Menu

Menemukan ‘Surga’ Pangeran Le’nan

  Dibaca : 470 kali
Menemukan ‘Surga’ Pangeran Le’nan
SAYAP-SAYAP SURGA. Nisan Ibunda Pangeran Le'nan di Kampung Banasokon, Desa Kebunagung. (Foto/RM Farhan)
Link Banner

SEKITAR medio Maret 2016 lalu, kala itu musim hujan hampir menua, di sebuah kawasan di kampung Banasokon, desa Kebunagung; saya, K. Mohammad Faqih (yang waktu itu masih belum Haji), dan seorang kenalan K. Faqih menelusuri celah-celah semak belukar yang meninggi dan sebagian berduri. Matahari sudah agak meninggi, namun rimbunnya dahan pohon di area itu mencegah sebagian besar sengatan sang surya pada kulit kami bertiga.

Meski sedikit was-was, dengan modal do’a, awas, dan siaga, kami akhirnya sampai di dataran tinggi di mana pemandangan unik itu terlihat. Kenapa unik? Melihat cungkup bangunan makam mungkin sudah biasa. Apalagi, kawasan itu memang berada di sekitar pemakaman Asta Tinggi, meski agak jauh dari kompleks utama. Namun yang ini tidak seperti biasanya. Bukan masalah kondisi cungkup dan makam yang kotor, sebagian rusak, dan sudah relatif lama tidak disentuh perawatan. Melainkan pintu masuk cungkup yang berupa akar pohon besar. Pohon dan akar itu sudah menyatu dengan bangunan cungkup. Jika dilihat dari dalam, serabut akar itu memenuhi dinding cungkup, meliuk-liuk seperti ular.

Di dalamnya, tampak tiga makam yang masih bagus kondisinya. Keterangan di nisan juga masih jelas. Menandakan memang makam ini tidak tersentuh perawatan masa kini, yang rata-rata bukannya merawat, tapi merusak. Seperti mengecat ulang, bahkan sampai mengganti ornamen makam, khususnya kijing dan nisannya.

“Yang mana, makamnya?” tanya saya pada kenalan K. Faqih yang asli desa Kebunagung itu.

“Salah satu dari tiga makam ini,” kata lelaki berkumis itu.

Karena tak jelas, saya langsung saja membuka penutup nisan makam yang di tengah. Dugaan saya, dari pola makam di kubah Asta Raja, khususnya di periode dinasti terakhir Sumenep, apabila ada lebih dari dua makam di dalam cungkup, biasanya yang di tengah adalah posisi utama.

Dugaan saya benar. Di nisan yang memiliki ukiran sayap itu, tertulis “hadza al-qubuwr al-marhumah Umm al-Pangeran Luwtenan Kolonel”. Kurang lebih maknanya: di sini merupakan kuburan Ibunda Pangeran Letnan Kolonel.

Bagi yang sudah sedikit banyak mempelajari sejarah keraton Sumenep, dan mengetahui beberapa riwayat seputar peta Asta Tinggi, Pangeran Letnan Kolonel merujuk pada salah satu putra Sultan Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat (memerintah 1811-1854 Masehi).

Pangeran Letnan Kolonel, atau yang dikenal dengan sebutan Pangeran Le’nan, merupakan salah satu putra tertua dan paling terkenal di antara sesama sesaudaranya. Beberapa riwayat atau cerita kuna menyebut sang pangeran ini sebagai sosok yang pemberani, alim dan berilmu tinggi. Khususnya di bidang seni perang dan kanuragan. Berbagai kisah mistik disematkan pada sosok bernama kecil Raden Ario Hamzah ini.

Makam sang Pangeran juga terletak di kampung Banasokon, tidak sampai 200 meter dari pasarean ibunya. Namun, tak seperti ibunya yang “baru diketemukan”, pusara Pangeran Le’nan cukup ramai diziarahi dan lokasinya juga mudah ditempuh, serta cukup terawat. Di sana memang ditangani secara tersendiri.

“Sejak lebih sepuluh tahun lalu masuk kawasan Asta Barat,” kata R. B. Ruska, Kepala Penjaga Asta Tinggi.

Kembali pada makam Ibunda Pangeran yang namanya harum di Serambi Mekkah itu, kondisi ornamen masih utuh. Mungkin karena tidak tersentuh perawatan, keasliannya terjaga dengan sendirinya. Apalagi, medan lokasinya yang cukup sulit dan terkesan “angker”, menjaga situs itu dari tangan-tangan jahil.

Meski begitu, bukan berarti tak ada sama sekali yang nyalase ke sana. Buktinya, saya mendapat info itu dari kenalan K. Faqih, yaitu orang ketiga tanpa nama yang saya sebut di muka tulisan. Tapi ya, tak banyak. Hanya orang-orang tertentu saja: tentunya dengan motivasi tertentu dan niat tertentu juga. Wa Allah a’lam.

Info tersebut juga awalnya tidak jelas. Sumber orang ketiga tersebut mengatakan bahwa itu ialah makam Ibunda Sultan Abdurrahman. Katanya hasil dari olah batin. Untung di nisan tersebut ada keterangan, meski secara faktual Ibunda Sultan Sumenep memang tidak di situ, tapi dimakamkan di samping Panembahan Sumolo, di kubah Asta Raja. Tapi setidaknya saya bisa mematahkan ‘hasil olah batin’ itu tanpa membuat debat panjang.

Bukti lain bahwa ada yang ziarah ke sana, meski tak banyak itu, nisan makam dibungkus kain. Seingat saya waktu itu berwarna biru. Sudah agak lapuk. Tapi bukan karena tua. Bisa jadi kualitas kainnya yang kurang bagus.

Selepas survey ke sana bertiga, kisah “penemuan” itu hanya saya informasikan pada sedikit kerabat. Namun tak ada respon berarti. Entah apa karena tak percaya, atau tak peduli, tak pasti. Tapi saya maklumi, memang informasi yang saya bawa itu sulit dipercaya. Karena tak ada riwayat kuna soal itu. Generasi yang lebih dulu dari saya misalnya, mengatakan baru dengar. Begitu juga yang lebih dulu lagi. Sebab lainnya lagi, tak mungkin saya mengajak para sesepuh ke sana. Resikonya lumayan tinggi.

Singkat cerita, sekitar dua tahun setelah itu, dalam sebuah diskusi ringan dengan Tim Ngoser (Ngopi Sejarah) Sumenep, info tersebut saya suguhkan sebagai “cemilan” ngobrol. Teman-teman tim (Ja’far Shadiq, Hairil Anwar, Imam Alfarisi) tertarik untuk survey dadakan. Karena habis ngopi siang itu di warung bambu Asta Tinggi, kami berempat langsung meluncur ke TKP. Waktu itu hari Rabu, awal Juli 2018.

Meski bukan musim hujan, kami tetap hati-hati. Semak belukar yang berduri, tumpukan daun kering pohon Jati, dan tumbuhan-tumbuhan kecil yang mengganggu leluasa langkah kaki, terkadang menyimpan ancaman tersembunyi. Lokasi gunung batu di sekitar Asta Tinggi memang dikenal sebagai kawasan dengan ular-ular kecil berbisa. Konon, binatang melata itu sering kali sembunyi di bawah dedaunan kering pohon jati, bebatuan, dan dahan-dahan pohon.

Alhamdulillah, survey berjalan lancar. Bahkan sempat pula kita evakuasi ringan. Namun tanpa peralatan, jelas tak banyak artinya. Selain itu kita juga sempat mengidentifikasi beberapa cungkup di sekitar area pasarean Ibunda Pangeran Le’nan. Salah satunya cungkup milik Kiai Reksajaya. Siapa beliau, masih perlu diteliti lebih lanjut.

Sepakat berempat, tiga hari lagi setelah waktu itu, yaitu Ahad; akan digelar bakti situs. Karena jelas tak mungkin mampu diatasi personel Ngoser an sich, disepakati pula akan membawa tukang bersih-bersih dan tukang-tukang lain yang memiliki keahlian soal rumput-merumput.

Rencana sebatas Tim Ngoser itu tanpa direncanakan menjadi konsumsi umum. Salah satu anggota Ngoser, Ja’far Shadiq memposting hasil jeprat-jepret kamera androidnya di lokasi survey, ke medsos. Jadilah banjir tanggapan. Tak hanya itu secara sukarela, banyak yang menyatakan ingin gabung, dan lain sebagainya. Beberapa di antaranya komunitas pecinta dan pemerhati sejarah.

Selain Ja’far, Hairil Anwar anggota Ngoser lainnya juga lantas menyedot sanak-famili dari kampung Masegit Laju, Kapanjin, yang notabene ahli waris atau keturunan langsung Pangeran Le’nan. Agenda Ahad itu pun berjalan lancar. Tak hanya satu babak, tapi berlanjut pada beberapa babak setelahnya. Bahkan direncanakan akan dijadikan agenda rutin, minimal sebulan sekali. Sampai mungkin, menuju pada tahapan-tahapan perbaikan. Semoga saja terealisasikan.

Nah, satu hal kemudian yang menjadi catatan menarik. Gabungan dari beberapa tim berJAS MERAH itu lantas menunjukkan bahwa tarikan kuat seorang ibu tak hanya pada anak-cucunya saja. Dan secara umum, di luar konteks Ibu seorang Pangeran Le’nan, tarikan ini adalah tarikan surga. Karena seperti diketahui, bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu. Bakti situs ini sejatinya adalah bakti ibu. Menemukan situs ini pada hakikatnya ialah menemukan ‘surga’. Tak hanya ‘surganya’ Pangeran Le’nan: tapi surga para anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Khususnya pada ibu, ibu, dan ibu…

R. B. M. Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional