Menu

Mengenal Jurus Langkah Empat; Seni Bela Diri Khas Keraton Sumenep

  Dibaca : 242 kali
Mengenal Jurus Langkah Empat; Seni Bela Diri Khas Keraton Sumenep
Lukisan Raden Banjir (Pangeran Adipati Ario Suryokusumo), pencetus Seni Bela Diri Langkah Empat Keraton Sumenep. (Foto/R M Farhan)
Link Banner

matamaduranews.comSUMENEP-Sumenep memiliki banyak tradisi dan budaya yang sudah mulai tenggelam dan hampir punah. Seperti misalnya seni bela diri khas keluarga keraton dahulu, yang dikenal dengan sebutan jurus Langkah Empat. Jurus ini diciptakan oleh Raden Ahmad Banjir alias Pangeran Adipati Suryokusumo.

”Raden Banjir ini adalah cucu Sultan Abdurrahman Sumenep, dari pihak ibunya. Sedang dari pihak ayah, beliau ialah cucu Panembahan Mangkuadiningrat, Pamekasan,” kata R. P. Zainal Abidin, salah satu pemerhati budaya Sumenep yang banyak paham tentang Langkah Empat, pada Mata Madura, beberapa waktu lalu.

Kenapa disebut langkah empat? Menurut Zainal, karena seni bela diri ini bergerak dalam bentuk bujur sangkar imajinatif yang setiap sisinya tak sampai satu meter.

”Jadi ini perkelahian jarak dekat, sehingga titik tekannya pada kecepatan maksimal dan kelihaian anggota badan untuk menghindari serangan lawan,” jelas Zainal.

Di jaman lampau, seni beladiri khas keraton ini menjadi jujukan banyak pendekar di berbagai penjuru untuk mempelajarinya. Namun, kini seni beladiri ini sudah hampir punah, karena banyak penerus seni bela diri ini yang sudah wafat.

”Hampir tidak ada regenerasi. Mungkin karena ini juga seni bela diri kalangan bangsawan yang dulu merupakan kalangan elit,”tutur Zainal.

Mengenal Sang Pencetus

Seperti disebut di muka, seni bela diri langkah empat merupakan buah karya Raden Ahmad Banjir alias Pangeran Adipati Suryokusumo. Seni beladiri ini di jaman lampau merupakan seni tarung yang langka. Gerakannya terpusat pada area bujur sangkar imajinatif yang setiap sisinya kurang dari satu meter. Lalu siapa Raden Banjir ini?

”Raden Banjir ialah putra dari Pangeran Ario Prawiroadiningrat, anak sulung Panembahan Mangkuadiningrat, Pamekasan. Ibunya ialah Ratu Afifah, putri sulung Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, Sumenep,” kata R. P. Mohammad Mangkuadiningrat, salah seorang pemerhati sejarah di Sumenep, dan sekaligus cicit Raden Banjir, pada majalah ini.

Menurut Mangku, Raden Banjir lebih banyak dekat dengan keluarga ibunya. Apalagi setelah ayahnya mangkat lebih dulu. Padahal Pangeran Prawiro, ayahnya itu, sudah dicalonkan sebagai Bupati Pamekasan menggantikan Panembahan Mangkuadiningrat setelah wafatnya. Namun, posisi adipati tetap diberikan kepada Raden Banjir. Bahkan, ia dilantik saat masih di bawah umur atau belum dewasa. Peristiwa itu terjadi pada bulan November 1842 Surat Ketetapan Nederlandsch Indische Regeering. Surat Ketetapan itu sendiri baru diresmikan pada 1853.

”Situasi ini menimbulkan ketidaksenangan dari paman-pamannya di Pamekasan, sehingga hubungan Raden Banjir dengan keluarga di Pamekasan kurang harmonis. Hal ini yang mungkin menyebabkan ia mengundurkan diri sebagai Adipati Pamekasan, yaitu pada tahun 1854,” imbuh Mohammad Mangku, panggilan R. P. Mohammad Mangkuadiningrat.

Setelah mengundurkan diri, Raden Banjir pulang ke Sumenep. Tinggal bersama ibunya di Moncol. Raden Banjir kemudian mengembangkan seni bela diri yang kemudian diberi nama Langkah Empat itu.

”Jadi, ia ini dikenal sebagai pendekar besar di masanya. Ia juga dikenal alim di bidang agama. Ia diriwayatkan berguru kepada Kiai Abu Syamsuddin atau Buju’ Latthong, di Batuampar Barat, Pamekasan. Di samping juga banyak menimba ilmu pada kakeknya, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat,” kata Mohammad Mangku.

