Klenangan dan Pak Sukur; Kisah Kesenian Kelas Atas yang Dirakyatkan

ALAT MUSIK TRADISIONAL: Gamelan Keraton Sumenep. (Foto Istimewa/Panoramia.com)
ALAT MUSIK TRADISIONAL: Gamelan Keraton Sumenep di Museum. (Foto Istimewa/Panoramia.com)

MataMaduraNews.comSUMENEP – Madura, Sumenep khususnya, memiliki banyak ragam seni dan budaya. Seperti makhluk hidup, keduanya lahir, tumbuh, berkembang, lalu mati. Hanya yang berbeda, di dunia fana ini, seni dan budaya bisa hidup dan mati berkali-kali. Ia juga bisa hancur, lebur, tergilas, terkubur dan berceceran dari masa ke masa. Namun begitu ada tangan yang memungutnya, merangkai kembali dan mengumpulkan yang terserak itu, seni dan budaya bisa bangkit lagi. Ia juga bisa berganti wajah dan penampilan, akibat pengaruh unsur sama dari ruang lingkup berbeda.

Seni dan budaya juga dipengaruhi oleh sistem kekuasaan atau pemerintahan. Begitu juga agama. Di Madura, Islam merupakan agama yang datang setelah Hindu-Budha. Sehingga otomatis, ketiga agama itu mewarnai sistem pemerintahan sekaligus seni dan budaya. Pengaruh lain berasal dari bangsa asing. Masuknya bangsa eropa, Arab, dan Cina juga ikut membumbui seni dan budaya di pulau garam.

Meski begitu tak semua seni dan budaya menjadi konsumsi umum. Pengaruh sistem pemerintahan membuat beberapa kesenian menjadi sakral. Sehingga tak sembarang orang bisa “menyentuhnya”. Klenangan misalnya. Bagian dari seni karawitan di jaman atau era keraton tidak mudah dijangkau masyarakat umum. Seni ini adalah kegemaran keluarga keraton. Gamelan atau alat musik itu hanya dimiliki keluarga keraton. Ini berada di dalam tembok. Sebuah batas yang tak mudah ditembus oleh mereka yang tak “berdarah biru”.

***

Tokoh Senior Budaya Madura, RP Abdussukur Notoasmoro. (Foto Farhan, Mata Madura)
Tokoh Senior Budaya Madura, RP Abdussukur Notoasmoro. (Foto Farhan, Mata Madura)

Klenangan dan Raden Panji Abdussukur Notoasmoro, memang dua nama berbeda. Namun keduanya sama-sama terkenal. Khususnya di Sumenep dan pulau garam pada umumnya. Semua orang banyak tahu jika klenangan adalah salah satu seni tradisional di Madura yang lahir sejak jaman lampau. Sedang R P Abdussukur, atau Pak Sukur, adalah salah satu tokoh utama di era tiga jaman, yang banyak berperan dalam pelestarian bahasa dan budaya Madura. Lalu apa hubungan keduanya?

Usia klenangan dan Pak Sukur tentu tidak sama. Entah sejak tahun berapa seni ini ada. Yang jelas sejak masa era keraton. Sedang Pak Sukur yang merupakan bagian dari keluarga keraton dilahirkan di masa-masa akhir era keratonisasi, yaitu di tahun 1922 M. Di masa sebelum dan tumbuh-kembang Pak Sukur, dan seperti yang disebut di muka, klenangan merupakan seni musik tradisional bergengsi dan berkelas papan atas. Bahkan istilahnya, klenengan bukan “milik umum”, melainkan “milik bangsawan, orang terpandang, dan sekaligus kaya”.

Jiwa patriotisme Sukur muda kala itu berputar dinamis. Segala upaya ia kerahkan untuk menyebarkan semangat nasionalisme. Minat dan penguasaannya di seni dan budaya ia manfaatkan. Seni klenangan ia keluarkan dari “dalam ruang bertembok”. Ia bawa keluar dan diubah menjadi milik rakyat.
Bagi Sukur, keluarga bangsawan tidak seharusnya memonopoli kesenian tersebut. Rakyat juga dinilainya berhak. Karena menurut Sukur, raja berkuasa karena adanya rakyat. Bisa ditebak ia pun kena damprat.

”Ya meski juga bagian dari keluarga keraton, tentu saja itu bukan tidak ada reaksi dari banyak pihak. Khususnya keluarga bangsawan kala itu. Sehingga, hubungan dengan keluarga keraton menjadi agak renggang,” kata H. R. B. Nurul Hamzah, salah satu putra Pak Sukur, pekan ketiga September lalu.

Namun bukan Sukur namanya jika ia termakan gertak. Apalagi yang bentuknya hanya kritikan dan krasak-krusuk. Kala itu Sukur, yang guru SR, membentuk kelompok karawitan cilik beranggotakan murid-muridnya. Tak seperti golongan papan atas, para orang tua murid justru sebaliknya, merespon positif. Mereka tahu bahwa seni bergengsi tidak mudah dimainkan dan digelar sembarang orang.

Menurut Nurul Hamzah, kritikan yang datang memang tidak frontal. Dan kritikan itu juga sejatinya benar. Pasalnya, Pak Sukur mengubah kejung klenangan dari yang umumnya dilagukan solo menjadi senangdung bersama alias koor. Selama itu memang kejung memang seni bernyanyi yang menampilkan suara perorangan. Namun Sukur berpendapat, suara anak dan teknis nafas mereka tidak sama dengan orang dewasa. Apalagi kejung biasanya dilagukan dengan nada yang agak panjang.

Namun alasan Sukur akhirnya diterima banyak pihak. Baginya selama masih menggunakan bahasa Madura dan berbau segala hal tentang Madura, masih tetap kejung asli. Masalah koor ia jelaskan karena pelantunnya adalah anak-anak. Dan lagi tujuan utama Pak Sukur ialah menjadikan klenangan sebagai alat untuk memasyarakatkan nasionalisme. Karena syair-syairnya berisi tentang semangat perjuangan di kala itu.

”Akhirnya, klenengan pun lantas menjadi seni yang merakyat. Klenengan sudah menjadi seni budaya yang tidak membedakan status seseorang. Yaitu apakah ia bangsawan atau rakyat jelata, maupun kaya atau miskin,” ujar Haji Nono, panggilan Nurul Hamzah kepada Mata Madura.

| R B M Farhan Muzammily

Tinggalkan Balasan