Matroni Muserang, Penyair Muda Madura di Mastera

PENYAIR MADURA DI MASTERA: Matroni Muserang (kiri) bersama salah seorang peserta Program Penulisan Mastera; Puisi di Bogor, Jawa Barat pekan kedua Agustus lalu. (Foto Matroni for Mata Madura)
PENYAIR MADURA DI MASTERA: Matroni Muserang (kiri) bersama salah seorang peserta Program Penulisan Mastera; Puisi di Bogor, Jawa Barat pekan kedua Agustus lalu.
(Foto Matroni for Mata Madura)

MataMaduraNews.comSUMENEP – Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera). Siapa yang tidak mendamba menjadi bagian dari program penulisan sastra yang satu itu. Dilaksanakan setiap tahun secara bergantian, dari penulisan puisi, cerpen, novel, esai, dan drama, tahun ini Mastera Indonesia menjadi pelaksananya. Dengan peserta dan instruktur dari negara-negara anggota Mastera: Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, lolos sebagai salah satu peserta tentu merupakan capaian yang luar biasa.

Bahagia? ”Tentu. Setidaknya, saya semakin percaya bahwa tak ada proses yang percuma,” kata Matroni Muserang kepada Mata Madura, Jumat pekan lalu.

Ya, Matroni, panggilannya, merupakan satu diantara 700 penyair dengan 1.400. puisi dari berbagai daerah di Indonesia yang lolos program penulisan sastra Mastera. Penyair yang lahir dan besar di Desa Banjar Barat, Kecamatan Gapura, Sumenep, Madura itu terpilih menjadi salah satu peserta bengkel puisi Mastera. Alhasil, sejak 07-13 Agustus lalu, ia berada di puncak Bogor, Jawa Barat guna program tersebut sebagai penyair muda dari Madura.

Tetapi, meski ”Menjadi penyair adalah takdir” kata Acep Zamzam Noor saat membuka diskusinya di hadapan puluhan penyair muda yang mengikuti Program Penulisan Mastera: Puisi, di Hotel Adhyaksa, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, Matroni bukan penyair tiban. Setidaknya, penyair Muda tersebut sudah berproses sejak lama dan bergiat di sejumlah Komunitas. Terakhir, Wakil Sekretaris MWC NU Gapura itu bergiat di Kompolan Tera’ Bulan. ”Sebuah perkumpulan yang melibatkan masyarakat pedesaan dari berbagai lapisan,” demikian F. Moses, salah satu kurator Mastera 2017 melukiskan. Apalagi, di samping menulis puisi, esai, dan cerpen, doses di STKIP PGRI Sumenep tersebut juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan gerakan literasi.

Di sisi karya, sudah banyak yang diterbitkan di media maupun dalam berbagai antologi bersama. Untuk antologi misalnya, ia tercatat dalam Puisi Menolak Lupa, Madzhab Kutub, Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan, Suluk Mataram 50 Penyair Membaca Jogja, Sauk Seloko, Solusional 1, Sebab Cinta, Di Pangkuan Yogya, Indonesia di Titik 13, Dari Negeri Poci 5, Negeri langit, Puisi Menolak Terorisme, Parangtritis. ”Kemudian ada Antologi Puisi Penyair Nusantara, Ketam Ladam Rumah Ingatan, Gelombang Puisi Maritim, Dari Negeri Poci 6 dan 7, Negeri Awan, dan beberapa lainnya,” katanya, saat ditanya Mata Madura.

Masih mengutip F. Moses dalam esainya di Jawa Pos Radar Madura, puis-puisi penyair yang menempuh studinya di Yogyakarta dan berkesempat belajar langsung pada sastrawan dan budayawan Zainal Arifin Thoha tersebut, juga terhimpun dalam kumpulan sajak penyair ASEAN-1. Puisinya, juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. ”Ya, benar itu. Ada yang sudah diterjemahkan dan terhimpun di buku Flows Into The Sink, Into The Gutter,” ujar Matroni.

Tentu saja, menjadi ‘Penyair Muda Madura di Mastera’ tak membuat suami Ullivatul Ummi itu besar kepala. Kesehariannya, selain tentu menerapkan banyak hal yang diborong dari bengkel puisi Mastera selama sepekan tersebut, masih seperti biasa. Sederhana, ramah, komunikatif, dan enak diajak bicara sepert saat ditemui Mata Madura.

| rafiqi

Tinggalkan Balasan