Zainal Abidin, narasumber awal di atas yang juga salah satu keponakan Mohammad Mangkuadiningrat pernah menceritakan kisah Raden Banjir saat disuruh kakeknya, Sultan Sumenep menghadapi pendekar ulung berdarah Arab dan bangsa habaib.

Sang Pendekar itu memang sengaja menantang atau ingin menjajaki kemampuan keluarga keraton Sumenep di bidang olah jurus. Sultan lantas menyuruh cucunya tersebut untuk meladeni.

”Sebelumnya, Sultan berpesan pada Raden Banjir agar jangan menggunakan senjata maupun tenaga dalam, cukup menghindar serangan dan pergunakan jurus langkah empat saja,” kata Zainal.

Alhasil, pendekar berdarah sayyid itu sampai keletihan menyerang Raden Banjir. Padahal yang menyerang menggunakan senjata berupa pedang. Hingga sang penyerang itu menyangka Raden Banjir menggunakan semacam asma’ atau tenaga dalam.

Raden Ahmad Banjir wafat di Sumenep. Jenazahnya dimakamkan di Asta Tinggi, sebelah timur kubah Panembahan Sumolo. Ia tercatat memiliki 19 putra-putri. Keturunannya banyak berada di Sumenep.

Tumbuh Kembang Seni Beladiri Langkah 4 dan Kemundurannya

Setelah Raden Banjir alias Pangeran Adipati Suryokusumo wafat, tongkat estafet seni beladiri Langkah Empat jatuh pada salah satu putranya, yaitu Raden Ario Abdul Ma’afi Sasradiningrat atau Ja Sasra. Ja Sasra disebut mewarisi semua keahlian ayahnya, bahkan dianggap melebihi ayahnya.

”Ia dikenal sebagai pendekar yang mumpuni. Tidak hanya sekadar seni bela dirinya, namun juga lengkap dengan kanuragan atau dalamnya. Istilah di sini Sampedi,” kata R. P. Mohammad Mangkuadiningrat.

Potret R. Ario Sasradiningrat, salah satu putra dan penerus Raden Banjir. (Foto/R M Farhan)

Di masanya, dalam sejarah dan riwayat lisan atau pitutur sesepuh Keraton Sumenep, seni bela diri Langkah Empat disebut benar-benar disegani oleh kawan maupun lawan. Banyak pesilat, pendekar, atau ahli bela diri dari luar Sumenep yang takluk pada Ja Sasra, hingga berguru padanya. Ja Sasra juga dikisahkan pernah diundang oleh Keraton Yogyakarta.

”Saat memperagakan jurus langkah empat, ia membuat banyak orang takjub. Pasalnya, saat beliau berposisi miring, konon bumi di sana juga ikut miring,” kata Mohammad Mangku.

Menurut cerita R. P. Zainal Abidin Amir, Ja Sasra dikenal dengan kecepatan gerakan tubuhnya. Pernah di usianya yang sudah sangat sepuh, ia mencoba salah satu keponakannya. Sang keponakan disuruh menusuk perutnya dengan keris dalam jarak kurang dari 40 sentimeter.

”Namun meski dengan tenaga kuat dan gerak cepat, keris yang ditusukkan itu bahkan tak mampu menyentuh baju Ja Sasra,” kata Zainal.

Sepeninggal Ja Sasra, yang di masa tuanya menempuh jalan tashauf, seni bela diri Langkah Empat dilanjutkan oleh anak cucu dan kerabat dari keluarga Keraton Sumenep.

Tokoh-tokoh yang dikenal sebagai ahli bela diri langkah empat ini di antaranya kedua putra Ja Sasra, yaitu R. Ario Cokrodiningrat, dan R. Ario Saccadiningrat. Lalu juga keluarga besar R. Ario Mertonegoro (salah satu cucu Sultan Abdurrahman), keluarga besar Pesantren Loteng Pasarsore, dan lain-lain.

Seni beladiri Langkah Empat tumbuh dan berkembang di keluarga besar Keraton Sumenep hingga pasca kemerdekaan. Dan sempat menjadi sebuah organisasi bernama Ganefo di masa Orde Lama. Meski begitu, ada juga sebagian pihak di luar keluarga keraton yang mempelajarinya.

”Namun, kemudian mereka mengkombinasikan dengan seni bela diri lain. Sedang yang tetap menguasai dasar atau aslinya banyak yang tidak melakukan regenerasi atau tidak mengambil murid, sehingga lambat-laun seni beladiri ini hampir punah,” tutup Mohammad Mangku.

| R B M Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional