Menu

Mengenal Sosok Ra Lilur; Sufi dari Bangkalan, Madura

Mengenal Sosok Ra Lilur; Sufi dari Bangkalan, Madura
Ra Lilur bersama putra, menantu dan cucu (foto for mata madura)
Link Banner

matamaduranews.com-BANGKALAN-Ra Lilur salah satu sosok Ulama Madura yang beda. Ajaran hidupnya mewariskan nilai-nilai spiritual yang luhur di tengah gempuran kapitalisme dan hedonisme.

Dalam pribadi Ra Lilur mengalir darah ulama besar Madura, Syaichona KH Moh. Kholil, Bangkalan. Ra Lilur memiliki nama lengkap KH Kholilur Rohman. Beliau wafat, pada hari Selasa (10/4/2018) sekitar pukul 22.00 WIB.

Ra Lilur merupakan putra bungsu dari pasangan Nyai Romlah dengan KH Sahrawi, Sampang. Saudara kandung Ra Lilur adalah KH Fahrurrozi, KH Abdullah Aschal, KH Kholil AG.

Nyai Romlah merupakan anak kandung KH Imron dengan Nyai Mutmainnah. Sedangkan KH Imron merupakan putra Syaichona Moh. Kholil.

Ra Lilur muda sudah mulai menampakkan pribadi yang beda dari kebanyakan pemuda seusianya. Sejumlah orang memberi testimoni soal ke-anehan-nya. Seperti Ra Nasich Aschal memberi testimoni via telepon kepada Mata Madura. Putra KH Abdullah Aschal itu mendengar dari keluarga dan santri sepuh bahwa  saat muda Ra Lilur terlihat nyentrik alias gaul. Akrab bergaul kepada para santri dan masyarakat.

Perubahan mulai terlihat setelah KH Fahrurrozi-kakak sulung Ra Lilur, wafat. Maklum, Ra Lilur sejak belia diasuh dan dibesarkan oleh KH Fahrurrozi. ”Sejak itu, Ra Lilur mengalami perubahan drastis dalam pribadinya,” tutur Ra Nasich, awal Mei lalu.

Perubahan itu terlihat Ra Lilur sering menyendiri. Penyendirian Ra Lilur memunculkan banyak keistimewaan. Salah satunya, membakar Ponpes Syaichona Kholil Demangan yang diasuh oleh kakaknya, KH Abdullah Aschal. Pembakaran tahun 1979 itu sebagai isyarat Ponpes akan maju pesat dan memiliki bangunan tinggi megah setinggi asap api yang mumbul. Isyarat itu menjadi kenyataan. Kini, berdiri bangunan berlantai 7 mirip hotel. Pesantren itu untuk menampung para santri yang terus membludak dari tahun ke tahun.

Belum ada informasi jelas tentang pendidikan Ra Lilur. Tapi beliau menguasai Bahasa Arab. Salah satu keponakan Ra Lilur, Ismael Amin Kholil bercerita bahwa pamannya tak pernah nyantri lama di pondok pesantren. Jika mondok di pesantren, paling lama tiga bulan. Itu pun tak pernah ikut ngaji. Kesukaannya mancing. Meski begitu, Ra Lilur paham dan mumpuni membaca Bahasa Arab dengan fasih.

Kehidupan Ra Lilur memang agak berbeda dengan keluarga Syaichona Kholil lainnnya yang berpendidikan jelas. KH Abdullah Aschal, saudara Ra Lilur, misalnya, sejak kecil nyantri secara teratur.

Ra Lilur sejak muda suka mengembara. Tak jelas di mana tempatnya. Beliau baru muncul ketika mau mengabarkan peristiwa-peristiwa penting yang akan terjadi.

Beberapa waktu lama menyendiri, Ra Lilur menikah dengan Nyai Islani, perempuan dari Kecamatan Sepulu.  Hasil buah pernikahannya, memiliki putra Ra Bir Aly. Sejak bayi hingga dewasa, Ra Bir Aly diasuh KH Kholil AG-kakak Ra Lilur.

Selama hidup, Ra Lilur berpindah-pindah tempat. Setelah dari Demangan, Ra Lilur menetap di Desa Prancak, Kecamatan Sepulu. Beberapa tahun kemudian, beliau pindah tinggal ke Desa Banyubunih, Kecamatan Galis. Lalu pindah ke Desa Pakaan Laok, Galis. Terakhir, Ra Lilur menetap dan wafat pada usia 75 tahun di Desa Banjar, Galis, Bangkalan.

Dalam kehidupan berpindah-pindah tempat itu, Ra Lilur ditemani sejumlah khaddam (santri yang setia mengabdi). H. Husni Madani, salah satu khaddam Ra Lilur punya banyak cerita tentang keseharian hidup Ra Lilur. Sebagaimana dikutip Harian Bangsa yang terbit bersambung di tahun 2001, H Husni berkisah sejumlah testimoni yang menyiratkan keanehan dalam pribadi Ra Lilur. Salah satunya, Ra Lilur sedang pentas main drama di antara 300 kiai di Surabaya. Pada waktu bersamaan, Ra Lilur bersama H Husni saat acara resepsi pernikahan putranya di Bangkalan.

 

Ra Lilur, Ra Bir Aly dan Cucunya

Sejumlah narasumber Mata Madura kesulitan bercerita tentang sosok Nyai Islani, isteri Ra Lilur. Ra Nasich Aschal bercerita singkat soal perkawinan Ra Lilur dengan isterinya. Keponakan Ra Lilur itu, menyebut hubungan suami isteri Ra Lilur dan Nyai Islani tidak sebagaimana lazimnya kehidupan keluarga pada umumnya. Bahkan, Ra Nasich menyebut Ra Bir Aly lahir dari proses yang terbilang ‘aneh’.

Sejak bayi hingga dewasa, Ra Bir Aly diasuh KH Kholil AG. Kendati demikian, saat Ra Bir Aly menikah dengan Ayu Purnamasari, perempuan asal Tuban dan memiliki tiga putra tidak lepas dari restu dan perhatian Ra Lilur. Menurut Ra Bir Aly, nama tiga putranya berasal dari pemberian Ra Lilur. ”Semua nama anak saya pemberian abah,” tulisnya via WhatsApp saat ditanya Mata Madura, beberapa waktu lalu.

Ra Bir Aly hanya berkomunikasi via aplikasi WhatsApp dan telepon dengan redaksi. Maklum, beberapa kali ingin bertemu, tidak mendapatkan waktu yang tepat. Ra Bir Aly bercerita, anak pertama bernama Saman, lahir di Bangkalan, 11 Agustus 2008. Anak kedua bernama Asti Batri, lahir di Surabaya pada tanggal 10 Mei 2010. Anak ketiga bernama Mohammad Semmy Batdri, lahir di Surabaya pada tanggal 18 April 2012.

Ra Bir Aly kini menjabat anggota DPRD Bangkalan, sejak Pileg 2014. Pria kelahiran 11 Agustus 1983 ini, sempat didorong oleh sejumlah loyalisnya agar mencalonkan Bupati Bangkalan di Pilkada 2018 lewat jalur perorangan. Meski semua persyaratan dipenuhi, keinginan loyalisnya kandas setelah Ra Bir Aly menyatakan tak berminat.

”Ra Bir Aly menghormati KH Imam Buchari yang juga akan mencalonkan bupati,” ujar salah satu aktivis Bangkalan yang enggan disebutkan namanya, memberi alasan Ra Bir Aly mundur dalam pencalonan indipenden.

 

Singlet Putih dan Celana Hitam

Pakaian singlet putih dan celana hitam seakan menjadi pakaian “resmi” Ra Lilur. Saban hari, saat menerima tamu dan istirahat beliau selalu memakai pakain singlet putih dan celana hitam setinggi lutut. Jika bepergian beliau selalu bawa senter kecil. Entah apa maknanya.

Jika berkenan hadir dalam sebuah acara keagamaan, pakaian khasnya tidak berubah. Hanya ditambah baju yang berlengan dan sarung serta kopiah. Terkadang berkalung surban.

Pakaian sederhana itu memberi penegasan tentang kehidupan Ra Lilur yang zuhud. Kehidupan sederhana. Mengasingkan dari kesenangan duniawi. Walau secara garis keturunan, Ra Lilur berpotensi bisa merengkuh kekuasaan yang dipercaya umat. Tapi, Ra Lilur memilih kehidupan sufistik. Jiwa Ra Lilur merasa nyaman menjalani kehidupan yang jauh dari dinamika kesenangan duniawi.

hambali rasidi/hasin, Mata Madura

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Pelantikan
Link Banner
Link Banner

Catatan

Opini dan Resensi

Fans Page

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional