Menu

Mengenal Edhi Setiawan; Budayawan Madura dari Etnis Tionghoa (1)

Mengenal Edhi Setiawan; Budayawan Madura dari Etnis Tionghoa (1)
Edhi Setiawan
Link Banner

Edhi Setiawan salah satu figur yang konsen mengamati dan merawat seni dan tradisi budaya Madura. Dia keturunan Tionghoa yang lahir di Sumenep, 13 Januari 1946. Sepanjang hidupnya, dia abdikan pada jalan kesenian, kebudayaan dan sosial pada tanah Madura.

 

matamaduranews.com-SUMENEP-Sejak remaja, Edhi sudah bergelut dengan dunia baca. Buku-buku sosial, budaya dan sejarah ia lahap hingga membuatnya menjadi lekat dengan episode sejarah. Terutama sejarah Sumenep dan segenap kandung kebudayaannya.

Pada tahun 1974, Edhi mulai berani berkecimpung di dunia kesenian dan kebudayaan Sumenep. Sehingga tak heran jika keberadaannya sangat diperhitungkan dalam kancah kesenian dan kebudayaan di kabupaten, saat itu. Dan kini, sosok Edhi kerap menjadi jujukan dari segala problem dan laku kesenian dan kebudayaan Madura.

Rasa cinta dan gairah total terhadap Sumenep, Madura rupanya menjadi semangat dalam mengabdi di jalur seni-budaya kabupaten ini. Bagaimana tidak? Seorang pemuda yang sejatinya bukan siapa-siapa sangat getol memperkenalkan kebudayaan Sumenep hingga ke manca negara.

Salah satu penyair Sumenep, Ibnu Hajar menyebut, Edhi lebih Madura daripada orang Madura sendiri.“Kendati bukan keturunan asli Madura, Om Edhi itu sangat memiliki terhadap kebudayaan Madura, terutama Sumenep. Sedangkan kita yang Madura tulen tak sekalipun peduli dengan kebudayaan sendiri. Masih kalah sama Om Edhi,” katanya.

Edhi memang memiliki trah keluarga berkebangsaan China. Meski lahir dan besar di tanah Sumenep 73 tahun lalu, nenek moyangnya tetap bukan asli Sumenep, Madura. Ia masih keturunan ke-8 dari leluhur yang asli daratan China. Mereka datang ke pulau ini pada sekitar abad ke-17 M, dalam peralihan dinasti Ming dan Ching.

Dalam diri Edhi mengalir darah China dan Madura. Percampuran darah itu terjadi saat seorang lelaki dari Hokkian, Cina menikah dengan seorang gadis asli Madura.

Walau sebagai keturunan China,tidak membuat Edhi enggan dan membenci kesenian serta kebudayaan Madura. Soal yang satu ini, malah ia jangan ditanya. Dedikasinya di bidang kebudayaan bahkan mendapat perhatian dari tokoh nasional pada 29 Desember 1993. Ia mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden Suharto atas Jasa Pengabdian dan Jasa Kepeloporan berkat reportasenya terhadap Budaya Lokal Sumenep.

Selama belasan tahun Edhi memang keluar masuk pelosok desa untuk menggali jejak-jejak kesenian Madura, lebih-lebih kesenian asli Sumenep. Hal itu ia lakukan semata-mata karena dorongan kecintaan dari dalam dirinya terhadap kesenian dan kebudayaan Sumenep dalam rangka mengenalkannya ke berbagai daerah.

“Saya melakukan pengamatan budaya tanpa sedikitpun terlintas ingin memperoleh penghargaan. Lima belas tahun bergelut dengan budaya Sumenep karena saya ingin megembangkan dan mengembangkannya,” kata Edhi, seperti dilansir Harian SURYA, Senin (27/12/1993).

Tak hanya itu, bukti kreativitas dan kecintaan Edhi terhadap kesenian dan kebudayaan Madura dituangkannya dalam bentuk ukiran asli Madura pada sekitar tahun 1980. Selanjutnya, ia juga menelusuri kesenian Topeng Dalang Madura dan kesenian lainnya.

Namanya kian melambung di jagad kebudayaan Madura, sejak ia menggali kesenian ini dan sekaligus memperkenalkannya ke berbagai daerah. Padahal ia lulusan fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, sesuai kehendak orang tuanya. Namun bagaimana kisah Edhi yang diinginkan mengikuti jejak saudaranya menjadi hakim, justru memulai pentas Topeng Dalang Madura hingga mendapat kesempatan pentas keliling Indonesia, bahkan dunia

bersambung…

Rafiqi, Mata Madura

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Fans Page

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional