Menu

Mitra Musyawarah Raja Bangkalan; Kiai Bilal, Petapan

  Dibaca : 338 kali
Mitra Musyawarah Raja Bangkalan; Kiai Bilal, Petapan
Pasarean Kiai Bilal di Petapan, Labang, Bangkalan. (Foto/Hasin, Mata Bangkalan)
Link Banner

Desa Petapan, kecamatan Labang, kabupaten Bangkalan memang fenomenal. Sejarah awal desa ini yang menjadi akar penyebabnya. Petapan, sebutan yang mengandung kisah keramat. Paduan dari sejarah dan riwayat-riwayat yang melegenda. Kiai Bilal merupakan salah satu di dalamnya.

Pasarean Kiai Bilal di Petapan, Labang, Bangkalan. (Foto/Hasin, Mata Bangkalan)

Pasarean Kiai Bilal di Petapan, Labang, Bangkalan. (Foto/Hasin, Mata Bangkalan)

MataMaduraNews.ComBANGKALAN-Jalan utama menuju Jembatan Suramadu merupakan pintu masuk pertama menuju desa Petapan. Selanjutnya, untuk sampai ke desa ini, mesti memotong jalan dengan belok ke arah timur. Sekira setengah kilometer.

Ziaroh jejak ulama kali ini kembali wilayah keramat itu. Di dua edisi sebelumnya, Mata Madura telah menurunkan hasil napak tilas ke pasarean Sunan Putromenggolo dan Nyai Selase. Seperti yang telah dijelaskan, asal-usul Petapan erat kaitannya dengan Sunan Putromenggolo bin Sunan Cendana. Petapan, bermakna tempat khalwat atau pertapaan. Yang pertama bertapa di tempat tersebut memang Sunan Putromenggolo: Sang Wali Putra Wali.

Kehadiran Sunan Putromenggolo di Petapan menarik banyak orang untuk membuka kawasan yang dulunya tak terjamah manusia itu. Beberapa keluarga sang Wali juga ikut hijrah ke sini. Seperti Nyai Nur, adik Beliau. Juga beberapa keponakan sang Sunan. Bahkan, tak sedikit dari keluarga besar Sunan Cendana yang ketika wafatnya justru dimakamkan di kompleks pasarean agung Sunan Putromenggolo, meski tidak berdomisili di Petapan. Petapan juga menjadi daerah perdikan atau Mardikan (daerah yang dibebaskan dari pajak). Sunan Putromenggolo disebut sebagai Panembahan Sampang. Panembahan bermakna penguasa Islam. Sedang Sampang merupakan sebutan bagi daerah Madura Barat, sebelum istilah Bangkalan ada. Dengan kata lain, wilayah Bangkalan sekarang dulu satu nama dengan wilayah Sampang sekarang; yaitu sama-sama disebut wilayah Sampang.

Agak panjang sebenarnya jika harus membahas ini. Agar tidak keluar dari konteksnya, kita kembali pada ziaroh jejak ulama edisi saat ini. Seperti yang disebut sebelumnya, beberapa anggota Bani Cendana bermukim dan dimakamkan di Petapan. Salah satu yang cukup menonjol ialah sosok Kiai Bilal. Beliau salah satu keponakan Sunan Putromenggolo yang dikenal banyak memiliki karomah. Beliau juga sering dilibatkan oleh keraton Bangkalan dalam urusan-urusan penting kenegaraan.

“Petapan sejak dulu memang merupakan daerah khusus. Itu tidak lepas dari kharisma Sunan Putromenggolo. Sehingga meski ditinggal beliau, keluarga besar Petapan sangat dihormati oleh penguasa Bangkalan selanjutnya,” kata Lora Yahya atau Bindara Yahya, warga asli Petapan yang saat ini berdomisili di Pamekasan, pada majalah ini.

Menurut Yahya juga, ada tradisi turun-temurun, jika penguasa keraton Bangkalan mengalami permasalahan pelik selalu bermusyawarah dengan keluarga Petapan. Begitu juga dalam pengambilan kebijakan-kebijakan penting.


Congkop Pasarean Kiai Bilal di Petapan, Labang, Bangkalan. (Foto/Hasin, Mata Bangkalan)

Congkop Pasarean Kiai Bilal di Petapan, Labang, Bangkalan. (Foto/Hasin, Mata Bangkalan)

Kiai Bilal adalah putra dari Nyai Nur binti Sunan Cendana. Nyai Nur ini berdomisili di Omben, Sampang. Suami Nyai Nur sekaligus ayah dari Kiai Bilal ialah Kiai Abdullah, Omben.

Menurut catatan Bindara Nurkhalish, yang asalnya dari Petapan, Nyai Nur berputra sekitar sembilan orang. Yaitu Nyai Semoro; Kiai Syarifuddin Karang Leman,atau yang biasa disebut Buju’ Syarif; Kiai Bilal, atau Buju’ Bilal di Petapan; Kiai Surjah; Kiai Langit; Nyai Karang Leman Seppo; Nyai Aroh; Nyai Agung; dan, Nyai Misan. Yang menetap dan dimakamkan di Petapan ialah Kiai Bilal saja.

Ada kisah populer tentang Kiai Bilal hingga saat ini. Kisah itu diceritakan oleh Bindara Yahya. Syahdan, di suatu ketika, raja Bangkalan pada saat itu memiliki perselisihan dengan penguasa kerajaan Bali. Sang raja lantas memanggil Kiai Bilal ke keraton Bangkalan. Pemanggilan tersebut sekaligus untuk menerima titah raja agar Kiai Bilal menuju pulau dewata itu untuk memerangi raja di sana.

“Tapi disuruh berangkat sendirian. Akhirnya Kiai Bilal berangkat ke pinggir pantai. Namun tidak disebutkan atau tidak jelas pantai di mana. Di sana beliau mencari perahu yang bisa dinaiki menuju Bali,” kata Bindara Yahya.

Setelah menunggu sekian lama, ternyata tidak ada satu pun perahu pada saat itu yang mau berlayar. Akhirnya Kiai Bilal mencari pohon pisang dan mengambil daunnya. Daun itu kemudian epenco’ (dibentuk seperti kerucut,) dan sang Wali lantas menaiki daun pisang tersebut. Ajaib, dengan ijin Allah daun pisang itu melaju kencang membawa tubuh Kiai Bilal hingga sampai ke pulau Bali.

“Kiai Bilal langsung menuju kerajaan yang menjadi seteru raja Bangkalan. Nah, ketika bertemu raja Bali itu, Kiai Bilal mengutarakan maksudnya untuk menaklukkan kerajaan tersebut. Saat itu langsung adu kesaktian, namun pada akhirnya raja Bali kalah, dan kepalanya dipotong oleh Kiai Bilal dengan tangannya untuk dibawa sebagai bukti kepada raja Bangkalan,” imbuh Yahya.

Setelah itu, Kiai Bilal pulang ke Bangkalan dengan menaiki daun pisang yang sebelumnya beliau gunakan sejak dari pantai Bangkalan. Singkat cerita, setelah sampai di keraton Bangkalan, sang Kiai langsung memperlihatkan kepala raja Bali kepada raja Bangkalan. Setelah yakin bahwa itu kepala raja Bali, sang raja Bangkalan berkata kepada Kiai Bilal.

“Wahai Kiai Bilal, anda minta hadiah apa dari saya?”.

Kiai Bilal langsung memukulkan telapak tangan kanan beliau ke salah satu tiang keraton, seraya berkata, “selama bekas telapak tangan saya ini masih ada, maka semua keturunan saya bila ada urusan dengan kerajaan, maka bebaskanlah”.

Tapi sayang bekas telapak tangan Kiai Bilal sekarang tidak ada lagi. Entah di mana tiang yang dulu ada bekas tangan sang kiai itu. Yang jelas kemungkinan besar itu hilang saat bangunan keraton Bangkalan diratakan dengan tanah. Kejadian itu juga tidak jelas di masa siapa. Namun jika menilik masa hidup Kiai Bilal, kemungkinan itu terjadi di masa setelah Cakraningrat ke-I dan ke-II. Yaitu di kurun 1700-an Masehi.

“Dan ada pesan turun-temurun, tujuh turun dari Kiai Bilal tidak boleh makan menggunakan daun pisang yang dipenco’. Konon, dimaksudkan untuk menghargai karunia Allah berupa karomah yang diberikan kepada Kiai Bilal,” kata Bindara Yahya.

Hingga saat ini, haul Kiai Bilal selalu diperingati bersamaan dengan haul Akbar Sunan Putromenggolo setiap tahunnya. Pasarean Kiai Bilal di luar kompleks pasarean Agung Sunan Putromenggolo. Jika pasarean Sunan Putromenggolo di utara sumber mata air keramat Petapan, pasarean Kiai Bilal di selatan sumber.

Ada lagi kejadian aneh di pasarean Kiai Bilal, seperti yang disebut Bindara Yahya. Kejadian ini juga terjadi di pasarean paman beliau, Sunan Putromenggolo. “Salah satu karomah Sunan Putromenggolo dan Kiai Bilal yang juga masih terasa hingga saat ini ialah, walau gelap gulita di malam hari tanpa satu pun penerangan, tapi kalau sudah masuk congkop beliau berdua, tidak merasakan kegelapan. Bahkan peziaroh tetap bisa membaca mushaf al-Quran dengan jelas,” tutup Yahya.

R B M Farhan Muzammily, Mata Madura


 

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional