Menu

Menelusuri Jejak Tiga Masjid Utama Keraton Sumenep

Menelusuri Jejak Tiga Masjid Utama Keraton Sumenep
Tiga Masjid Utama Keraton Sumenep yang hingga kini tetap ramai jamaah (dok. matamadura)
Link Banner

matamaduranews.com-SUMENEP-Tiga Masjid ini bisa disebut Masjid Utama bagi warga Sumenep. Tak hanya di saat ini. Melainkan sejak di masa-masa awal berdiri. Tiga Masjid ini juga terus menyedot jamaah dan tak pernah lengang setiap harinya. Di hari-hari besar, seperti Jumatan tiap minggunya. Apalagi jelang Ramadlan dan puncaknya di hari Lebaran. Masjid ini senantiasa sesak dengan umat dari berbagai penjuru.

Mata Madura kali ini sedikit mengulas jejak sejarah tiga masjid utama ini secara bersamaan. Mngingat fakta sejarahnya yang memang berkaitan. Setidaknya tulisan ini untuk menyegarkan memori pembaca yang sudah tahu kisahnya. Dan mengisi ruang pengetahuan siapa saja yang minat dan yang belum secara utuh menyerap informasi seputarnya.

Masjid Jami’
Kendati dibangun di masa Panembahan Sumolo, sejatinya, ide awal pembangunan ini ialah dari ayah sang Nata, yaitu Bindara Saut. Berdasar riwayat sesepuh, sebelum ide itu terlaksana, Bindara Saut mangkat. Ide itu muncul melihat perkembangan penduduk sekitar keraton, dan masjid keraton (Masjid Laju) di Kepanjin sudah tak mampu menampung jamaah.

Ide ini lantas dilanjut Panembahan Sumolo di dekade kedua pemerintahannya. Beliau dibantu arsitek berkebangsaan Cina, Lao Piango. Dengan kolaborasi ide Panembahan dan kecerdasan Lao dalam menerjemahkan ide tersebut, sekaligus mencari referensi bangunan luar dengan intuisi; masjid megah ini berdiri.

Konon bangunan masjid ini terinspirasi di samping oleh Masjid Agung di Demak, juga bahkan salah satunya dengan tembok raksasa di Cina. Kedua tempat yang tak pernah disaksikan langsung, khususnya oleh Lao Piango.

Dalam bunyi wasiat Panembahan Sumolo alias Panembahan Notokusumo, masjid yang didirikan tepat di sebelah barat alun-alun Kota Sumenep ini disebut dengan nama Masjid Pangeran Natakusuma. Masjid tersebut didirikan pada tahun ba’, yaitu tahun 1200 Hijriah, di atas tanah waqaf sang Nata.

Dalam poin kedua wasiat tersebut, masjid selesai dibangun pada bulan Ramadlan tahun za’ (1206 H). Namun sekitar enam tahun setelahnya, Panembahan Sumolo dicatat kembali memperbaiki atau menyempurnakan bangunan masjid, tepatnya pada tahun 1724 tahun Jawa atau 1212 Hijriah.

Pembangunan masjid menjadi satu paket dengan pembangunan keraton tempat kediaman raja di Pajagalan. Pembangunan ini juga menjadi awal sejarah pembentukan nadir waqaf Panembahan Sumolo hingga detik ini.

Nadir waqaf yang pertama ialah Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, putra sekaligus pengganti Panembahan Sumolo. Nadir selanjutnya berdasarkan garis trah sesuai urutan yang menjabat sebagai adipati, lalu setelah masa keraton berakhir, nadir ditunjuk berdasar musyawarah dan tetap diambil dari keluarga keturunan Panembahan Sumolo.

Secara filosofi, pembangunan keraton dengan alun-alun dan sekaligus Masjid Jami’ di sebelah baratnya, mengandung sarat makna. Menurut para sesepuh, alun-alun kota Sumenep (sekarang Taman Adipura) berbentuk lafzhul jalaalah; Allahu, jika dilihat dari atas.

”Lafazh itu jika diurai memiliki makna khusus. Mulai dari huruf alif yang sejatinya merupakan jalan pasar 17 Agustus (di sebelah utara alun-alun), yang dipisahkan oleh saluran air. Huruf lam pertama ialah alun-alun bagian utara, dan lam kedua terletak di alun-alun bagian selatan. Sedang huruf ha’ ialah tangsi (sekarang markas Kodim),” kata R.B. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati budaya dari kalangan muda.

Nurul menambahkan, dilihat posisi alun-alun yang berada di antara keraton dan masjid melambangkan hubungan vertikal (hamblumminallah), dan horizontal (hablumminannas). Makna vertikal itu didapat dari posisi alun-alun yang menghadap ke arah barat (masjid), dan makna horizontal terlihat dari posisi keraton yang berada di sebelah timurnya.

Sedangkan alun-alunnya sendiri melambangkan hubungan manusia dengan alam semesta, karena secara harfiah alun-alun bermakna tempat berkumpul segenap lapisan manusia, sedangkan di bagian utara dan selatan terdapat pohon beringin yang berasal dari bahasa arab wara’in (artinya kurang lebih orang yang berhati-hati) selaku simbol alam.

”Maknanya kurang lebih seruan kepada segenap yang berkumpul di alun-alun agar senantiasa berhati-hati memelihara dirinya sekaligus turut bersama menjaga undang-undang dan peraturan,” tambahnya.

Sementara Masjid Jami’ yang untuk memasukinya harus melalui pintu gapura (asal kata dari ghafura) mengandung do’a agar yang setiap yang masuk ke sana diberi ampunan oleh Allah. Di halaman masjid pun ada pohon sabu (sawo dalam bahasa Indonesia) dan pohon tanjung. Pohon Sabu dianggap penyatuan dari dua kata yakni sa dan bu.

Sa merupakan singkatan dari salat, sedangkan bu singkatan dari ja’ bu-ambu (jangan berhenti). Sedangkan Pohon Tanjung dianggap penyatuan dari dua kata yakni tan dan jung. Tan merupakan singkatan dari tandha (tanda), sedangkan jung singkatan dari ajunjung (menjunjung). Sementara masjid sendiri merupakan pusat kegiatan ad-din (agama), sehingga makna semua itu ialah shalat jangan berhenti, sebagai tanda menjunjung agama Allah.

Masegit Laju
Seperti yang disinggung di awal tulisan, khususnya tentang Masjid Jami’ Panembahan Sumolo, sejatinya masjid ini lebih dahulu dibangun. Dalam prasasti dan tulisan kuna, masjid ini bernama Al-Mu’min. Masjid ini menjadi masjid keraton. Pasca berdirinya Masjid Jami’ Panembahan Sumolo, masjid ini dikenal oleh lidah masyarakat Sumenep dengan Masegit Laju atau Masjid Laju.

Berbeda dengan arsitektur Masjid Jami’ Sumenep yang kaya akan ornamen dan kaya akan perpaduan kebudayaan, Masjid Laju yang dibangun oleh Mas Tumenggung Anggadipa (lalu berganti Pangeran Anggadipa) ini sangat sederhana. Bentuk arsitektur masjidnyapun mirip dengan masjid-masjid masyarakat tradisional pada umumnya.

Pengaruh Jawa nampak pada penggunaan atapnya yang disusun tumpang (atap meru) begitu juga penggunaan sokoguru sebagai konstruksi utama untuk menopang atapnya tersebut.

Masjid Laju yang dibangun sekitar tahun 1640 Masehi ini, terdiri dari ruang utama, ruang pewastren (tempat jamaah wanita), dan teras depan. Selain itu tepat di sebelah utara dari bangunan utama terdapat sebuah minaret sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan. Luas bangunan masjid keseluruhan tak kurang dari 400 m2.

Pangeran Anggadipa selaku pembangun masjid merupakan adipati Sumenep yang diutus oleh Raja Mataram sebagai wakil susuhunan di Sumenep. Seperti diketahui, Madura selanjutnya menjadi wilayah dalam naungan Mataram, pasca peristiwa Invasi tahun 1624 Masehi.
Pangeran Anggadipa sendiri merupakan keturunan bangsawan Jepara. Beliau masuk ke Madura diawali dengan proses perkawinannya dengan anak Panembahan Lemah Duwur (Raden Pratanu), Raja Madura Barat. Peristiwa invasi Mataram terjadi setelah masa Pratanu, atau tepatnya saat tampuk pemerintahan dipegang putra Pratanu.

Pangeran Anggadipa setelah diturunkan secara hormat sebagai adipati Sumenep oleh Raja Mataram, terus menetap di Sumenep hingga akhir hayatnya. Sosoknya tetap dihormati oleh masyarakat Sumenep dan penguasa dari masa ke masa. Jenazahnya dimakamkan di area yang di masa kemudian dikenal dengan komplek pemakaman Raja-raja Sumenep atau Asta Tinggi.

Masjid Sokambang
Masjid Sokambang di Desa Kebunagung merupakan salah satu masjid tertua di kawasan Sumenep. Masjid ini juga dikeramatkan oleh sebagian warga Sumenep.

Menurut cerita tutur, masjid ini dibangun di masa Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, putra Panembahan Sumolo. Jadi, masjid ini dibangun setelah masjid Jamik atau Masjid Agung Keraton.

”Dulu bahkan ceritanya Sultan juga sering ke Masjid ini,” kata Kiai Amiruddin, salah satu tokoh di Desa Kebunagung.
Menurut Kiai Amir, panggilan akrabnya, masjid ini dulu biasa digunakan untuk molang kitab klasik. Yang tercatat mengajar di masjid ini ialah Kiai Anjuk, Kiai Bayanullah, dan lainnya.

Bahkan ada cerita di kalangan keluarga keraton Sumenep, bahwa Raden Ario Abdul Ghani Atmowijoyo, salah satu bangsawan Sumenep yang dikenal Alim dan Arifbillah, selalu menyempatkan berhenti di masjid ini untuk shalat, sebelum ziarah ke Asta Tinggi.
”Mungkin beliau tabarruk pada leluhur dan alim ulama yang biasa shalat di Masjid Sokambang,” kata R. Fahrurrazi, salah satu keturunan R.A. Atmowijoyo.

Hingga kini Masjid Sokambang sudah mengalami perbaikan tanpa mengubah unsur kunanya. Setiap Jumat, masjid ini masih menyedot warga untuk melaksanakan shalat Jumat. Tak hanya warga setempat, namun dari Desa lain. Alasannya rata-rata sama.

”Di sini masih melestarikan tradisi kuna, khutbahnya tetap bahasa Arab. Tak dicampur dengan bahasa Indonesia atau Madura,” kata K. Zain, salah satu warga Desa Pandian yang menjadi jamaah tetap masjid ini.

R B M Farhan Muzammily, Mata Madura

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

DISWAY

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional