Menu

Kisah Sedih Wisudawan yang Dapat Beasiswa S2 dari Bupati Sumenep

Kisah Sedih Wisudawan yang Dapat Beasiswa S2 dari Bupati Sumenep
Khalisatun Ummi ditemani Muhariya dan Sarwini saat menerima penghargaan dari Bupati Sumenep, KH A. Busyro Karim. (matamadura.rusydiyono)
Link Banner

matamaduranews.comSUMENEP– Khalisatun Ummi, salah satu  182 sajana sarjana STIT Al Karimiyyah yang ikut diwisuda di Gedung KORPRI, Rabu (04/09/2019).

Uum-panggilan akrab Khalisatun Ummi, terpilih menerima beasiswa S2, dari Bupati Sumenep Dr. KH A. Busyro Karim setelah meraih Index Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi, 3, 88.

Uum menempuh jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di STIT AL-Karimiyyah, Baraji, Gapura, setelah lulus dari SMA Plus Miftahul Ulum, tahun 2015 lalu.

Di balik prestasi yang terukir, pasti ada kisah perjuangan yang menyertainya. Uum-tergolong gadis desa nan lugu. Hidup di tengah keluarga miskin dan tak berpendidikan.

Uum lahir 30 Juli 1995, di Dusun Nyabungan, Desa Jenangger, Batang-Batang, Sumenep. Tamat SD Jenagger, dia melanjutkan ke MTs Miftahul Ulum, Batang-Batang. Di tengah asyik menempuh pendidikan, batin Uum mulai goncang. Rumah tangga ortunya mengalami prahara. Sang ayah Jibto, harus bercerai dengan ibunya, Sumina.

Tapi Uum mampu melewati saat-saat menyakitkan itu. Berkat dorongan dan motivasi sang ibu, juga adik kandung Sumina alias pamanya Sarwini,  Uum berhasil lulus dari MTs Miftahul Ulum. Lalu, dia melanjutkan ke SMA Plus Miftahul Ulum, Terate Pandian.

Waktu SMA, beban Uum mulai berangsur ringan. Sang ibu yang selama ini pontang panting seorang diri mencari biaya hidup, ada lelaki baik yang menikahinya. Matheri nama ayah tiri Uum.

Menempuh kuliah di STIT al-Karimiyyah, Beraji, Uum kembali mendapat goncangan bathin.  Matheri, ayah tiri Uum dipanggil menghadap Sang Pencipta. Dia meninggalkan Reyhan, hasil pernikahan dengan Sumina, tak lain saudara seibu dengan Uum.

Uum tetap mengarungi kuliah di tengah himpitan.  Dia berusaha bangkit untuk mewujudkan cita-citanya. Menjadi sarjana.

Hari berlalu, Uum bisa melewati. Dengan keyakinan penuh kepada Allah Swt, Uum tetap tekun kuliah. Meski kondisi ekonomi dirasa tidak mendukungnya.

Belum hilang duka menyertainya, Uum kembali mendapat ujian paling berat. 20018, sosok perempuan yang dicinta dan setia merawat Uum, tiba-tiba meninggalkan untuk selamanya. Sumina, sang ibu, dipanggil sang khaliq setelah menderita TBC.

Kesedihan ini dirasa paling berat oleh Uum. Ayah dan Ibunya tiada di samping. Uum sempat terbesit untuk berhenti kuliah, walau sedang akan melaksanaan program KKN,

Beruntung, dukungan datang dari sang paman, Sarwini, kakeknya Masdura, juga neneknya Muhariya, Uum bisa melewati hari-hari itu dan mampu mngikuti program KKN.

Kesedihan yang berlarut-larut mampu menjadikan Uum sebagai anak yang berjiwa tegar. Setelah semua peristiwa itu ia lewati, Uum tidak mau merepotkan orang lain termasuk paman dan kakek neneknya dalam urusan biaya kuliah. Uum berusaha menjadi anak mandiri.

Waktu kuliah siang di STIT Beraji, waktu pagi Uum bisa bekerja di kios baju kerabatnya di Pasar Candi Dungkek. Jasa jaga kios itu, sebagai tambahan biaya kuliah. Kendati masih disubsidi dari paman dan nenek.

Uum mengaku sangat bersyukur atas beasiswa Pasca Sarjana yang diberikan Bupati Sumenep, KH A. Busyro Karim. “Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin ini karunia Allah atas apa yang saya jalani dan rasakan selama ini. Dan semua ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya,” ujarnya saat ditemui Mata Madura, Kamis pagi (5/9/2019).

Uum menyampaikan ucapan terima kasih tak terhingga kepada Kiai Busyro atas kesempatan kuliah pasca sarjana secara gratis. Uum bercita, jika bersamaan dengan takdir-Nya, ingin menjadi dosen. Atau bisa mengabdi di dunia pendidikan.

“Semua Allah yang menentukan, kita hanya bisa berusaha dan berdo’a tanpa henti,” pesannya.

Kesaksian Teman dan Tetangganya

Qurratul Faini menilai Uum tergolong mahasiawa yang aktif dan mudah bergaul di dalam kelas ataupun di luar.

Dalam kelas, Uum selalu berdiskusi dan aktif bertanya jika ada hal yang tidak ia mengerti atas penyampaian dosen.

“Di tengah kesibukan kuliah, Uum sambil kerja. Uum juga aktif di organisasi ekstra kampus, seperti PMII,” terangnya yang sempat satu kelas dengan Uum.

Darus tetangga kampung Uum. Dia menyebut Uum tergolong gadis yang sopan dan memiliki kelebihan dari teman seumuran.

“Tekun dan rajin kuliah. Meski terkadang dari rumahnya harus naik mobil taksi ke Beraji,” tuturnya.

Satu hal yang patut ditiru dari sosok Uum ini, lanjut Darus, bagaimanapun keadaan hidup yang dia jalani, ia tidak pernah mengeluh.

“Ketika bermain atau sekedar duduk santai dengan tetangga, dia terlihat tegar seakan tidak punyak beban dalam hidupnya,” ucap Darus memungkasi kesaksiannya.

Rusydiyono, Mata Madura

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Fans Page

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional