Menu

Menolak Agamaisasi Kekerasan

  Dibaca : 84 kali
Menolak Agamaisasi Kekerasan
Dari Membela Tuhan ke Membela [email protected] Book.
Link Banner

Judul              : Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia

Penulis           : Aksin Wijaya

Penerbit         : PT Mizan Pustaka

Cetakan         : 2018

Tebal              : 261 halaman

ISBN               : 978-602-441-067-4

Peresensi    : Wardatul Hasanah*

 

Semua agama bertujuan untuk memuliakan pemeluknya. Hal ini dapat dilihat dari komitemen doktrin-doktrinnya yang menghendaki kehidupan yang penuh kedamaian dan kerukunan. Tapi sayangnya, tidak sedikit orang yang menggunakan agama sebagai pembenaran untuk berbuat radikal. Kelompok ISIS dan teroris, misalnya, terus melancarkan serangan atas nama agama. Contoh konkretnya adalah bom bunuh diri di hotel J.W Marriot dan Hotel Ritzt Carlton tahun 2009 lalu.

Semua agama sepakat bahwa kekerasan atas nama agama merupakan kejahatan yang harus dilawan. Pada hakekatnya tindakan ini merupakan sesuatu yang paradoks, karena di satu pihak sesungguhnya agama mengajarkan nilai-nilai luhur, tetapi kenyataannya dijumpai kelompok atau individu dengan mengatasnamakan agama justru berbuat kerusakan, melakukan berbagai tindak kekerasan, sehingga agama yang diyakini anti kekerasan tersebut seringkali dituding dan seakan-akan harus bertanggung jawab terhadap kekerasan yang dilakukan penganutnya.

Buku terbaru karya Aksin Wijaya ini memberikan wawasan dan pembahasan yang menarik mengenai kekerasan atas nama agama. Kelompok yang acapkali bertindak radikal dengan membawa nama Tuhan (jihad fi sabilillah) cenderung menolok sistem demokrasi karena dianggap bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Gerakan ini terinspirasi dari Abdul Wahhab sebagai simbol gerakan Islam Khawarij-Wahhabi serta nalar keislaman al-Maududi dan Sayyid Qutb sebagai simbol gerakan Islamisme.

Bagi mereka, Islam tidak sekadar sebuah sistem yang bersifat teoretis, tetapi juga harus diimplementasikan ke dunia nyata, terutama dalam bentuk pendirian negara berbasis Islam (Khilafah). Dengan kata lain, mereka ingin menyatukan agama dan negara (al-din wa al-daulah). Karena itu, mereka melakukan berbagai upaya untuk menarik agama ke ranah politik. Agamaisasi politik kelompok Islamis ini bermaksud mempromosikan suatu tatanan politik yang dipercaya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Secara etis, Islam memang berhubungan dengan nilai-nilai politik, tetapi tidak berhubungan dengan tata pemerintahan khusus, misalnya pemerintahan Tuhan yang didasarkan pada jargon menyatukan agama dan negara. Karena itu, Islamisme bukanlah sebuah kebangkitan kembali Islam, melainkan suatu sikap yang berusaha membawa dan menarik agama ke dalam ranah pilitik dan merekonstruksi Islam yang tidak sesuai dengan warisan sejarahnya yang secara politik pernah berjaya di masa lalu (hlm 47).

Kelompok garis keras sering mengklaim dirinya sebagai pihak yang paling benar yang harus diikuti oleh pihak lain di luar mereka. Bahkan, mereka tidak segan-segan melakukan berbagai tindakan radikal  dengan melakukan serangkaian bom bunuh diri dan tindakan-tindakan lain yang mengancam kemanusiaan. Tentu saja hal ini tidak boleh dibiarkan karena akan mengancam keutuhan bangsa dan negara. Para generasi muda harus segera diselamatkan dari pengaruh paham yang diusung oleh kaum Islamis ini.

Karena itu, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan hasil kesepakatan seluruh konfigurasi warga negara Indonesia dengan Pancasila sebagai basis ideologi negara, yang bermoto Bhinneka Tunggal Ika harus dipertahankan dari serangan negara luar atau kelompok tertentu yang hendak menguasai dan menggantinya dengan ideologi lain, baik komunisme yang diusung PKI maupun Khalifah Islamiyah yang diusung oleh gerakan Islam Khawarij-Wahhabi dan Islamisme baik Ikhwan al-Muslimin maupun HTI (hlm 163).

Gagasan yang penulis tawarkan dalam menyikapi kelompok Islamis-radikal ini adalah dengan melakukan penafsiran keagamaan yang antroposentris agar nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan universal dapat ditegakkan sehingga akan lahir peradaban Islam yang tidak diwarnai oleh berbagai bentuk konflik dan kekerasan atas nama agama. Pendek kata, tafsir antroposentris lebih menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek, dari segala bantuk hiruk-pikuk keberagamaan umat Islam.

*Alumnus Pesantren Darul Ulum Pamekasan.

Link Banner
Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional