Membaca Islam Berbicara Ekonomi

Cover Buku Ekonomi Islam 101Kirom MadaniJudul : Ekonomi Islam 101

Penulis : Chandra Natadipurba

Penerbit : PT Mobidelta Indonesia

Tebal : xvi + 440 halaman

ISBN : 978-602-72607-1-9

Presensi : Khoirul Kirom*

 

Akhir-akhir ini, wacana mengenai ekonomi Islam sudah menjamur dan menggurita, baik dikalangan aktivis, birokrasi, dan masyarakat bawah agar dapat berekonomi sesuai tuntutan Islam. Hal ini karena sebagai seorang Muslim, tidak bisa dikatakan muslim sejati jika hanya melakukan kebaikan disatu sisi dan melanggar syariah disisi yang lain.

Islam adalah agama universal.Bukan hanya sebagai ibadah ritual saja, melainkan mengatur semua lini kehidupan, baik dari ekonomi, sosial, politik, dan hubungan internasional. Buku dengan judul Ekonomi Islam 101 Karya Chandra Natadipurba ini benar-benar sangat mampu membuka cakrawala baru bagi setiap siapa saja yang ingin memahami ekonomi Islam secara mendasar. Didalamnya tidak hanya dijelaskan mengenai ekonomi Islam, tetapi juga dijelaskan bagaimana pembangunan menurut Islam, jiwa setiap pemimpi menurut Islam, dan mengakar pada sistem ekonomi yang baik adalah memang sistem ekonomi Islam karena telah terbukti 1400 tahun yang lalu sebelum kapitalis dipraktikkan. Kenapa? Sebab sistem kapitalis hari ini didunia telah menimbulkan banyak kemudaratan.

Ekonomi Islam adalah turunan dari Islam.Bukan lagi turunan dari kegiatan ekonomi, pada hakikatnya kehidupan manusia muslim itu tercelup ke dalam Islam secara menyeluruh. Masalahnya sekarang apakah manusia hari ini sudah mencelupkan diri sepenuhnya kepada Allah apa belum? Jika mereka sudah berlebur dalam wahyu dan perintah Allah, maka seluruh kehidupannya adalah Islam. Jika masih setengah-setengah masih belum dikatakan Islam, sebab Islam itu sempuna.Mengaku muslim, ya semuanya harus dikerjakan(totalitas). Ia beriman secara Islam, belajar secara Islam, berpikir secara Islam, bekerja secara Islam, berpolitik secara Islam, berhukum secara Islam, bersosial secara Islam, dan berekonomi secara Islam.  Karena agama yang diridai Allah hakikatnya hanya ada satu, yaitu Islam.Ini sudah jelas dikatakan Allah dalam Alquran surat Al Imran(3) ayat 19: “Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam”.

Membicarakan Islam sebagaiagama yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah definisi yang keliru. Definisi yang salah ini akan mengakibatkan kebingungan, apakah agama nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad? Seolah-olah Nabi Isa yang mendirikanagama Kristen, seolah-olah Nabi Musa yang mendirikan Agama Yahudi. Padahal, Nabi Isa dan Nabi Musa diutus kepada kaum Yahudi untuk memeluk Islam. Seluruh agama dimuka bumi ini adalah Islam, ia turun pada kaum yang berbeda-beda dan dengan pembawaan yang berbeda pula.

Islam mempunyai mekanisme sendiri menjawab penyimpangan itu dari waktu kewaktu, diantaranya pengutusan para rasul dari zaman ke zaman. Dan pada penerapan dalam kehidupan ekonomi, pemahaman ini akan membantu kita menjawab pertanyaan yang sangat penting: jika kapitalisme dan komunisme tidak pernah ada, apakah ekonomi Islam akan muncul? Jawabannya adalah ekonomi Islam tetap akan muncul, karena ekonomi Islam bukanlah reaksi dari adanya kapitalis dan komunis. Sama dengan jika agama Kristen, Yahudi dan Majusi tidak pernah ada, apakah Islam akan ada? Jawabannya Islam akan tetap ada dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW, karena Islam bukanlah reaksi dari agama Kristen ataupun Yahudi. Jadi apakah Kristen, Yahudi, Hindu, Budha itu? Dalam keyakinan orang Islam meraka tidak lain adalah ajaran buatan manusia yang menyempal dari Islam, ajaran sesat, ajaran yang keliru, atau memang dibuat-buat oleh manusia.

Maka, secara istilah penanaman yang ideal dalam topik buku 101 karya Chandra Natadipurba ini adalah Islam berbicara mengenai ekonomi bukan kemudian ekonomi membicarakan Islam. Istilah ekonomi Islam, atau politik Islam, tidak pernah diajari Rasulullah. Beliau mengajarkan Islam sebagai satu paket yang utuh, menyeluruh lengkap dan sempurna, baik istilah, pemahaman dan praktiknya. Jadi, ekonomi selain yang diajarkan Islam disebut apa? Lebih pantasnya disebut ekonomi Non-Islam. Yang orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan ekonomi konvensional.

* Mahasiswa Jurusan Ekonomi dan Bisnis Islam STAIN Pamekasan. Wartawan Mata Madura Biro Sampang

Tinggalkan Balasan