Menu

Kisah Banyusangka; Petaka Keramat di Madura Barat

  Dibaca : 1242 kali
Kisah Banyusangka; Petaka Keramat di Madura Barat
Pasarean Sayyid Husain. (Foto Bangkalan Memory)
Link Banner

Sebuah papan tulisan huruf latin terpampang di sebuah kawasan pesisir, di Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan. Tulisan itu berbunyi “Selamat Datang Di Makam Zimat Banyu Sangka”. Menurut warga sekitar, di makam itu bersemayam jasad seorang ulama sekaligus waliyullah besar Madura Barat di masanya. Sayyid Husain atau Syarif Husain namanya. Dari nama depan sang Wali, jelas kalau beliau bukan merupakan orang asli Madura. Gelar itu umum dimiliki kalangan saadah. Yaitu kata jamak bagi para keturunan Rasulullah SAW melalui Sayyidah Fathimah az-Zahra.

MataMaduraNews.comBANGKALAN-Ya, Sayyid Husain memang pendatang. Beliau dikisahkan berlabuh ke Madura demi kepentingan da’wah. Yaitu sebagaimana kebiasaan para ‘Aalawi (keturunan Sayyidina Husain bin Fathimah), yang melanglang buana, hijrah dan berda’wah.

Informasi kedatangan sang Sayyid ke Madura masih simpang-siur mengenai masanya. Begitu juga mengenai asal-usul beliau. Di pasarean tertulis beliau bernama lengkap Sayyid Husain as-Segaf. As-Segaf merupakan sebuah marga pecahan bani Alawi, dari jalur Sayyid Muhammad al-Faqih al-Muqaddam di Hadhramawt, Yaman. Namun, warga sekitar dan para pengunjung hanya tahu beliau itu Sayyid Husain alias Buju’ Sangka.

”Ya, warga sekitar hanya tahu beliau sebagai Buju’ Banyusangka atau Buju’ Sangka,” kata KH Muhammad Ali, salah satu peziarah yang kebetulan berjumpa dengan Mata Madura, beberapa waktu lalu.

Keterangan di papan kompleks makam Sayyid Husain. (Foto/Istimewa)

Salah satu sumber yang agak detail menyingkap sosok Sayyid Husain ialah catatan berupa buku Manaqib Buju’ Batuampar, di kawasan Kecamatan Proppo, Pamekasan. Di buku yang bersumber dari KH Ja’far Shodiq, yang merupakan dzurriyah Sayyid Husain via Buju’ Batuampar itu disebut jika Sayyid Husain adalah putra Sunan Bonang (Sayyid Ibrahim) bin Sunan Ampel (Sayyid Ahmad Rahmatullah).

Dalam banyak literatur yang sifatnya masyhur, Sunan Ampel memang berasal dari kalangan saadah. Namun beliau bukan bermarga as-Segaf. Leluhur Sunan Ampel ialah Sayyid Alwi Ammil Faqih, yang menurunkan Sayyid Abdul Malik di India. Dari sana keturunan Abdul Malik menyebar hingga Indonesia, melalui Wali Sanga.

”Meski begitu, info mengenai Sayyid Husain itu putra Sunan Bonang masih perlu dikaji lagi, dengan banyak alasan,” kata salah satu pakar silsilah Wali Sanga di Madura, Bindara Yahya.

Alasan Yahya, ada keterangan bahwa Sunan Bonang tidak memiliki keturunan. Di keterangan lain, Sunan Bonang membujang atau tidak beristeri. ”Meski kemudian juga ada keterangan bahwa Sunan Bonang di usianya yang sudah agak lanjut, beristeri,” kata Yahya, beberapa waktu lalu.

BACA JUGA: Kiai Lembung, Kwanyar; Mengamini Doa untuk Madura Barat

Di samping itu, memang ada catatan di Jawa, bahwa Sunan Bonang memiliki seorang putri saja, yaitu Dewi Ruhil. ”Dewi Ruhil ini ibunya Sunan Kudus, menurut catatan di Jawa,” kata pakar silsilah Wali Sanga lainnya, Bindara H. Ilzam, di Pamekasan.

Alasan lain yang dikemukakan Bindara Ilzam dan Yahya, ialah mengenai masa. Memang tidak ada keterangan pasti baik lisan maupun tulisan mengenai tahun masa hidup Sayyid Husain di Madura Barat. Namun, jika diukur dari masa hidup keturunannya di Pamekasan, yaitu Kiai Abu Syamsuddin (Buju’ Latthong) bin Kiai Batsaniyah (Buju’ Tompeng) bin Kiai Abdul Mannan (Buju’ Kosambi) bin Sayyid Husain (Banyusangka), kurang bisa diterima. Pasalnya, Buju’ Latthong diperkirakan hidup di masa pemerintahan Panembahan Mangkuadiningrat di Pamekasan.

Mangkuadiningrat memerintah di awal 1800-an Masehi hingga empat dasawarsa. Sehingga jika diperkirakan, Sayyid Husain hidup di paruh kedua kurun 1600-an Masehi, atau di awal 1700-an Masehi.

”Jadi sangat jauh dengan masa Sunan Bonang,” kata Yahya. Sehingga dengan demikian, kemungkinannya, menurut kedua Bindara itu, ada beberapa nama yang hilang antara Sayyid Husain ke Sunan Bonang.

***

Tak hanya asal-usul, seperti yang telah disebut di muka, masa kedatangan Sayyid Husain ke Madura juga belum valid. Cerita rakyat yang berkembang, beliau hidup di masa salah satu raja Bangkalan. Jika mengacu pada nama Bangkalan, jelas nama itu baru populer pasca peristiwa Ke’ Lessap di tahun 1750-an Masehi. Namun, bisa saja sebutan Bangkalan itu dipakai oleh para periwayat kisah Sayyid Husain di masa setelah itu. Karena di masa sebelum 1750, daerah Bangkalan sekarang dikenal dengan Madura Barat.

Sekali lagi, kisah detail mengenai Sayyid Husain terkait dengan penguasa Bangkalan juga disinggung di Manaqib Buju’ Batuampar. Hanya sepertinya tidak shahih. Pasalnya, buku manaqib menyebut Sayyid Husain dianggap ancaman oleh Prabu Pragalba, sehingga diperintahkan untuk dibunuh. Manaqib itu juga menyebut salah satu akar penyebab upaya pembunuhan itu ialah fitnah isteri Pragalba, yang bernama Ratu Ibu Aermata Arosbaya.

”Ini jelas tidak sesuai sejarah. Ratu Ibu Aermata itu isterinya Cakraningrat ke-I. Sedang Cakraningrat ke-I adalah cicit Pragalba,” kata salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, RPM Mangkuadiningrat kepada Mata Madura. Dengan demikian, info mengenai siapa raja Madura barat di masa Sayyid Husain tidak bisa dipastikan.

Kubah Pasarean Sayyid Husain di Tanjung Bumi, Bangkalan. (Foto Ra Ali for Mata Madura)

Kisah mengenai Sayyid Husain berlanjut pada peristiwa pembunuhan terhadap sang wali. Konon Sayyid Husain tidak bisa terbunuh oleh senjata tajam. Meski akhirnya sang Sayyid wafat di tangan pasukan Bangkalan. ”Konon, menurut kisah keluarga Batuampar, Sayyid Husain memang sengaja memberitahukan titik kelemahannya. Yaitu dengan menghimpit kemaluan beliau,” kata Johar Maknun, salah satu warga Pamekasan, pekan kedua Oktober lalu.

BACA JUGA: Pangeran Musyarrif Arosbaya; Ulama Madura Pertama Yang Gugur Di Ujung Bedil Kompeni

Jenazah Syarif Husain lantas dibuang ke tengah laut, di utara pulau Madura. Konon tujuannya agar Syarif Husain serta pengaruhnya lenyap dari pulau Madura, dan pengikutnya tidak lagi mengingat beliau dan mengenang jasa-jasanya.

Akan tetapi, dengan rahmat dan inayah dari Allah SWT, tiba-tiba datang segumpal tanah menyelimuti dan mengapungkan jenazah Syarif Husain serta membawanya kembali ke pesisir Desa Banyu Sangkah, Kecamatan Tanjung Bumi Bangkalan. Dan secara ajaib, Syarif Husain termakamkan sendiri di pesisir Desa Banyu Sangkah. Sejak saat itu, Syarif Husain mendapatkan sebutan lengkap Syarif Husain Banyu Sangka.

Setelah sayyid Husain wafat, kedua putranya, yang salah satunya bernama Kiai Abdul Mannan hijrah ke timur, hingga Batu Ampar, Pamekasan. Beliau kemudian menjadi cikal-bakal keluarga kiai-kiai di Batu Ampar Barat.

R B M Farhan Muzammily, Mata Madura

Link Banner
Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional