Mengemas Kembali Budaya Madura

Tellasan Topa'. (Ilustrasi/suaraislam)
Tellasan Topa’. (Ilustrasi/suaraislam)

MataMaduraNews.comMADURA – Dalam sejarah kemanusiaan, budaya atau kultur (kata adopsi dari bahasa Inggris, culture) merupakan hasil kreasi manusia yang usianya sudah relatif tua. Budaya pun juga beragam, seberagam suku, bangsa, maupun etnis dari manusia itu sendiri. Sebuah karakter yang diwariskan secara genetik, turun-temurun, dan seringkali mengalami pergeseran seiring munculnya pengaruh-pengaruh luar. Namun karena budaya itu terus dipelajari, paling tidak, budaya tetap hidup dalam otak setiap manusia. Memberi warna dalam hidup dan melekat pada setiap tarikan nafas. Singkatnya, hanya kematian yang memisahkan budaya dengan manusia.

Sesuai dengan kata asalnya budhdhayah (bahasa Sansekerta) yang merupakan bentuk jamak dari kata budhdhi (budi atau akal), budaya menentukan kualitas dari jati diri manusia. Sehingga, bisa saja mengatakan bahwa budaya merupakan salah satu anasir kehidupan yang membedakan manusia dengan hewan.

R B Nurul Hidayat, S.Pd., salah satu pemerhati budaya muda di Sumenep. (Foto for Mata Madura)
R B Nurul Hidayat, S.Pd., salah satu pemerhati budaya muda di Sumenep. (Foto for Mata Madura)

”Jadi budaya itu bermakna positif. Sehingga yang merupakan kebiasaan buruk, tentu tidak bisa dikatakan budaya. Ini kalau merujuk pada kata asalnya, maupun sejarah budaya itu sendiri,” kata R B Nurul Hidayat, salah satu pemerhati budaya muda di Sumenep.

Alumni Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) al-Amien Prenduan tersebut menambahkan, budaya tetap tunduk pada agama. Karena setiap hal yang baik menurut akal, justru terkadang tidak menurut agama. Sehingga, budaya haruslah berkiblat pada agama.

”Dalam menyikapi budaya, agama Islam bersikap toleran sekaligus tegas. Toleransi itu terlihat dalam ijtihad para ulama yang kadang menjadikan budaya atau kebiasaan masyarakat dalam meng-istimbath hukum fiqih. Namun tegas ketika berhadapan dengan kebiasaan yang mengarah pada syirik,” papar Nurul.

Intinya budaya yang tidak bertentangan dengan agama justru tetap dilestarikan. Sebaliknya yang justru bertentangan, menurut Nurul sebisa mungkin diarahkan. ”Budaya jangan sampai dihilangkan, karena itu merupakan karya menomental umat manusia. Terlebih lagi, pada hakikatnya, relatif tidak ada unsur negatif dalam budaya. Karena ia terbentuk dari akal atau budi. Jadi, di samping jangan sampai dihilangkan, juga jangan pernah mengabaikan,” tegasnya, akhir Oktober lalu.

***

Bagi sebagian orang, budaya kita, budaya ketimuran memang terkesan ribet alias kurang praktis. Jika kaca perbandingan yang dipakai adalah budaya kebarat-baratan, budaya kita memang lebih kental dengan istilah “basa-basi”. Kita memang lebih suka berputar-putar terlebih dulu saat menuju tujuan. Padahal dalam skala normal, “tujuan” itu sebenarnya tak banyak amat memakan waktu dan biaya. Murah meriah.

Namun dibanding budaya barat, budaya kita memang terkesan lebih halus. Lepas dari kesan kesombongan, lebih cenderung berhati-hati, dan lebih banyak pertimbangan. Contoh kecil, coba lihat saat para akademisi kita memberikan pengantar untuk karya tertulisnya, pasti akan ada kalimat yang menyatakan bahwa karyanya itu masih jauh dari kesempurnaan. Padahal logikanya, untuk apa karyanya disajikan jika masih “cacat”. Oleh karenanya, bagi calon pelajar kita yang mau bertolak ke negeri Paman Sam sana, jangan coba bersopan-santun dengan kalimat baku kita, jika tak ingin tugas akhirnya dilempar sang dosen karena dianggap belum selesai. Ketidakpraktisan budaya kita hampir terjadi sepanjang hidup. Tak ada masalah sebenarnya, jika tak disertai dengan keterpaksaan.

Memang benar, jika kita lihat, untuk Madura—masyarakat Sumenep khususnya, mulai sejak menjadi calon manusia (baca: di dalam kandungan Ibu) hingga bersemayam dalam pusara, penuh dengan pernak-pernik adat. Mulai dari selamatan pelet kandung (tujuh bulanan); molang are (selamatan 40 hari pasca kelahiran); toron tana (selamatan bagi bayi berusia 7 bulan yang disimbolkan dengan menjejakkan kaki bayi ke bumi); arabhas pagar/nyab’ jajan (bagi yang mau bertunangan); resepsi pernikahan (setelah aqad nikah); hingga selamatan tahlilan lo’ tello’ (3), to’ petto’ (7), pa’ polo (40), nyatos (100), nyaebu (1000) hari hingga haul pasca kematian.

Edhi Setiawan, Budayawan Sumenep. (Foto Farhan, Mata Madura)
Edhi Setiawan, Budayawan Sumenep. (Foto Farhan, Mata Madura)

Meski begitu, Budayawan Sumenep, Edhi Setiawan mengatakan, budaya Madura sangat unik, contohnya tellasan topa’. Ia sebut sebagai metamorfosa budaya yang begitu luar biasa. ”Saya melihatnya sebagai kegiatan yang merupakan campuran ritual, budaya, yang sangat luar biasa. Saya merasa ini suatu tempat luapan untuk melepaskan kepenatan, kegembiraan di tengah pergulatan hidup yang cukup keras. Tellasan topa’ merupakan even yang bagus. Di saat itu terjadi perputaran ekonomi yang sangat besar. Seperti di tempat wisata Lombang misalnya, atau di situs budaya berupa tempat-tempat ziarah, berapa pendapatan yang bisa diraih. Sangat besar. Ini sangat perlu dijaga kelestariannya,” katanya beberapa waktu lalu di kediamannya.

Namun Edhi tidak menampik bahwa masih banyak budaya Madura, khususnya Sumenep yang sudah terabaikan. Terabaikan di sini menurut Edhi tidak hanya bermakna dihilangkan, tidak dikenalkan, atau ditinggalkan namun juga pementasannya yang terkesan kurang bonafide. ”Beberapa tahun lalu, hampir banyak kegiatan budaya yang dilupakan, salah satu misal lomba tong-tong yang beberapa tahun terakhir ini kembali menggema. Nah, sebelum itu sungguh memprihatinkan. Kita ini punya budaya yang luar biasa, namun kadang tak dikemas secara bonafide. Padahal jika dikemas dengan baik, seperti halnya tellasan topa’, ini akan menjadi kegiatan rutin tahunan yang banyak penggemarnya. Kita harapkan setiap tahun terus dilangsungkan dan ditingkatkan pengemasannya,” tambahnya.

***

Persoalan budaya memang perlu mendapat perhatian penting, apalagi saat kearifan-kearifan lokal mulai tergeser oleh arus asimilasi budaya asing. Sehingga, tidak salah jika Edhi Setiawan pernah mengatakan bahwa kita tidak perlu melakukan terobosan budaya seperti membuka situs-situs budaya baru yang selama ini kurang populis.

”Kalau menurut saya, kita tak perlulah membuka situs-situs baru. Cukup dengan menata secara maksimal situs-situs yang sudah ada. Itu harus kita lestarikan, kembangkan, dan jadikan ikon. Seperti Asta Tinggi, Keraton, Masjid, Asta Yusuf, daripada kita membuka situs seperti Gua Jerruh, Bongkeng, dan lainnya; yang belum tentu menarik minat pengunjung, ‘kan justru membuang-buang energi,” katanya.

| R B M Farhan Muzammily

Tinggalkan Balasan