Menu

Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (7)

  Dibaca : 112 kali
Metamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (7)
Sketsa Imam al-Ghazali (Foto/google)
Link Banner

Oleh: Jazuli Muthar*

Husein Nasr dalam buku Tiga Pemikir Islam menyebut Filsafat Isyraqi (illumination) karya seorang Filsuf Muslim Suhrawardi, merupakan bentuk pengetahuan sufisme yang berdasar dari cahaya (Nur). Dan sumber pemikiran isyraqi Suhrawardi, kata Husein Nasr, terbentuk setelah muncul pemikiran sufisme terdahulu, khususnya karya-karya al-Hallaj (858-913 M) dan al-Ghazali (1058-1111 M).

Salah satu karya al-Ghazali, Misykat al-Anwar, menjelaskan adanya hubungan antara nur (cahaya) dengan kapasitas iman, yang tentu memiliki pengaruh terhadap pemikiran illuminasi Suhrawardi.

Suhrawardi melihat Nurullah (cahaya ilahi) dari kacamata filsafat dan sufistik yang tidak jauh beda dengan al-Ghazali dalam menjelaskan tentang Nur al-Anwar (Cahaya Segala Cahaya). Menurut Suhrawardi tingkat intensitas penampakan cahaya tergantung pada tingkat kedekatan subjek dengan Cahaya Segala Cahaya (Nur al-Anwar) yang merupakan sumber segala cahaya. Semakin dekat subjek dengan sumber segala cahaya yang paling sempurna, berarti semakin sempurna cahaya tersebut, begitu pula sebaliknya.

BACA JUGAMetamorfosis al-Ghazali; Dari Filsuf Menuju Sufi (6)

Nur Ilahi dalam pandangan al-Ghazali, dapat terlihat oleh pemilik bashirah (mata hati). al-Ghazali membedakan cara pandang dan pemahaman kaum awwam, kaum khawash, dan kaum khawash al-khawash dalam melihat cahaya Allah Swt. Dalam kitab Misykat al-Anwar, al-Ghazali ingin menjelaskan bahwa para Sufi dalam meraih Makrifatullah melalui metode pancaran cahaya (iluminasi). Sebab, substansi cahaya hanyalah Allah. Sedangkan, cahaya-cahaya lain bersifat majazi.

Yazid al-Busthami, seorang Sufi pencetus faham Ittihad, menilai menusia dekat dengan Allah Swt karena senyawa dengan sumber daya. Sehingga kekuatan sumber daya itulah yang menarik senyawa bisa melangkah lebih dekat. Bahasa lain, objek yang dapat tersinari cahaya karena berposisi dekat dengan sumber cahaya.

Kitab Misykat al-Anwar, al-Ghazali melakukan metode tamsil (perumpamaan). Metode ini sebagai sintesa antara pendekatan tafsir eksoteris dengan tafsir esoteris;antara sufistik dan falsafi.

“Wilayah Cahaya adalah qalbu, ruh dan sirr. Cahaya akan memancar sebagai instrument, wujud adalah hakikat yaqin yang memancar melalui instrumen pengetahuan yang dalam tentang Allah,” begitulah kaum Sufi mentamsil Nur Ilahi.

Kaum Filsuf memandang tingkatan cahaya terkait tingkat kesempurnaan wujud. Realitas alam nyata tersusun dari bentuk cahaya. A Khudori Soleh, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang, menilai teori emanasi Suhrawardi, berdasar; Pertama, gerak menurun dari dataran tinggi ke dataran bawah. Sebagaimana emanasi Cahaya Segala Cahaya. Kedua, peniadaan penciptaan dari semesta tiada, tidak ada ‘pembuat’ dan tidak ada ‘kehendak’ Tuhan. Ketiga, keabadian semesta.Keempat, hubungan abadi antara wujud yang lebih tinggi dengan wujud yang lebih rendah.

Gagasan emanasi Suhrawardi sepintas seirama dengan teori yang dikembangka kaum Neoplatonis.  Suhrawardi mengkombinasikan dua proses sekaligus sebagai ciri khas pemikiran Suhrawardi. Pertama, adanya emanasi dari masing-masing cahaya yang berada di bawah Nur al-Anwar. Cahaya-cahaya ini benar-benar ada dan diperoleh (yahshul) tetapi tidak berbeda dengan Nur al-Anwar kecuali pada tingkat intensitasnya yang menjadi ukuran kesempurnaan.

Cahaya-cahaya itu bercirikan: (1) ada sebagai cahaya abstrak, (2) mempunyai gerak ganda, yaitu ‘mencintai’ (yuhibbuh) serta ‘melihat’ (yusyhiduh) yang di atasnya, dan mengendalikan (yaqharu) serta menyinari (asyraqah) apa yang ada dibawahnya, (3) mempunyai atau mengambil ‘sandaran’ yang mana sandaran ini mengkonsekuensikan sesuatu, seperti ‘zat’ yang disebut barzah, dan mempunyai ‘kondisi’ (hay’ah); zat dan kondisi ini sama-sama berperan sebagai ‘wadah’ bagi cahaya, (4) mempunyai sesuatu semisal ‘kualitas’ atau sifat, yakni kaya (ghani) dalam hubungannya dengan cahaya di bawahnya dan miskin (fakir) dalam kaitannya dengan cahaya di atas. Ketika cahaya pertama melihat Nur al-Anwar dengan dilandasi cinta dan kesamaan, ia memperoleh cahaya abstrak yang lain. Sebaliknya, ketika cahaya pertama melihat kemiskinannya, ia memperoleh ‘zat’ dan ‘kondisi’nya sendiri. Proses ini terus berlanjut, sehingga menjadi bola dan dunia dasar (elementalworld).

Kedua, proses illuminasi dan visi (penglihatan). Ketika cahaya pertama muncul, ia mempunyai visi langsung pada Nur al-Anwar tanpa durasi, dan pada momentum tersendiri Nur al-Anwar menyinarinya sehingga menyalakan cahaya kedua dan zat serta kondisi yang dihubungan dengan cahaya pertama. Cahaya kedua ini, pada proses berikutnya, menerima tiga cahaya sekaligus, yaitu dari Nur al-Anwar secara langsung, dari cahaya pertama dan dari Nur al-Anwar yang tembus lewat cahaya pertama. Proses ini terus berlanjut dengan jumlah cahaya meningkat sesuai dengan urutan dari cahaya pertama. Pengetahuan dalam isyraqi tidak hanya mengandalkan kekuatan intuitif melainkan juga kekuatan rasio. Ia bahkan menggabungkan keduanya, metode intuitif dan diskursif.

Metode intuitif Suhrawardi digunakan untuk meraih segala sesuatu yang tidak tergapai oleh kekuatan rasio sehingga hasilnya merupakan pengetahuan yang tertinggi dan terpercaya, sedang kekuatan rasio digunakan untuk menjelaskan secara logis pengalaman-pengalaman spiritual yang dijalani dalam proses penerimaan limpahan pengetahuan dan kesadaran diri.

Seperti kata al-Ghazali, al-Qur’an menjadi cahaya bagi akal (rasio) untuk menerangi pengetahuan lebih dalam tentang Nur al-Anwar (Cahaya di atas Cahaya)

Bersambung….

* Dosen tinggal di Sumenep

KOMENTAR

1 Komentar

  1. Adiba Rajiyya Rajwa Selasa, 31 Juli 2018
Link Banner
Link Banner Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional