Nia Kurnia Fauzi, Berpacu Karena Dipercaya

Nia Kurnia Fauzi, istri Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi. (Foto Dok. Mata Madura)
Nia Kurnia Fauzi, istri Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi.
(Foto Dok. Mata Madura)

MataMaduraNews.comSUMENEP – Beradaptasi dengan lingkungan baru tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi dengan seabrek aktivitas yang menanti sejak membuka mata di pagi hari. Meski memang sudah kental dengan ranah publik, namun posisi sebagai ibu wakil bupati atau kepala daerah jelas lain ceritanya. Sosoknya tak hanya menuntut harus bisa bergaul dengan segenap masyarakat luas, namun yang utama ialah mampu menjadi teladan yang baik.

Namun bagi Nia Fauzi, hal itu bukanlah perkara yang teramat berat. Walau ia sejatinya bukanlah wanita asli tanah Jokotole. Salah satu prinsip utama yang dipegang mantan santriwati itu ialah selalu berbenah menjadi lebih baik setiap harinya. ”Karena sebaik-baik manusia ialah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain,” katanya di sebuah kesempatan.

Meski pendatang baru, sosok Nia memang cukup populer di Sumenep. Tak ayal ia dirasa sebagian pihak patut dijadikan contoh dan diapresiasi. Ia juga dijadikan sosok seorang perempuan yang penuh inspiratif bagi kalangan muda. Bahkan Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Sumenep tersebut memiliki banyak terobosan yang mengarah pada perbaikan kualitas hidup masyarakat. Di bidang pendidikan misalnya, alumni pesantren Gontor itu memiliki perhatian berlebih.

Ketika ditanya alasannya, ia menjawab singkat dan padat: karena pendidikan merupakan indikator utama kemajuan suatu daerah. Salah satu alasan yang mendukung pernyataannya itu ialah, karena dengan pendidikanlah segala sektor akan berkembang untuk menunjang masa depan yang cerah.

Bahkan, guna memajukan dunia pendidikan, perempuan berparas cantik tersebut, terus meluncurkan beberapa program pendidikan. Mulai beberapa waktu yang lalu dirinya juga dipercaya sebagai Ketua Pengelola Rumah Pintar di Songennep.

Tidak hanya itu saja, Ketua Pengelola PAUD pintar itu tak jarang mengajak orang tua siswa atau wali murid dan seluruh lapisan masyarakat untuk memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Seperti misalnya berbicara sopan di hadapan anak-anak. Karena otak anak usia dini disebutnya masih sangat tajam dan memiliki memori yang kuat, sehingga baik atau buruk bisa terserap. ”Tentu tidak kita inginkan (bersikap tak sopan; red) jika hal itu nantinya akan diikuti oleh anak-anak kita kelak,” katanya, beberapa waktu lalu.

Concern-nya Nia di ranah pendidikan ini membuat wanita yang juga alumni pesantren terbesar di Padegelang, Banten, itu diganjar dengan penghargaan sebagai satu satunya tokoh terpopuler di dunia pendidikan dalam pemilihan Madura Award tahun lalu. ”Penghargaan itu sejatinya kepercayaan. Dan itu tentunya menjadi acuan untuk berusaha lebih baik ke depan,” katanya.

| farhan

Tinggalkan Balasan