Kisah Pengusaha Tahu Bermitra BPRS Bhakti Sumekar

Sepuluh tahun kerja di pabrik tahu, Ismail ingin tingkatkan pendapatan dengan bangun usaha sendiri. Bermodal nekat, ketemu BPRS saat modal terjepit, kini berharap cita-cita dirikan Pabrik Tahu sendiri dengan bantuan BPRS.

Mitra BPRS Bhakti Sumekar
Mitra BPRS Bhakti Sumekar

MataMaduraNews.comSUMENEP-Sejak memutuskan menikah dengan perempuan bernama Rukmiatun di tahun 2002, Ismail mulai berpikir panjang dan matang untuk biaya hidup keluarga sehari-harinya. Apalagi, pindah dari Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget ke rumah istrinya di Dusun Ceppon Timur, Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Sumenep, tanpa membawa kemampuan khusus. Tak urung, ia semakin berpikir keras agar mendapat pekerjaan dengan pendapatan lumayan. Sayang, Mail, panggilannya, tak punya pilihan. Jadinya, ia tetap bekerja di pabrik tahu milik Rusdi di Desa Jambu, masih di kecamatan yang sama, yang dilakoninya sejak tahun 2000.

Tahun demi tahun, pekerjaan kuli pabrik tahu tetap tidak terlalu banyak pendapatannya. Selama 10 tahun menjadi pekerja di pabrik tersebut, Mail sangat resah dan bingung. Sebab, kondisi pabrik tahu yang semakin hari kian sepi pelanggan itu akan mengurangi pendapatannya.

Akhirnya, Mail memutuskan keluar dari pabrik. Ia berhenti sekaligus berinisiatif turun langsung dengan mencari pelanggan dan mempromosikan tahu ke pasar dan penjual gorengan. Bermodal nekat dengan uang Rp 2 juta, Mail optimis mulai merintis usaha dengan mengambil untung dari pabrik pada tahun 2010. Sejak memulainya, ia mengaku terkendala oleh modal juga pelanggan tetap.

Suami Rukmiatun itu bercerita, proses merintis dan mengembangkan usahanya tidaklah mudah. Setidaknya, masih harus menguras tenaga dan waktu selama kurang lebih 3 tahun untuk mencari pelanggan tetap. Dalam proses itu, suka duka ia tetap jalani. Betapa tidak, dengan modal yang sedikit sejak merintis, masalah harus ditambah dengan adanya pelanggan menunggak pembayaran. Otomatis, membuat Mail semakin kesulitan modal.

”Mencari pembeli tetap cukup lama. Di sampaing itu, kepercayaan kualitas tahu, karena juga banyak persaingan,” tuturnya, saat ditemui Mata Madura.

Memang, usaha Mail terbilang semakin membaik dari hari ke hari di tahun pertama. Namun sayang, ia tetap kebingungan, karena usahanya cuma berkutat dengan sedikit modal yang kian menipis karena mulai tertunggak pelanggan. Untung, kala itu inisiatif mencari modal tambahan muncul sebagai solusi. Meski lagi-lagi terkedala, karena sangat sulit saat mencari pinjaman kepada teman dan tetangga.

Lalu di tengah putus asa mencari pinjaman modal waktu itu, Mail masih mendapat pertolongan Tuhan. Tepatnya, ia ingat pada Bank BPRS Bhakti Sumekar. Maka ayah dua anak tersebut berangkat seorang diri untuk mengajukan pinjaman ke Kantor Cabang BPRS Lenteng.

”Ini mungkin jalan karena saya sudah keliling mencari pinjaman tak kunjung dapat. Saya tak ada yang kenal di bank BPRS, (saya berani, red) karena sudah terjepit kebutuhan,” ungkapnya penuh haru, Rabu, 9 Agustus lalu.

Selang berapa minggu, ternyata ada tanggapan dari BPRS terkait modal yang ia ajukan. ”Alhamdulillah, saya bersyukur diberikan pinjaman dengan jaminan sertifikat rumah. Kalau dijalani tidak sulit. Sekitar tahun 2010 saya meminjam ke bank (BPRS, red),” ucapnya.

Peminjaman pertama, Mail mengajukan modal sebesar Rp 20 juta untuk mengembangkan usaha jualan tahu. Dengan modal yang lumayan itu, akhirnya usahanya pun berkembang pesat. Pelanggan semakin meluas hingga ke Kecamatan Ganding berkat pinjaman dari BPRS.

”Seandainya modal dari dulu banyak, mungkin sekarang cukup besar. Apalagi pelanggan banyak yang suka karena bentuknya putih dan bagus,” Mail berandai, mengingat betapa sulitnya bertahun-tahun cari pelanggan.

Setelah melakukan angsuran hingga lunas, kemudian Mail mengajukan pinjaman lagi ke BPRS sebanyak Rp 50 juta pada tahun 2013. Menurutnya, itu pinjaman yang kedua kali sampai saat ini dan digunakan untuk membeli motor Viar sekaligus menambah modal usaha. Sebelumnya, Mail mengantarkan tahu ke pelanggan dengan sepada motor Supra X.

”Saya harus bolak balik, sebab muatan sepeda Supra tak terlalu banyak,” keluhnya.

Ke depan, ia mengharapkan BPRS memberikan modal lebih besar untuk membangun pabrik sendiri. ”Saya punya cita-cita besar ingin mendirikan pabrik tahu sendiri, tapi modal belum cukup. Ini sekarang sudah mengumpulkan modal,” kisahnya.

Soal angsuran, Mail tak merasa keberatan. Baginya, itu sudah pas dengan pendapatan usaha perbulan. Walaupun tak menyebutkan nominalnya, Mail sudah sangat bersyukur telah dibantu mengembangkan modal usahanya.
”Semoga saja pinjaman selanjutnya lebih meningkat, biar cita-cita mendirikan pabrik segera tercapai,” harapnya.

Sebab, Mail yakin, dengan nominal pinjaman yang lebih besar, akan membuat usahanya berkembang pesat.
Sementara ini, Mail menghabiskan modal produksi Rp 4,5 juta perhari. Itu, kata dia, sudah termasuk biaya transptortasi untuk distribusi. ”Alhamdulillah, tiap hari saya mengambil tahu di pabrik sekitar 30 ember. Pagi saya mengantarkan ke pelanggan langsung,” terangnya.

Dari modal tersebut, omzet yang didapat tiap hari berkisar Rp 5-5,4 jutaan dengan keuntungan Rp 500-900 ratus perhari. ”Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menambah pelanggan baru. Target saya daerah Kecamatan Guluk-Guluk dan sekitarnya,” tegasnya, mantap.

Tak heran, untuk mewujudkan itu, Mail sangat bekerja keras. Terbukti, selama ini ia tidak pernah mengenal kata libur. ”Saya tidak pernah libur, usaha ini berjalan tanpa mengenal kata libur. Baru kalau sakit,” tandasnya di akhir wawancara dengan Mata Madura.

| inforial

Tinggalkan Balasan