Menu

Mengenal Edhi Setiawan; Budayawan Madura dari Etnis Tionghoa (2)

Mengenal Edhi Setiawan; Budayawan Madura dari Etnis Tionghoa (2)
Edhi Setiawan
Link Banner

Tahun 1975 sarjana di Kabupaten Sumenep hanya dapat dihitung dengan jari. Pada tahun itu, hanya tiga orang yang bisa meraih gelar akademis tersebut. Dan salah satunya adalah Edhi Setiawan yang baru saja berhasil meraih gelar sarjana Hukum dari Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

matamaduranews.com-SUMENEP-Seperti yang terjadi pada mahasiswa umumnya ketika lulus dari sebuah perguruan tinggi atau sudah menjadi sarjana, Edhi pun dihadapkan pada kegalauan akan arah jalan selanjutnya. Dengan gelar sarjana Hukum tersebut, ia merasa bingung berat akan apa yang harus dilakukan. Apalagi ia juga diserang dilema besar antara mengikuti kehendak orang tua menjadi hakim atau memilih jalan sendiri untuk menentukan arah hidup yang belum begitu dipahaminya.

Link Banner

“Setelah lulus pada tahun 75 saya terombang-ambing antara menjadi pegawai negeri atau menjadi swasta yang bersentuhan langsung dengan masyarakat secara bebas,” katanya kepada Mata Madura, saat ditemui di kediamannya, di Jl Panglima Sudirman  34.

Singkat cerita, karena dorongan penasaran terhadap budaya dan kesenian Madura, akhirnya ia rela mengorbankan kesempatan emasnya menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Padahal dengan modal sarjana yang didapat tiga orang waktu itu, peluang menjadi PNS sangat mudah baginya.

Selain itu, pengalaman menjadi orang Madura di perantauan yang ia rasakan tidak mudah ketika menjalani masa sekolah hingga kuliah, menjadi alasan lain yang semakin mendorongnya memilih jalan ini. Sebab Madura sudah kadung masyhur dengan icon kekerasan dan kegersangan, kata Edhi menjadi streotip yang dapat berakibat buruk kepada warganya.

“Saya sudah merasakan bagaimana orang Madura dibully di luar sana sejak saya sekolah di luar Madura,” tutur Edhi. Dari situ kemudian Edhi terus bertanya kepada diri-sendiri. Sebagai orang Madura, ia terus mempertanyakan apa yang kurang di pulau tempat kelahirannya ini, sementara peradaban dan kebudayaan yang ada ia rasa sangat kental akan nilai-nilai yang baik.

Dalam pikirnya waktu itu, Madura memiliki banyak potensi di bidang kebudayaan dan kesenian. Bahkan, kehidupan masyarakat Madura yang terbingkai dalam kerukunan dan kedamaian disebutnya sebagai cerminan yang tidak diketahui orang luar sehingga berkembanglah statmen dan streotip yang menggeneralisir Madura sebagai tipikal orang-orang yang keras.

Rasa cinta terhadap Madura terutama Sumenep itu, lanjut Edhi, semakin nyata setelah ia bergaul lebih dekat dengan daerah dan budaya Madura. Ia semakin tertarik untuk terus mendalami dan menulusuri Madura lebih detail. Sebab ia percaya Madura memiliki potensi yang bagus, baik di bidang kebudayaan, seni ukir, alat musik serta pentas hiburan dan kesenian tradisional lainnya.

Hanya saja, selagi semua itu tak diketahui masyarakat luar sana, orang Madura akan tetap hidup dalam bayang streotip yang merugikan. Maka dari itu, ia semakin tertarik mengenalkan aset Madura yang sebenarnya ke kancah nasional hingga dunia.

Berangkat dari pertanyaan dan pencarian tanpa akhir, ia berkesimpulan tidak banyaknya tulisan tentang ke-Madura-an baik oleh wartawan ataupun mahasiswa-entah skripsi, tesis maupun disertasi yang menggali sejarah, peradaban kebudayaan dan kesenian Madura- merupakan satu faktor penyebab keringnya informasi utuh pulau garam ini.

Sejauh pengamatan Edhi, banyak tulisan yang mengulas indeks kekerasan dan kekeringan, menjadikan tanah kelahirannya tidak dikenal dengan baik di sisi kesenian dan kebudayaannya. Apa yang dimiliki Madura, menurutnya, sangat tidak imbang dengan apa yang selama ini dikenal dan dicap oleh orang-orang luar Madura.

Lalu pada tahun 1978, Edhi pun mulai berkiprah secara serius di dunia kesenian Madura. Petualangan besarnya itu ia mulai dari kesenian rakyat Topeng Dalang Madura, yang kemudian mampu memberikan pencerahan bagi dunia kesenian tradisional lainnya. Di masa Edhi, Topeng Dalang Madura mencapai puncak kejayaannya.

Krisis kesenian yang melanda Topeng Madura dari kesenian keraton hingga terpinggirkan menjadi kesenian rakyat, membuatnya semakin tertarik menekuni kesenian yang satu ini. “Saya melihat keindahan yang tersimpan dalam Topeng Dalang Madura, dan saya tergerak untuk mengembangkannya,” dalihnya.

Dengan sedikit mengubah jam pentas, skenario serta meringkas tarian dan memadatkan jalan cerita, dengan mudah Edhi mampu mengembalikan pamor Topeng Dalang Madura sebegaimana masa kejayaan keraton. Jika sebelumnya kesenian ini sudah tersingkirkan hingga luar pagar keraton dan kehilangan peminatnya, dengan usaha Edhi Topeng Dalang Madura kembali menjadi kesenian yang sering tampil di Pendopo Kabupaten dan menjamu setiap tamu yang datang dari luar Madura.

bersambung…

Rafiqi, Mata Madura

 

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Opini dan Resensi

Fans Page

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional