Menu

Mahabbatullah; Awal dan Akhir Salik

  Dibaca : 94 kali
Mahabbatullah; Awal dan Akhir Salik

Mengenal Konsep Mahabbatullah (8)

Kata mahabbah yang berasal dari kata hubb berawal dari kata habb yang mengandung arti biji atau inti. Para sufi menyebut kata hubb adalah awal sekaligus akhir dari sebuah perjalanan ibadah. Mengurai dua hal yang merupakan titik awal terwujudnya cinta (mahabbah) kepada Allah Swt. Ma’rifat (pengenalan) dan idrak (pengetahuan).

MataMaduraNews.comMATA SUFI-JALAN menuju mahabbatullah (cinta kepada Allah) terdapat beberapa tahapan. Para sufi menunjuk etape terdekat mahabbatullah adalah ma’rifat (mengenal) setelah mengetahui (idrak).

Husein Nasr dalam buku Tiga Pemikir Islam menyebut Filsafat Isyraqi (illumination) karya seorang Filsuf Muslim Suhrawardi, merupakan bentuk pengetahuan sufisme yang berdasar dari cahaya (Nur). Dan sumber pemikiran isyraqi Suhrawardi, kata Husein Nasr, terbentuk setelah muncul pemikiran sufisme terdahulu, khususnya karya-karya al-Hallaj (858-913 M) dan al-Ghazali (1058-1111 M).

Salah satu karya al-Ghazali, Misykat al-Anwar, menjelaskan adanya hubungan antara Nur (cahaya) dengan kapasitas iman, yang tentu memiliki pengaruh terhadap pemikiran illuminasi Suhrawardi.

Suhrawardi melihat Nurullah (cahaya ilahi) dari kacamata filsafat dan sufistik yang tidak jauh beda dengan al-Ghazali dalam menjelaskan tentang Nur al-Anwar (Cahaya Segala Cahaya).

Menurut Suhrawardi tingkat intensitas penampakan cahaya tergantung pada tingkat kedekatan subjek dengan Cahaya Segala Cahaya (Nur al-Anwar) yang merupakan sumber segala cahaya. Semakin dekat subjek dengan sumber segala cahaya yang paling sempurna, berarti semakin sempurna cahaya tersebut, begitu pula sebaliknya.

Nur Ilahi dalam pandangan al-Ghazali, dapat terlihat oleh pemilik bashirah (mata hati). al-Ghazali membedakan cara pandang dan pemahaman kaum awwam, kaum khawash, dan kaum khawash al-khawash dalam melihat cahaya Allah Swt.

Dalam kitab Misykat al-Anwar, al-Ghazali ingin menjelaskan bahwa para Sufi dalam meraih makrifatullah melalui metode pancaran cahaya (iluminasi). Sebab, substansi cahaya hanyalah Allah. Sedangkan, cahaya-cahaya lain bersifat majazi.

Yazid al-Busthami, seorang Sufi pencetus faham ittihad, menilai menusia dekat dengan Allah Swt karena senyawa dengan sumber daya. Sehingga kekuatan sumber daya itulah yang menarik senyawa bisa melangkah lebih dekat. Bahasa lain, objek yang dapat tersinari cahaya karena berposisi dekat dengan sumber cahaya.

Dalam Misykat al-Anwar, al-Ghazali melakukan metode tamsil. Metode ini sebagai sintesa antara pendekatan tafsir eksoteris dengan tafsir esoteris;antara sufistik dan falsafi.

“Wilayah Cahaya adalah qalbu, ruh dan sirr. Cahaya akan memancar sebagai instrumen, wujud adalah hakikat yaqin yang memancar melalui instrumen pengetahuan yang dalam tentang Allah,” begitulah kaum Sufi mentamsil Nur Ilahi.
habis

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Kategori Pilihan

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional