Menu

Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (3)

  Dibaca : 145 kali
Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (3)
Sketsa Imam al-Ghazali (Foto/google)

Oleh: Jazuli Muthar*

Munqidz min al-Dhalal, dibuat al-Ghazali, lima tahun sebelum wafat. Al-Munqidz berupa otobiografi intelektual yang telah menyihir sejumlah intelektual muslim dan orientalis. Padahal, otobiografi itu sebatas catatan curahan hati pribadi al-Ghazali.

Sebelum al-Ghazali menulis otobiografi Al-Munqidz, intelektual non Muslim, telah membuat otobiografi, seperti Confessions Saint Augustine; dengan Grammar of Assent (354-386 M). Dua abad sebelum al-Ghazali, seperti seorang Sufi kelahiran Basra bernama al-Muhasibi dengan karya Wasaya, mencurahkan pengalaman spiritual sebagai bentuk pengakuan diri dari isu negatif yang disematkan kelompok formalis. Begitu pun Ibn Sina, juga menarasikan pemikirannya soal kecendrungan intelektual dan politik yang ia hadapi.

Para orientalis belakangan tertarik meneliti otobiografi pemikir Muslim dulu dengan tujuan mencari sudut paling inti dari sejarah subjek yang akan diteliti. Setidaknya, otobiografi al-Ghazali memiliki samudara ilmu yang tidak pernah habis dikaji. Lebih dari itu, isi al-Munqdiz telah melahirkan inspirasi untuk menelorkan teori-teori pengetahuan yang diadopsi para intelektual Muslim dan pemikir Barat, beberapa ratus tahun sesudah zamannya.

Seorang Filsuf Barat, Rene Descartes (1650 M), pencetus teori rasionalisme, tanpa sadar mengekor pemikiran al-Ghazali di Bab I dalam kitab al-Munqidz. Di bab pertama itu, al-Ghazali mengaku tidak memiliki pengetahuan yang meyakinkan, kecuali pengetahuan hasil pengamatan inderawi dan olahan rasio. Al-Ghazali meragukan apakah indera dan rasio sebagai organ kasar yang bisa menyimpulkan kebenaran hakiki. Dia mencontohkan, bintang-bintang di langit terlihat kecil oleh mata (indera) Ternyata berdasar ilmu alam, bintang itu amat besar. Begitupun pengertian logis yang dibangun rasio, seperti bilangan 10 lebih banyak dari angka 3.

Dalil Cogito Ergo Sum (karena berpikir manusia ada), telah terjawab oleh al-Ghazali 500 tahun sebelum Descartes dan Filsuf modern memproklamirkan teori kebenaran. Lewat goresan tinta di tengah kegundahan bathin, al-Ghazali, memperkenalkan bahwa hukum indera dan rasio ibarat mimpi yang dialami setiap individu, bahwa apa yang dilihat dengan mata dan rasio benar terjadi. Tapi setelah bangun dari tidur, bahwa itu hanya ilusi semata.

BACA JUGA: Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (2)

Tulisan al-Munqidz merupakan bentuk syukur al-Ghazali atas karunia Allah Swt yang telah menyelamatkan dari perjalanan hidup yang dianggap sesat. Ungkapan syukur sebagai pesan, siapa penyelamat dalam hidupnya. Selain rasa syukur, Al-Ghazali juga memperkenalkan hasil jelajah spiritualnya, meski sebagai pengantar. Seperti, sifat-sifat khusus kenabian, hanya bisa dilalui lewat dzauq.

Al-Ghazali menggambarkan dzauq ibarat orang melihat dengan mata kepala atau memegang dengan tangan. Tapi, ini, kata al-Ghazali hanya bisa dicapai lewat ilmu tasawuf. Praktis, al-Ghazali ingin menggabungkan paradigma sufistik yang telah melahirkan mata rantai penghubung antara dirinya, Allah Swt dan cahaya Ilahiyah yang dianggap telah menyelamatkan dari mala petaka. Karena itu, al-Ghazali mengaku memiliki hutang kepada Allah Swt karena telah membukakan pintu pengetahuan yang bisa menenangkan jiwa dan hatinya.

Dalam bab kedua, al-Ghazali menggolongkan para pencari kebenaran ada empat kelompok; pertama, ahli kalam yang mengklaim diri sebagai orang yang memiliki penilaian dan penalaran independen. Kedua, kaum batiniah yang mengklaim sebagai pemilik tunggal At-Ta’lim dan pewaris istimewa dari imam ma’sum. Ketiga, para Filsuf yang mengklaim diri sebagai ahli logika dengan pembuktian apodeiktik (kebenaran tak terbantahkan).Keempat, kaum sufi yang mengklaim sebagai ahli musyahadah dan mukasyafah.

Dari empat kelompok itu, al-Ghazali memilih kaum sufi, setelah tiga kelompok telah ia lalui dengan perjalanan hidup. Seperti, saat menyandang guru besar di Nidzamiyah, al-Ghazali meluangkan waktu senggang mengajar dan menulis untuk belajar filsafat, tanpa guru pembimbing. Dalam tempo kurang dari dua tahun, al-Ghazali telah menguasai ilmu filsafat. Baik Filsuf Yunani maupun Filsuf Muslim, seperti Sokrates, Plato, Aristoteles, al-Kindi, al-Farabi dan Ibnu Sina. Al-Ghazali merenung sekitar satu tahun, sebelum menyimpulkan kelompok Filsuf mana yang benar dan salah, yang hakiki dan yang palsu.

Al-Ghazali memperjelas, kaum Filsuf terpecah dalam berbagai mazhab dan pemikiran. Kebanyakan dari mereka tidak luput dari ancaman kekufuran dan ateisme, meski diakui ada yang mendekati kebenaran.

Secara garis besar, al-Ghazali membagi kelompok Filosof pada tiga golongan. Pertama, Dahriyyun (ateis), kedua, Thabi’iyyun (naturalis), dan ketiga Ilahiyyun (Ketuhanan).

Kaum Dahriyyun, para Filsuf tidak percaya Sang Maha Pencipta. Mereka menerka, alam ini wujud sendiri, tanpa pencipta. Begitu pula binatang, muncul dari sperma yang keluar dari binatang. Mereka terma suk zindiq atau ateis.

Kedua kaum Thabi’iyyah, yang mengkonsentrasikan diri meneliti alam, tumbuhan dan binatang. Kelompok mengakui Sang Maha pencipta. Hanya saja, mereka berke simpulan susunan tubuh binatang diperlakukan sama pada manusia. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa ruh manusia akan mati bersama matinya jasad, dan tidak mungkin hidup kembali. Mereka termasuk zindiq; sebab tidak percaya pada hari pembalasan, meski percaya kepada Tuhan. Iman yang sebenarnya adalah percaya kepada Tuhan dan hari akhir.

Ketiga, kaum Ilahiyyah. Mereka golongan yang terkemudian dari dua kelompok sebelumnya.

Bersambung…..

* Dosen tinggal di Sumenep

KOMENTAR

1 Komentar

bprs-wtp-matamadura
opd-matamadura

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional