Konsep Baru, Gema Takbir Idul Adha 1438 H Lebih Semarak

SEMARAK: Suasana Malam Takbiran Hari Raya Idul Adha 1438 H di Sumenep. (Foto Rusydiyono, Mata Madura)
SEMARAK: Suasana Malam Takbiran Hari Raya Idul Adha 1438 H di Sumenep.
(Foto Rusydiyono, Mata Madura)

MataMaduraNews.comSUMENEPAllaahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lailaha illallahu Allahu Akbar. Allahu akbar walillahilhamd. Demikian lantunan gema takbir malam Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah di depan Masjid Jamik Sumenep.

Malam ini, Kamis (31/08/2018), Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesmas) menggelar gema takbir guna menyambut dan memeriahkan Hari Raya Idul Adha. Hadir dalam acara tersebut, Bupati Sumenep KH A. Busyro Karim, jajaran Forkompimda, Kepada OPD, tokoh agama, dan masyarakat umum.

Acara gema takbir Idul Adha tahun ini nampak berbeda dari sebelumnya. Pantauan MataMadurNews.com di lokasi, sebuah panggung disiapkan Pemkab Sumenep untuk siswa dan sejumlah elemen yang dilibatkan guna menampilkan sejumlah kreativitas dan kesenian bernuansa religi.

”Biasanya kegiatan gema takbir malam hari raya selalu dikonsep dengan pawai yang diikuti oleh siswa atau lembaga,” ujar salah seorang warga di sela gema takbir.

Hari Raya Idul Adha sejatinya merupakan salah satu bentuk manifestasi kecintaan dan keimanan kepada Allah. Hal itu sebagaimana disampaikan Bupati Busyro Karim dalam sambutannya. Sebab, Pengasuh Ponpes Al Karimiyyah Beraji, Gapura itu, perintah kurban yang ada dalam pelaksanaan Idul Adha memberikan pelajaran untuk selalu mencintai Allah daripada selainnya.

PUKUL BEDUK: Bupati Busyro memukul beduk saat membuka acara Gema Takbir Malam Idul Adha oleh Pemkab Sumenep yang melibatkan kreativitas siswa. (Foto Rusydiyono/Istimewa)
PUKUL BEDUK: Bupati Busyro memukul beduk saat membuka acara Gema Takbir Malam Idul Adha oleh Pemkab Sumenep yang melibatkan kreativitas siswa.
(Foto Rusydiyono/Istimewa)

”Idul Adha memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa kita harus mencintai Allah di atas cinta yang lain. Seperti yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim yang menyembelih anaknya atas dasar perintah Allah SWT,” kata Bupati, Kamis (31/8/2017) malam.

Sudah semestinya cinta kepada Allah harus didahulukan dan diutamakan ketimbang cinta kepada yang selain-Nya. Suami Nurfitriana Busyro itu mengajak masyarakat Sumenep agar sama-sama belajar dari Nabi Ibrahim tentang Teosentris, bahwa hidup ini serba Allah; segalanya dari Allah, untuk Allah, dan akan kembali kepada Allah.

”Meski Nabi Ibrahim mencintai anaknya, Ismail. Namun, karena sudah diperintah oleh Allah, Nabi Ibrahim tetap menjadikan anaknya sebagai kurban,” jelas Bupati Busyro.

Sementara, Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesmas) Setdakab Sumenep, Imam Fajar menyebut kegiatan gema takbir merupakan program tahunan untuk memeriahkan malam takbiran di Sumenep. Yang demikian, tak lain merupakan salah satu bentuk upaya Pemkab Sumenep untuk membumikan kegiatan dan nuansa religi di Bumi Sumekar.

”Kegiatan semarak takbir merupakan kegiatan rutin tiap tahun. Sebagai bentuk syukur dan memeriahkan Hari Raya Idul Adha,” terang Fajar, panggilannya.

KREATIVITAS NAPI: Penyerahan cinderamata Miniatur Masjid Jamik Sumenep oleh Kepala Rutan Kelas II B kepada Bupati Busyro di malam Takbiran Idul Adha. (Foto Rusydiyono, Mata Madura)
KREATIVITAS NAPI: Penyerahan cinderamata Miniatur Masjid Jamik Sumenep oleh Kepala Rutan Kelas II B kepada Bupati Busyro di malam Takbiran Idul Adha.
(Foto Rusydiyono, Mata Madura)

Meski program rutin, sambung Fajar, kegiatan tahun ini dikonsep berbeda dari tahun lalu sebagaimana disaksikan MataMaduraNews.com di lokasi. Jika sebelumnya selalu digelar dalam bentuk pawai, gema takbir Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah dikemas dengan konsep baru dibentuk live panggung atau show yang melibatkan sejumlah siswa dan elemen lain untuk menampilkan kreativitas dan kesenian yang islami.

”Konsep tahun ini memang berbeda, kita optimalkan untuk live panggung,” tandas Fajar.

Gema Takbir juga diwarnai penyerahan cinderamata hasil kreativitas Tahanan Rutan Kelas II B Sumenep. Kreasi yang diketahui berbahan dasar koran bekas itu, berupa miniatur Masjid Jamik Sumenep, miniatur Kapal, dan Labang Misem.

Tak ayal, gema takbir malam Idul Adha pun berlangsung lebih semarak. Selain Forkopimda dan OPD, turut hadir pula semua instansi dan lembaga pendidikan se-Kecamatan Kota Sumenep, serta berbagai eleman masyarakat. Semua tampak larut diiring tetabuhan beduk takmir Masjid Jamik Sumenep dalam takbir dan tahmid yang mendaya-dayu.

”Allaahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lailaha illallahu Allahu Akbar. Allahu akbar walillahilhamd.”

Rusydiyono/Rafiqi, Mata Madura

Tinggalkan Balasan