Talang Parongpong di Parongpong, Kecer, Dasuk. (Foto/RM Farhan)

MataMaduraNews.ComSUMENEP-Ketika menyebut Kiai Parongpong, maka tak hanya mengacu pada satu sosok. Sosok yang paling melekat ialah Kiai Astamana dan Kiai Andasmana, dua bersaudara di bumi Parongpong, yang namanya hingga kini terus melegenda. Tidak hanya ketinggian maqom dalam hal kewaliyan, dan keilmuan. Lebih dari itu dari keduanyalah bermunculan tokoh-tokoh besar di Sumenep dan hingga keluar bumi Jokotole ini. Tokoh-tokoh besar dalam duet ulama-umaro.

“Hampir seluruh kiai-kiai pengasuh pesantren-pesantren besar di Sumenep, Pamekasan hingga daerah tapal kuda saat ini memiliki hubungan darah dengan Kiai Astamana dan Kiai Andasmana. Dalam wilayah pemerintahan, penguasa keraton Sumenep sejak abad 18, dan hampir seluruh adipati atau bupati di daerah tapal kuda juga keturunan beliau. Yaitu penguasa di abad 19 dan setelahnya,” kata R  B  Muhlis, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, pada Mata Madura.

Siapakah Kiai Astamana dan Kiai Andasmana? Dalam catatan kuna silsilah keraton Sumenep maupun Babad Songennep karya Werdisastra, keduanya merupakan putra dari Pangeran Bukabu. Namun ada perbedaan versi. Menurut catatan silsilah keraton, Pangeran Bukabu adalah putra Pangeran Mandaraga dengan Nyai Gede Kentil, putri Sunan Kulon bin Sunan Giri. Sedang menurut babad juga sama, namun tanpa menyebut pihak ibu Pangeran Bukabu. Hanya saja, di silsilah keraton, Pangeran Mandaraga adalah putra Panembahan Kalijaga bin Sunan Kudus. Sedang versi babad tidak menyebut hal itu. Namun di sumber lain, salah satunya di buku karya R. Tumenggung Ario Zainalfattah, Pamekasan yang judulnya “Sedjarah Tjaranja Pemerintahan di Daerah-daerah di Kepulauan Madura dengan Hubungannja” (1951), Pangeran Mandaraga adalah turunan pancer dari Aria Bangah alias Aria Wiraraja II. Sumber yang dikutip juga di buku Sejarah Sumenep (SS) terbitan 2003.

Juga, jika ditelusuri lebih lanjut, dalam babad, Pangeran Bukabu adalah raja Sumenep bernama Notoprojo, pengganti ayahnya, Mandaraga. Namun jika kemudian dipadukan dengan catatan Sumenep maka akan terjadi kejanggalan. Pasalnya dalam daftar penguasa Sumenep, Pangeran Bukabu adalah raja di kurun 1300-an Masehi. Tentu akan aneh menyambungkan nasabnya ke Sunan Giri sekaligus Sunan Kudus yang hidup sejak paruh pertama 1400-an Masehi.

“Sehingga ada asumsi, nama sama, tapi orang berbeda,” kata Muhlis.

Sehingga dengan demikian, menurut Muhlis perlu dilakukan kajian sejarah dalam hal itu. Karena banyak sumber yang mengutip silsilah keraton maupun babad Sumenep dan memadukannya. “Harus melibatkan pakar sejarah dan nasab,” imbuhnya.

Pasarean K. Astamana di Kampung Mambang, Kecer, Dasuk. (Foto RM Farhan/Mata Madura)

Kembali pada Kiai Astamana dan Kiai Andasmana, hingga kini, pasarean keduanya di desa Kecer ramai diziarahi banyak orang. Pasarean Astamana sudah mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Sedangkan Pasarean Andasmana masih asli.

“Sebenarnya, yang Kiai Andasmana memang pernah dikeramik juga. Tapi hingga berapa kali selalu lepas keramiknya dari badan kijing aslinya. Akhirnya, tidak ada yang berani lagi mengeramik. Mungkin Beliau ta’ kasokan (tidak mau; Red),” kata Faiqul Khair, salah satu tokoh muda Parongpong.

Sejatinya, lokasi pasarean Kiai Astamana dan Kiai Andasmana sudah tidak lagi masuk kampung Parongpong, kendati tetap di wilayah desa Kecer. Saat ini pasarean Kiai Astamana masuk kampung Mambang, sedang Kiai Andasmana masuk kampung Kecer Lao’. “Dulu Parongpong itu luas. Bahkan Banasare sekarang yang masuk kecamatan Rubaru, dulu masuk wilayah Parongpong,” ungkap Faiq.

Kiai Astamana menurunkan kiai-kiai Parongpong setelahnya. Sedangkan Kiai Andasmana menurunkan Kiai-kiai di Sendir, Lenteng. Dari paduan keduanya muncullah ulama dan umara yang tersebar di Sumenep dan sebagian besar Jawa Timur. Salah satu keturunan keduanya Kiai Abdul Qidam yang menurunkan Bindara Saut, pembuka  dinasti terakhir keraton Sumenep. Menurut keluarga Raba, Pademawu, Kiai Abdul Qidam ini juga leluhur kiai-kiai di Nongtenggi, Pakong; yaitu leluhur Kiai Ismail di Kembangkuning, Pamekasan. Kiai Ismail ini menurunkan banyak kiai, di antaranya Kiai As’ad Sukorejo, Kiai Zaini Paiton, dan lain-lain.

Pasarean K. Andasmana, ayah K. Rahwan Sendir, di Kampung Kecer Lao’, Kecer, Dasuk. (Foto/Faiq for Mata Madura)

Salah Satu Bumi Para Wali di Sumenep

Nama Parongpong memang sudah terkenal sejak dulu kala. Banyak catatan kuna, buku Babad, maupun sejarah Sumenep ataupun Madura, yang mengutip nama sebuah dusun di Sumenep ini. Tentu saja hal itu tidak terlepas dari para tokoh pembabat Parongpong. Sebut saja Kiai Ali atau Abdurrahman Talang Parongpong, Kiai Khathib Bangil, Kiai Jalaluddin, dan masih banyak tokoh lainnya. Tokoh-tokoh yang berpangkat sebagai waliyullah agung. Sehingga tak berlebihan jika di dusun yang kini masuk desa Kecer, Kecamatan Dasuk ini disebut bumi para wali di Sumenep.

“Para kiai pembabat Sendir, yaitu sejak Kiai Rahwan berasal dari Parongpong,” kata pemerhati sejarah muda di Sumenep, R. B. Nurul Hidayat, kepada Mata Madura.

Dari Kiai Sendir, muncullah Kiai Abdurrahman, Waliyullah agung di bumi Gerbang Salam. Kiai Abdurrahman atau Kiai Agung Raba, di Pademawu, Pamekasan. Sementara dua sesepuh utama yang pertama kali mukim di bumi Parongpong ialah dua bersaudara: Kiai Astamana, dan Kiai Andasmana. Keduanya merupakan putra Pangeran Bukabu. Seperti yang disebut di muka, berdasar catatan silsilah keraton Sumenep, Pangeran Bukabu adalah cicit Sunan Kudus.

“Kiai Astamana yang menurunkan para kiai di Parongpong setelahnya. Sedang Kiai Andasmana berputra Kiai Rahwan di Sendir,” lanjut Nurul.

Pasarean K. Khathib Bangil dan isterrinya di Parongpong, Kecer, Dasuk. (Foto RM Farhan/Mata Madura)

Putra Kiai Astamana, yaitu Kiai Abdullah Gelugur, adalah ayah Kiai Talang Parongpong. Kiai Talang ini berputra dua, yaitu Kiai Khathib Bangil dan Kiai Abdul Qidam, Arsoji. Dalam salah satu versi yang dipakai sebagian keluarga keraton Sumenep masa kini, Kiai Abdul Qidam adalah keturunan Raden Fatah.

“Tapi itu lemah. Karena di buku babad Songennep karya Werdisastra, Kiai Abdul Qidam tertulis putra Kiai Talang Parongpong,” imbuh Nurul.

Menurut Nurul, buku Babad Songennep ditulis tahun 1914, di mana waktu itu pemerintahan Sumenep dipegang oleh Pangeran Pratamingkusumo, dari dinasti Saut, yaitu trah Abdul Qidam. “Nah, tentu tidak mungkin Werdisastra menulis nasab rajanya dengan asal-asalan. Dan tidak mungkin pemerintah waktu itu tidak mengetahui isi babad. Penulisan semacam itu jelas di bawah pengawasan pemerintah, apalagi ini menyangkut asal-usul dinasti yang berkuasa,” kata Nurul.

Di samping itu, fakta sejarah menyatakan bahwa Kiai Abdul Qidam menikah dengan Nyai Asri, anak Kiai Sendir III. Ibu Kiai Sendir III ini adalah saudara dari Kiai Talang Parongpong. Sehingga dari segi nasab, Kiai Abdul Qidam adalah saudara sepupu Kiai Sendir III. Dalam tradisi waktu itu, hubungan pernikahan biasa terjadi antar kerabat atau famili dekat.

Kembali ke Parongpong, hampir 80 persen makam kuna di sana masih original. Seperti makam Kiai Andasmana yang disebut di muka, Kompleks pasarean Kiai Talang Parongpong, kompleks pasarean Kiai Khathib Bangil dan lainnya. Hanya sayang, kijing pasarean di kompleks Kiai Astamana sudah berganti baju keramik toko.

R B M Farhan Muzammily, Mata Madura

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Kategori Pilihan

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional